Menelusuri Klenteng Hwie Ing Kiong, 5 Hal Unik yang Harus Kamu Tahu!

- Klenteng Hwie Ing Kiong berdiri sejak 1887, menjadi pusat ibadah umat Konghucu di Madiun dan destinasi wisata religi.
- Klenteng ini pernah dipindahkan lokasi karena risiko banjir, kini menaungi tiga ajaran sekaligus: Ruis (Konghucu), Buddha, dan Tao.
- Arsitektur klenteng kental dengan gaya Tiongkok kuno, melibatkan pekerja dan arsitek dari Fujian serta memiliki cerita unik tentang Residen Belanda.
Menjelang Hari Raya Imlek, umat Konghucu maupun masyarakat Tionghoa disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut perayaan tersebut. Secara umum, mereka menyiapkan perlengkapan ibadah serta melakukan serangkaian ritual sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan. Bahkan, seminggu sebelum Imlek, umat Konghucu sudah mulai mendatangi klenteng untuk beribadah. Klenteng menjadi tempat yang sakral karena di sanalah seluruh rangkaian ibadah dilaksanakan.
Salah satu klenteng tertua di Jawa Timur adalah Klenteng Hwie Ing Kiong, yang menjadi pusat kegiatan ibadah umat Konghucu di wilayah Madiun. Klenteng yang berlokasi di Jalan Cokroaminoto No. 69, Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan budaya Tionghoa di Jawa Timur. Berikut 5 hal unik tentang Klenteng Hwie Ing Kiong:
1. Berdiri sejak tahun 1887

Klenteng Hwie Ing Kiong merupakan bangunan yang berdiri sejak masa penjajahan kolonial Belanda. Pembangunannya dimulai pada tahun 1887 dan diperkirakan rampung sekitar tahun 1897. Klenteng ini didirikan atas inisiasi Kapten Liem Koen Tie, tokoh yang menjadi pemimpin masyarakat Tionghoa di Madiun pada masa itu. Awalnya, klenteng dibangun di sebelah timur Sungai Madiun, tepatnya di dekat jembatan lama Madiun.
Nama Hwie Ing Kiong oleh masyarakat Tionghoa dimaknai sebagai “Istana Kesejahteraan yang Mulia.” Sejak dahulu hingga kini, klenteng ini konsisten menjadi pusat ibadah umat Konghucu di wilayah Madiun dan sekitarnya, sehingga hampir tidak pernah sepi dari kehadiran umat. Dengan arsitektur khas Tionghoa kuno yang masih terjaga, klenteng ini juga berkembang menjadi destinasi wisata religi yang kerap dikunjungi wisatawan, termasuk dari mancanegara.
2. Pernah berpindah lokasi

Awalnya, Klenteng Hwie Ing Kiong dibangun di sebelah timur Sungai Madiun. Namun, tidak lama kemudian klenteng tersebut dibongkar dan dipindahkan ke Jalan HOS Cokroaminoto, lokasi yang digunakan hingga sekarang. Pemindahan ini terjadi setelah Residen Belanda saat itu menghadiahkan sebidang tanah di kawasan tersebut agar bangunan klenteng terhindar dari risiko banjir.
Kondisi lokasi lama yang berada sangat dekat dengan aliran Kali Madiun membuat bangunan rawan terdampak banjir. Dengan adanya lahan baru yang lebih aman, klenteng kemudian dibangun ulang dengan arsitektur yang lebih kental menampilkan ciri khas Tiongkok yang autentik.
Pemilihan lokasi di Jalan HOS Cokroaminoto juga bukan tanpa pertimbangan. Di kawasan tersebut telah berkembang permukiman Pecinan yang diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1740. Persebaran komunitas Tionghoa meliputi sepanjang Jalan Haji Agus Salim, Jalan Kutai, Jalan Barito, hingga sebagian Jalan Cokroaminoto. Lingkungan yang telah menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya masyarakat Tionghoa inilah yang kemudian menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi paling tepat untuk pembangunan kembali Klenteng Hwie Ing Kiong.
3. Tempat Ibadah yang menaungi tiga ajaran

Seiring berjalannya waktu, Klenteng Hwie Ing Kiong tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Konghucu. Oleh masyarakat Tionghoa di Madiun, klenteng ini kini dikenal sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma karena menaungi tiga ajaran sekaligus, yakni Ruis (Konghucu), Buddha, dan Tao.
Klenteng ini kemudian dikenal sebagai tempat yang terbuka dan tidak diskriminatif. Sebagai tempat bersejarah, Klenteng Hwie Ing Kiong juga terbuka jika ada turis dari berbagai latar belakang mengunjungi tempat ini. Dan memang banyak wisatawan yang berkunjung hampir setiap hari. Namun, menjelang perayaan Imlek seperti saat ini, aktivitas klenteng difokuskan untuk ibadah umat sehingga kunjungan umum kemungkinan dibatasi atau tidak dibuka seperti biasanya.
4. Ada sebuah cerita tentang residen Belanda

Ada satu lagi cerita yang berkembang di Klenteng ini. Menurut masyarakat zaman dahulu ketika Klenteng ini belum resmi dipindahkan, ada cerita di balik persetujuan Residen Belanda saat itu. Konon waktu itu, istri Residen tengah mengalami sakit parah yang tak berkesudahan. Para dokter sudah didatangkan tetapi tak tetap saja sang istri tak kunjung sembuh. Salah satu dokter mengatakan agar sang istri dibawa ke Belanda agar mendapatkan perawatan yang intensif. Namun, karena jarak yang tidak dekat niat tersebut diurungkan.
Suatu ketika, kabar mengenai istri Residen terdengar oleh Liem Koen Tie yang saat itu menjadi pengurus Klenteng. Kemudian ia datang ke Residen dan menyarankan agar sang istri dibawa ke Klenteng untuk melakukan pengobatan ala Tiongkok. Saran tersebut disetujui. Dibawalah istri Residen untuk diobati. Tak lama istri Residen sembuh seperti sedia kala.
Sang Residen amat sangat gembira akan hal itu. Sebagai hadiah atas kesembuhan istrinya, Residen Belanda memberikan sebidang tanah seluas kurang lebih 10.000 meter persegi. Tanah tersebut digunakan untuk memindahkan Klenteng ke lokasi yang lebih aman dari ancaman banjir, sekaligus menjadi tempat berdirinya Klenteng Hwie Ing Kiong yang ada hingga sekarang.
5. Arsitektur bangunan yang khas

Keunikan lain dari Klenteng Hwie Ing Kiong terletak pada arsitekturnya yang kental dengan gaya Tiongkok kuno. Konon, proses pembangunannya melibatkan pekerja dan arsitek yang didatangkan langsung dari Fujian. Material bangunannya pun banyak diimpor dari daerah tersebut, mulai dari ubin merah, keramik, ornamen hias, hingga batu-batu alam. Meski telah berdiri lebih dari satu abad dan beberapa kali mengalami renovasi, bangunan klenteng ini tetap kokoh.
Ciri khasnya terlihat pada empat pilar naga yang menjadi penyangga utama bangunan, serta pagoda tiga lantai yang terletak di bagian belakang. Di dalam pagoda tersebut terdapat tiga altar: lantai pertama dan kedua digunakan sebagai sarana peribadatan umat Buddha, sedangkan lantai ketiga diperuntukkan bagi umat Tao. Selain itu, di berbagai bagian dinding klenteng juga terdapat lukisan serta patung dewa-dewi yang berkaitan dengan tradisi Konghucu.
Dengan kekayaan arsitektur, nilai filosofis, dan sejarah yang panjang, Klenteng Hwie Ing Kiong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai situs bersejarah yang merekam perjalanan budaya Tionghoa di Madiun. Tempat ini menjadi ruang spiritual sekaligus warisan budaya yang menarik untuk dikunjungi.


















