Sidoarjo, IDN Times -Bau gas amonia bercampur belerang dan hidrogen sulfida menyengat dari kejauhan. Sekelompok warga berkebaya dan mengenakan busana adat Jawa membawa sesajen, dupa, serta kembang menuju area luapan lumpur yang telah mengering. Mereka adalah masyarakat korban Lumpur Lapindo yang menggelar Ritual Sambang Buyut.
Dupa, sesajen, dan bunga itu diletakkan di atas lumpur menghadap hamparan lautan lumpur sejauh mata memandang. Asap dupa yang dinyalakan perlahan menyamarkan bau menyengat dari semburan lumpur yang mengepulkan asap putih di kejauhan.
Doa-doa berbahasa Jawa keluar dari mulut mereka. Lantunan doa yang diiringi tabuhan rebana itu menggema di tengah lautan lumpur.
Sesajen, dupa, kembang, dan doa-doa tersebut dipersembahkan untuk para leluhur yang pernah tinggal di kampung yang kini tenggelam oleh lumpur.
Bagi Harwati (50), warga Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, ritual itu bukan sekadar tradisi. Ritual tersebut menjadi caranya untuk mengingat bahwa tempat yang kini berubah menjadi lautan lumpur pernah menjadi ruang hidup dirinya dan para leluhurnya 20 tahun silam.
“Selama 20 tahun ini kenapa kita melakukan ritual dalam bentuk sambang buyut, karena kita ingin bersilaturahmi kepada ahli kubur dan ahli waris kita, yang dalam istilah Jawa disebut babat alas, pendiri desa di sini. Selama 20 tahun kita tidak pernah sambang dalam bentuk ritual Jawa,” ujar Harwati.
Ritual itu dipersembahkan untuk para leluhurnya yang dahulu membuka lahan atau babat alas di kawasan tersebut, meski kini desa mereka telah hilang ditelan lumpur.
“Jadi yang kita bawa ini sebenarnya oleh-oleh untuk buyut kita. Kita sebagai cucunya ingin memberikan sesuatu kepada buyut, bahwa ini loh yang dibawa cucu-buyutnya di sini,” ungkap dia.
Harwati masih mengingat betul bagaimana peristiwa mengerikan 20 tahun lalu memporak-porandakan tempat tinggalnya. Kenangan bersama orang tua dan keluarganya ikut tenggelam bersama semburan lumpur yang hingga kini tak diketahui kapan akan berakhir.
“Rumah saya sekitar 300 meter dari titik semburan lumpur. Dari zaman orang tua saya, nenek saya, turun-temurun tinggal di sini,” katanya.
Dua dekade telah berlalu. Kini Harwati tinggal jauh dari kampung halamannya. Namun, data kependudukannya hingga saat ini belum jelas. Kondisi itu membuatnya kesulitan mendapatkan akses bantuan sosial hingga hak suara dalam pemilu.
“Kita ingin menunjukkan kepada orang-orang dan media bahwa warga korban ini masih kehilangan hak suaranya dan dianggap tidak ada oleh negara,” tuturnya.
Selain itu, masih ada sekitar 75 aset korban Lumpur Lapindo yang belum mendapatkan penyelesaian. Mayoritas aset tersebut milik warga Desa Jatirejo dan Desa Siring.
Berbagai cara telah dilakukan Harwati dan warga lainnya untuk mendapatkan hak mereka sebagai korban Lumpur Lapindo. Namun hingga kini, suara mereka belum juga mendapat respons dari negara.
“Sebenarnya kita sudah tidak terlalu berharap kepada negara ini. Sudah 20 tahun loh. Kita pernah audiensi, mengunjungi instansi terkait, melakukan berbagai upaya, termasuk publikasi lewat media sosial. Tapi seakan-akan negara ini acuh tak acuh dan tidak bisa melihat,” jelasnya.
Masyarakat korban Lumpur Lapindo kini mulai berdamai dengan keadaan. Mereka menjalani kehidupan baru tanpa lagi menggantungkan harapan kepada pemerintah.
“Kalau berharap kepada negara ini sudah tidak lagi. Kita mulai berkompromi dengan keadaan. Kita juga harus berkompromi dengan situasi, ketika orang luar menganggap kita kaya. Mau tidak mau, itu harus kita terima,” pungkasnya.
