Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Klenteng Hok Sian Kiong Mojokerto, Penuh Sejarah

Ilustrasi lampion saat Imlek
Ilustrasi lampion saat Imlek (pexels.com/motomoto sc)
Intinya sih...
  • Klenteng Hok Sian Kiong Mojokerto berdiri sejak 1823 sebagai tempat ibadah Tri Dharma yang penting bagi komunitas Tionghoa setempat.
  • Nama "Hok Sian Kiong" memiliki makna filosofis yang mencerminkan harapan akan kehidupan sejahtera dan harmonis.
  • Klenteng ini kembali aktif setelah tahun 2000, menjadi simbol toleransi dan harmoni lintas agama di Indonesia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Klenteng Hok Sian Kiong Mojokerto bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga bagian penting dari jejak sejarah dan budaya Tionghoa di Jawa Timur. Di tengah perkembangan kota, klenteng ini tetap berdiri sebagai simbol spiritual, sosial, sekaligus, ruang perjumpaan lintas budaya.

Banyak orang mengenalnya sebagai tempat ibadah Tri Dharma, namun tidak semua tahu kisah panjang di baliknya. Berikut tujuh fakta menarik yang membuat klenteng ini layak dikenal lebih luas, terutama bagi kamu yang tertarik pada sejarah lokal dan wisata religi di Mojokerto.

1. Klenteng Hok Sian Kiong Mojokerto berdiri sejak 1823

Ilustrasi bangunan depan klenteng bergaya arsitektur Tionghoa
Ilustrasi bangunan depan klenteng bergaya arsitektur Tionghoa (pexels.com/Mingchiho Fong)

Klenteng Hok Sian Kiong tercatat sudah digunakan sebagai tempat ibadah sejak tahun 1823 pada masa kolonial. Keberadaanya dibuktikan melalui catatan donasi dan prasasti pembangunan yang menunjukkan aktivitas keagamaan telah berlangsung sejak abad ke-19. Hal ini menjadikannya salah satu klenteng tua di wilayah Mojokerto.

Keberlanjutan fungsi ibadah selama ratusan tahun menunjukkan bahwa klenteng ini memiliki peran penting bagi komunitas Tionghoa setempat. Tidak banyak bangunan ibadah yang mampu bertahan lintas generasi dengan fungsi yang tetap hidup. Dari sisi sejarah lokal, klenteng ini menjadi saksi perkembangan masyarakat Mojokerto dari masa kolonial hingga kini.

2. Nama Klenteng sarat makna filosofis

Ilustrasi ornamen tulisan Tionghoa di area klenteng
Ilustrasi ornamen tulisan Tionghoa di area klenteng (freepik.com/freepik)

Nama "Hok Sian Kiong" tidak dipilih secara sembarangan. Kata "Hok" dimaknai sebagai keberuntungan atau kesejahteraan. "Sian" merujuk pada kebaikan serta kedamaian hidup, sementara "Kiong" berarti istana atau tempat ibadah.

Gabungan makna tersebut mencerminkan harapan umat akan kehidupan yang sejahtera dan harmonis. Penamaan klenteng dalam tradisi Tionghoa memang sering memuat doa dan nilai filosofis. Ini menunjukkan bahwa klenteng buka hanya ruang fisik, tetapi juga ruang simboblik yang menyimpan harapan spiritual.

3. Menjadi tempat ibadah Tri Dharma

Ilustrasi area altar dengan hiasan dupa dan lilin
Ilustrasi area altar dengan hiasan dupa dan lilin (pexels.com/Matthew Jesús)

Klenteng ini dikenal sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma. Artinya, klenteng digunakan oleh penganut Buddha, Tao, dan Konghucu. Di dalamnya terdapat altar serta patung dewa-dewi dari ketiga ajaran tersebut.

Keberadaan altar dari berbagai ajaran menunjukkan praktik keberagaman dalam satu ruang ibadah. Bagi pengunjung, ini juga menjadi sarana belajar tentang tradisi spiritual Tionghoa. Tidak heran jika klenteng sering dikunjungi tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk mengenal budaya.

4. Pernah mengalami pembatasan di era Orde Baru

Ilustrasi klenteng bernuansa merah emas
Ilustrasi klenteng bernuansa merah emas (pexels.com/Peter Xie)

Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia mengalami pembatasan. Aktivitas keagamaan dan perayaan budaya di klenteng juga terdampak kebijakan politik saat itu. Perayaan dilakukan lebih tertutup dan terbatas.

Situasi ini menjadi bagian penting dari sejarah komunitas Tionghoa di Indonesia. Klenteng tetap bertahan meski ruang ekspresi menyempit. Dari sudut pandang sejarah sosial, periode ini menunjukkan dinamika hubungan negara dan budaya minoritas.

5. Kembali aktif setelah tahun 2000

Ilustrasi hiasan lampion saat perayaan imlek
Ilustrasi hiasan lampion saat perayaan imlek (freepik.com/victor217)

Perubahan besar terjadi setelah Keppres No. 6 Tahun 2000 yang mencabut pembatasan budaya Tionghoa. Sejak saat itu, klenteng kembali aktif menggelar perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ceng Beng secara terbuka. Aktivitas ibadah dan budaya kembali semarak.

Kebangkitan ini tidak hanya bermakna religius, tetapi juga kultural. Masyarakat luas mulai kembali mengenal tradisi Tionghoa sebagai bagian dari keragaman Indonesia. Klenteng pun menjadi ruang perayaan budaya yang lebih inklusif.

6. Memiliki fungsi sosial yang kuat

Ilustrasi kegiatan sosial komunitas di area klenteng
Ilustrasi kegiatan sosial komunitas di area klenteng (freepik.com/freepik)

Klenteng Hok Sian Kiong juga aktif dalam kegiatan sosial. Kegiatannya meliputi pembagian sembako, donor darah, bantuan bencana, hingga santunan. Kegiatan ini sering melibatkan masyarakat lintas agama.

Peran sosial tersebut memperlihatkan bahwa klenteng tidak eksklusif untuk satu kelompok saja. Nilai kemanusiaan menjadi titik temu antarwarga. Dari sisi sosial, klenteng berfungsi sebagai penguat solidaritas di Mojokerto.

7. Simbol toleransi dan harmoni lintas agama

Ilustrasi pertunjukan barongsai dalam perayaan budaya
Ilustrasi pertunjukan barongsai dalam perayaan budaya (pexels.com/HONG SON)

Berbagai kegiatan budaya seperti kirab Tri Dharma dan pertunjukkan barongsai melibatkan banyak pihak. Gotong royong lintas agama juga kerap terjadi dalam kegiatan klenteng. Hal ini memperlihatkan interaksi budaya yang harmonis.

Klenteng menjadi ruang perjumpaan antara etnis Tionghoa dan masyarakat lokal. Dalam konteks keberagaman Indonesia, keberadaan klenteng ini menjadi contoh praktik toleransi nyata. Nilai harmoni inilah yang membuatnya penting secara sosial dan budaya.

Klenteng Hok Sian Kiong berlokasi di Jl. PB Sudirman No. 1, Mergelo, Sentanan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto dan masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Klenteng ini menyimpan lebih dari sekadar fungsi religius, tetapi juga merekam sejarah panjang, nilai filosofis, serta praktik toleransi yang tetap relevan sampai sekarang.

Jika kamu tertarik pada sejarah lokal atau wisata religi di Mojokerto, tempat ini bisa menjadi salah satu destinasi yang memberi perspektif baru tentang keberagaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
IDN Times Hyperlocal
Faiz Nashrillah
IDN Times Hyperlocal
EditorIDN Times Hyperlocal
Follow Us

Latest Travel Jawa Timur

See More

7 Fakta Klenteng Hok Sian Kiong Mojokerto, Penuh Sejarah

16 Feb 2026, 07:02 WIBTravel