Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rawat ODGJ, Pak Purnomo Polisi Baik Kuliah Lagi di Unesa, Begini!

Kota Surabaya
3 min read
Rawat ODGJ, Pak Purnomo Polisi Baik Kuliah Lagi di Unesa, Begini!
Potret Ipda Purnomo kuliah s2 di Univesitas Negeri Surabaya (Unesa). Dok. Humas Unesa.
  • Ipda Purnomo, polisi yang dikenal sebagai Pak Pur, menempuh Magister Psikologi Unesa untuk memperkuat pendampingan ODGJ dan kelompok rentan.

  • Selama hampir 10 tahun, yayasannya di Lamongan telah merawat hampir 500 ODGJ serta melindungi lansia terlantar, anak jalanan, dan penyintas penyalahgunaan narkoba.

  • Pak Pur ingin membagikan ilmu kepada tim pendamping dan masyarakat, sambil membagi waktu sebagai polisi, pengelola yayasan, mahasiswa, serta edukator YouTube.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Hampir satu dekade merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan kelompok rentan tak membuat Ipda Purnomo berhenti belajar. Polisi yang akrab disapa Pak Pur dan dikenal publik sebagai “Polisi Baik” itu kini kembali duduk di bangku kuliah untuk memperdalam ilmu Psikologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Keputusan tersebut bukan sekadar untuk mengejar gelar akademik. Pak Pur ingin memperkuat pengetahuan dan keterampilannya dalam mendampingi ratusan penerima manfaat yang selama ini ia rawat di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan.

Selama hampir 10 tahun, ia telah merawat hampir 500 ODGJ. Selain ODGJ, yayasan yang dikelolanya juga menjadi tempat perlindungan bagi lansia terlantar, anak jalanan, hingga penyintas penyalahgunaan narkoba.

Aktivitas itu kini harus ia bagi dengan tugas sebagai anggota kepolisian dan mahasiswa Magister Psikologi Unesa. Bagi Pak Pur, tuntutan di lapangan membuat pendidikan menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

“Manusia itu wajib menuntut ilmu sampai kapan pun. Setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan tempat curhat dan konseling,” ujar Pak Pur, Selasa (22/9/2026).

Selama ini, ia banyak mendapatkan pengetahuan tentang pendampingan secara otodidak dan dari pengalaman langsung. Semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan membuatnya merasa perlu memiliki dasar keilmuan yang lebih kuat.

“Selama ini saya mendapatkan ilmu secara otodidak, sehingga saya merasa harus memiliki dasar ilmu Psikologi yang kuat dan teruji,” katanya.

Di yayasannya terdapat empat klaster layanan, yakni ODGJ, lansia, anak terlantar, serta rehabilitasi narkoba. Pak Pur ingin ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah tidak berhenti untuk dirinya sendiri, tetapi diteruskan kepada tim pendamping dan masyarakat.

“Harapan saya, setelah mendapatkan ilmu di sini semakin bermanfaat dampak pengabdian kami bagi masyarakat. Ilmu ini nantinya wajib saya tularkan kepada tim pendamping dan masyarakat,” tegasnya.

Untuk meningkatkan kapasitas layanan, ia bahkan mengajak istrinya berkuliah di Unesa. Pak Pur juga berencana mendorong sekitar 30 anggota tim yayasan untuk mempelajari ilmu Psikologi.

Di tengah kesibukan sebagai polisi, pengelola yayasan, dan mahasiswa, Pak Pur mengaku telah mendapat izin dari pimpinan serta dukungan dari timnya. Ia memilih menjalani semuanya karena meyakini pelayanan terhadap kelompok rentan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik.

Pak Pur juga aktif mengedukasi masyarakat melalui kanal YouTube yang memiliki sekitar 2,7 juta pelanggan. Baginya, pendidikan bukan sekadar soal gelar, melainkan bekal untuk memperbaiki cara merawat dan mendampingi manusia.

Kini, setelah bertahun-tahun belajar dari pengalaman, Pak Pur kembali belajar dari bangku akademik. Ia berharap ilmu Psikologi yang diperolehnya dapat membuat pengabdiannya semakin profesional sekaligus memperluas manfaat bagi mereka yang selama ini membutuhkan uluran tangan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More