Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Saat Semua Berjibaku Tangani Sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya
petugas
  • Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai di Kali Tebu Surabaya digagas UNDP bersama KLH, Pemkot, dan LSM untuk mencegah kebocoran sampah plastik menuju laut.
  • Setiap hari sekitar satu ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu dan Kali Mrutu, kemudian dipilah di TPS 3R menjadi kompos, bahan jualan, atau dibawa ke TPA Benowo.
  • Program ini tak hanya membersihkan sungai tapi juga mengedukasi warga agar sadar lingkungan serta menciptakan peluang ekonomi baru lewat pengelolaan dan daur ulang sampah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Bau menyengat tercium sedari kejahuan, bercampur dengan udara berpolusi Kota Pahlawan. Di balik aroma menusuk dada itu, hamparan sampah nampak terperangkap trash boom memenuhi sungai Kali Tebu Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Kantong plastik warna-warni, botol bekas, stereofom, kaleng dan barang-barang rumah tangga yang mengapung rapat saling mengunci menutup permukaan air. Sungai berubah menjadi daratan.

Di tengah teriknya Kota Surabaya, sekelompok petugas berseragam kaos warna hijau berjibaku menangani masalah perkotaan ini. Mereka sibuk mengangkut sampah-sampah dari permukaan sungai ke daratan.

Sampa yang basah oleh air sungai itu dimasukkan dalam karung kemudian ditiriskan. Saat sampah-sampah ini sudah mulai mengering, petugas menimbang satu persatu karung sampah kemudian di angkut di dalam bak mobil.

Apa yang dilakukan petugas ini merupakan Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai, yang digagas United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan Persyarikatan Bangsa-bangsa (PBB) berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementian Kordinator Bidang Pangan (kemenko Pangan), Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Plastik Laut (TKN PSL), Pemerintah Kota Surabaya, LSM Ecoton dan Lohjinawi. Surabaya dipilih sebagai pilot projek program tersebut.

Ketua Ecoton Daru Setyorini mengatakan, ini merupakan projek Mission for Zero Plastic Leakage (The Mozaik Project). Yakni program mencegah kebocoran sampah sampai ke laut.

"Kami memasang satu pencegat sampah di sungai supaya tidak masuk ke laut. Setelah dipasang pencegat ini, kami setiap hari melakukan pengangkatan sampah dan setelah sampah yang diangkat kami keringkan dulu kemudian ditimbang dihitung berapa berat total yang bisa diangkat pada hari ini," ujarnya ditemui di bantaran sungai Kali Tebu

Sampah-sampah itu kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) 3R untuk dipilah. Sampah organik akan diproses menjadi pupuk kompos. Sementara sampah anorganik yang masih bernilai akan dijual.

"Sedangkan yang residu nanti akan dibawa oleh truk pengangkut sampah DLH (Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Benowo," jelasnya.

Kali Tebu dipilih tak lepas dari kondisi sungai tersebut yang sangat tercemar. Selain Kali Tebu, program tersebut juga dilakukan di Kali Mrutu, Kecamatan, Wonokusumo, Surabaya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, mengatakan program yang saat ini berjalan di Kali Tebu dan Kali Mrutu tersebut telah menunjukkan hasil nyata dalam mengurangi pencemaran plastik di aliran sungai. Biasanya dalam sehari, sebanyak satu ton sampah diangkut dari sungai tersebut.

“Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat dalam program ini,” kata Fikser.

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada pembersihan sungai, tetapi juga mengedepankan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci untuk membangun kesadaran warga agar mampu mengelola sampah sejak dari sumbernya.

“Dampak program juga mulai dirasakan masyarakat sekitar. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Proses tersebut melibatkan warga setempat sehingga menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memberikan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan,” ungkapnya.

Saat ini, timbulan sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah dimanfaatkan kembali melalui fasilitas TPS 3R dan aktivitas para pemulung. Sementara 1.600 ton lainnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir, dengan sekitar 1.000 ton telah diolah melalui fasilitas gasifikasi menjadi energi listrik. Adapun sekitar 600 ton sisanya masih berakhir di area landfill.

Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat. Melalui kerja sama UNDP dan TKN PSL, program ini dirancang untuk membantu pemerintah mengurangi pencemaran sampah di sungai, baik sampah plastik maupun sampah organik.

“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ahmad Bahri.

Editorial Team

Related Article