Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Berani Digitalisasi, Jurus Sari Tembus Pasar Brownies dan Kue Kering

Brownies produksi Sari. Dokumentasi IDN Times
Brownies produksi Sari. Dokumentasi IDN Times

Sidoarjo, IDN Times - Memulai bisnis di era digital memang tak mudah bagi perempuan seusia Sarifatus Sa'diyah. Perempuan yang biasa disapa Sari ini justru baru memulai bisnis brownies dan kue kering alias cookies di usianya yang hampir setengah abad. Ia sadar jika tak mengikuti perkembangan zaman, maka produknya hanya akan jadi pajangan. Itulah kenapa Sari akhirnya memilih nekat meski buta soal platform digital.

Sari sendiri mengaku baru merintis usahanya sejak 2019. “Setelah bekerja 12 tahun di perusahaan pelayaran saya resign. Tapi setelah itu banyak bengongnya. Padahal kan saya biasa pegang duit sendiri, akhirnya iseng bikin kue kering,” ujar Sari membuka percakapan dengan IDN Times, Kamis (25/5/2023).

Seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lain, Sari hanya mengandalkan pemasaran melalui WhatsaApp. Namun, tanpa disangka, percobaan pertamanya malah mendapat respons positif. Ia langsung dibanjiri pesanan, 50 toples ludes oleh para kolega dan kerabat. 

Namun, hasil itu tak membuatnya jemawa. Sebaliknya, ia justru mencari cara agar produknya lebih banyak dikenal, terutama di luar keluarga dan temannya. “Jawabannya adalah digitalisasi,” ujarnya. Masalahnya, Sari bukan orang yang benar-benar mafhum soal penggunaan platform digital. Ia lalu mengikuti berbagai pelatihan yang digelar oleh Dinas Koperasi Sidoarjo hingga Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dari pelatihan-pelatihan itu ia mendapatkan pemahaman bahwa digitalisasi tak bisa sembarang dilakukan. Ketimbang memaksakan mengelola media sosialnya sendiri, Sari memilih meggandeng content creator untuk mengurusi pemasaran digital produknya. “Saya ditawari sebulan delapan konten. Soalnya kalau gak dipasarkan kaya gitu banyak yang gak tahu, Sedangkan seumuran saya kan udah gak bisa,” ujarnya.

Langkah ini terbilang berani, sebab produksi kue kering dan brownies milik Sari saat itu belum banyak. Untuk melanggengkan bisnisnya Sari bahkan mengurus berbagai perizinan usaha “Saya beranikan diri urus izin Pelaku Industri Rumah Tangga (PIRT). Padahal saat itu hanya berproduksi pas puasa saja,” ujarnya. Kini, produk Sari bahkan sudah memiliki izin halal dan merek dagang. “Saya ini orangnya harus berani dulu, pokoknya maju dulu.”

Perlahan tapi pasti, langkah beraninya mulai membuahkan hasil. Kue kering dan brownies bikinannya makin banyak dikenal. Bahkan, Sari kini memproduksi lebih dari 10 varian kue kering, mulai lidah kucing, nastar, kastengel hingga palm cake. Namun, diakui Sari, digitalisasi bukannya tanpa kendala. 

“Digitalisasi juga bikin saingan makin banyak. Banyak yang menurunkan harga tapi mengesampingkan kualitas. Saya mending harganya tetap, atau bahkan naik yang penting kualitas terjaga. Toh kalau konsumen sudah tahu produk kita, harga gak akan jadi masalah.”

Kegigihan para mitra binaan dalam hal digitalisasi juga didukung penuh oleh BRI. Bank plat merah ini menyiapkan berbagai edukasi, pendampingan, infrastruktur dan branding serta promosi bagi pelaku usaha. 

“Untuk ekosistem pasar misalnya, Bank BRI membantu pasar tradisional dengan memperkenalkan belanja online, baik melalui WhatsApp, website, mobile apps, maupun Kerjasama dengan startup,” ujar Direktur Utama Bank BRI, Sunarso, dalam keterangan resminya. 

Selain itu, lanjut Sunarso, BRI telah menggandeng sejumlah perusahaan e-commerce untuk pembiayaan KUR kepada merchant atau mitra mereka. “Kami terus melanjutkan tranformasi bisnis, baik aspek digital dan budaya. Digital sudah menjadi DNA Bank BRI. Kami juga telah mengadopsi open banking dan membuka kemungkinan pemanfaatan teknologi blockchain untuk mendukung proses bisnis.”

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us