Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konser Imlek Rumah Kecapi Tampilkan Musik Tradisional Tiongkok

Konser Imlek Rumah Kecapi Tampilkan Musik Tradisional Tiongkok
Foto Sejumlah Pemain Tampil Memainkan Alat Musik Tradisional Tiongkok saat Konser Imlek oleh Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)
Intinya Sih
  • Konser Imlek Rumah Kecapi di Pakuwon Mall Surabaya menampilkan musik tradisional Tiongkok dengan 86 pemain, memperkenalkan alat seperti guzheng, pipa, erhu, dan hulusi kepada publik.
  • Para murid dari berbagai usia membawakan lagu tradisional hingga modern menggunakan instrumen khas Tiongkok, menghadirkan nuansa baru yang lebih dekat dengan generasi muda.
  • Kegiatan ini menjadi ajang tahunan Rumah Kecapi untuk melestarikan budaya dan mengenalkan musik tradisional melalui ruang publik agar lebih dikenal masyarakat luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Suasana Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya tampak berbeda pada Sabtu (21/2/2026). Alunan musik tradisional Tiongkok terdengar mengisi area mall lewat konser yang digelar oleh Rumah Kecapi dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek.

Konser ini menjadi bagian dari agenda tahunan Rumah Kecapi dalam merayakan Imlek sekaligus memperkenalkan musik tradisional Tiongkok kepada masyarakat luas. Tidak hanya lagu Mandarin, sejumlah lagu modern hingga lagu populer juga dibawakan menggunakan alat musik tradisional seperti guzheng, pipa, erhu, dan hulusi. Total ada 86 pemain yang tampil memeriahkan konser ini.

Pendiri Rumah Kecapi, Olivia Lin, menjelaskan bahwa konser ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang selalu digelar setiap tahun.

“Rumah Kecapi itu kursus musik, jadi setiap tahun kami punya annual concert. Biasanya ada beberapa momen seperti Chinese New Year, Agustusan, dan akhir tahun. Nah konser ini adalah konser besar pertama kami di tahun ini,” ujarnya.

1. Menampilkan Beragam Alat Musik Tradisional Tiongkok

Foto Kolaborasi antar Alat Musik
Foto Kolaborasi antar Alat Musik (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)

Konser yang digelar oleh Rumah Kecapi ini menampilkan berbagai alat musik tradisional Tiongkok yang jarang ditemui dalam pertunjukan lainnya. Beberapa instrumen yang dimainkan antara lain guzheng atau kecapi Tiongkok, pipa yang bentuknya menyerupai gitar, erhu yang sering disebut sebagai biola khas Tiongkok, serta hulusi yang merupakan alat musik tiup dengan suara lembut.

Setiap instrumen memiliki karakter suara yang berbeda. Dalam konser ini, beberapa lagu bahkan dimainkan secara khusus oleh satu jenis instrumen saja sehingga penonton bisa lebih fokus menikmati warna suara dari masing-masing alat musik.

Konsep tersebut menjadi salah satu pembeda dari konser tahun-tahun sebelumnya yang biasanya menampilkan lebih banyak kolaborasi antar alat musik.

2. Alat Musik Tradisional Tampilkan Warna Baru

Foto Sejumlah Pemain Tampil Memainkan Alat Musik Tradisional Tiongkok saat Konser Imlek oleh Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya
Foto Sejumlah Pemain Tampil Memainkan Alat Musik Tradisional Tiongkok saat Konser Imlek oleh Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)

Pada konser kali ini, para murid dari Rumah Kecapi menampilkan berbagai komposisi musik dengan konsep yang sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya banyak kolaborasi antar alat musik, kali ini beberapa lagu justru dibawakan secara khusus oleh satu jenis instrumen.

Beberapa penampilan bahkan dimainkan oleh tim yang seluruhnya menggunakan erhu, alat musik gesek tradisional Tiongkok yang sering disebut sebagai “Biola Tiongkok”. Permainan erhu menghasilkan suara yang lembut, sehingga cocok untuk mengiringi lagu-lagu bernuansa mellow.

Selain erhu, konser juga menghadirkan permainan guzheng atau kecapi Tiongkok, pipa yang bentuknya menyerupai gitar, serta hulusi yang merupakan alat musik tiup khas etnis di Tiongkok.

Menariknya, lagu yang dibawakan dalam konser ini tidak hanya terbatas pada lagu-lagu tradisional. Para penampil juga memainkan beberapa lagu populer dan modern, sehingga alat musik tradisional tersebut terasa lebih dekat dengan selera generasi muda.

Guru pipa di Rumah Kecapi, Stephanie Indrawati, mengatakan bahwa setiap alat musik memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang berbeda. Pipa misalnya, membutuhkan koordinasi tangan yang cukup kuat karena teknik petikan dan posisi jari.

“Untuk pipa biasanya lebih optimal dimainkan mulai usia sekitar kelas lima atau enam SD karena alatnya cukup berat dan membutuhkan kekuatan tangan yang lebih stabil,” jelasnya.

3. Murid berasal dari berbagai usia

Foto Seluruh Pemain Musik Dalam Konser Rumah Kecapi
Foto Seluruh Pemain Musik Dalam Konser Rumah Kecapi (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)

Salah satu hal menarik dari konser ini adalah keberagaman usia para penampil. Beberapa murid bahkan masih berusia sangat muda, sementara sebagian lainnya sudah berusia lanjut.

Menurut Olivia, saat ini murid di Rumah Kecapi memiliki rentang usia yang sangat luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Yang paling kecil sekitar usia empat tahun, bahkan ada juga yang sudah di atas 60 tahun. Jadi sebenarnya belajar musik ini tidak ada batasan umur,” katanya.

Konser ini sekaligus menjadi ruang bagi para murid untuk menampilkan hasil latihan mereka di depan publik. Beberapa di antaranya bahkan sudah tampil di berbagai acara publik seperti pusat perbelanjaan hingga acara kebudayaan.

4. Tantangan mengajarkan musik tradisional

Foto Sejumlah Anak Tampil Memainkan Alat Musik Tradisional Tiongkok saat Konser Imlek oleh Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya
Foto Sejumlah Anak Tampil Memainkan Alat Musik Tradisional Tiongkok saat Konser Imlek oleh Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)

Di era modern seperti sekarang, mengajarkan alat musik tradisional memiliki tantangan tersendiri. Banyak orang masih menganggap musik tradisional identik dengan sesuatu yang kuno atau hanya dimainkan oleh kalangan tertentu.

Padahal menurut guru erhu, Calvin Putra, alat musik tradisional justru bisa dimainkan dengan berbagai jenis lagu, termasuk lagu modern.

“Tantangannya biasanya karena orang menganggap musik tradisional itu kuno. Padahal sebenarnya bisa dimainkan dengan lagu apa saja, bahkan lagu modern sekalipun,” ujarnya.

Selain itu, tantangan lain muncul ketika mengajar anak-anak yang masih sangat muda. Guru erhu, Calvin Putra, menyatakan bahwa konsentrasi mereka yang terbatas membuat proses belajar harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyenangkan.

Olivia Lin, pendiri Rumah Kecapi menyebut bahwa pemilihan lagu juga disesuaikan dengan usia murid.

“Kalau anak-anak biasanya dipilihkan lagu yang lebih ceria supaya mereka lebih semangat belajar. Sedangkan untuk orang dewasa biasanya lagu yang lebih kalem,” katanya.

5. Kenalkan budaya lewat ruang publik

Foto Konser Imlek Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya
Foto Konser Imlek Rumah Kecapi di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya (IDN Times/Gabriella Leony Navtalie)

Pemilihan lokasi konser di pusat perbelanjaan bukan tanpa alasan. Penampilan di ruang publik menjadi cara untuk mengubah stigma masyarakat terhadap musik tradisional. “Masih banyak orang yang menganggap musik tradisional identik dengan sesuatu yang kuno atau hanya dimainkan oleh kalangan tertentu. Padahal, alat musik ini bisa dimainkan dengan berbagai jenis lagu dan tetap terdengar menarik bagi generasi sekarang,” ujarnya.

Selain itu, menurut pendiri Rumah Kecapi, Olivia Lin, tampil di ruang publik seperti mal dapat membuat lebih banyak orang mengenal alat musik tradisional Tiongkok yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka lihat secara langsung. “Harapannya orang yang mungkin belum pernah melihat alat musik seperti ini bisa jadi tahu dan tertarik. Jadi selain menghibur, kami juga ingin memperkenalkan kebudayaan,” katanya.

Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut, tidak hanya untuk menghibur pengunjung, tetapi juga menjadi cara memperkenalkan budaya sekaligus menjaga keberlangsungan musik tradisional di tengah perkembangan zaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest Travel Jawa Timur

See More