Para akademisi lintas kampus di Malang melakukan aksi protes di Alun-alun Tugu Malang. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Perwakilan akademisi Malang Raya, Purnawan Dwikora Negara mengatakan jika aksi ini tidak hanya diikuti oleh civitas akademika kampus-kampus di Malang Raya, tapi juga 86 elemen masyarakat sipil. Aksi ini sebagai bagian dari upaya mengingatkan hilangnya etika dan moral. Pasalnya Presiden RI seharusnya memberi contoh yang baik dalam berpolitik.
"Kami menyatakan seruan luhur, karena kami berangkat dari menyangkut keluhuran budi, etika, sebuah situasi moral etik yang saat ini sedang tergerus dan terdegradasi. Jadi kami menamakan seruan masyarakat sipil Malang Raya Jilid II," terangnya.
Purnawan menjelaskan jika aksi ini dilakukan karena pemerintah tidak pernah mendengar masukan dari para akademisi. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk turun ke jalan agar suara mereka diperhatikan.
"Sebenarnya para dosen tidak diam, karena ada forum rektor di perguruan tinggi. Jadi ketika tidak banyak direspon, maka kita turun. Selain itu kami melihat secara partai-partai oposisi tidak mengambil peran dan tidak mengambil bagian. Yang terjadi sekarang kelompok oposisi menjadi bagian yang menikmati," bebernya.
Ia juga berpandangan seharusnya lembaga-lembaga negara formal yang menjadi kontrol seperti DPR RI hingga DPRD juga terlihat pasif. Padahal menurutnya etika dan moral pemimpi sudah diatur dalam Tap MPR RI No.VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.
"Saat ini Indonesia krisis keteladanan, krisis etika, krisis hukum dan krisis multidimensi. Padahal etika merupakan basis fundamental dalam proses terbentuknya suatu bangsa dan merupakan suasana kerohanian bagi bangsa dalam kehidupan kebangsaan serta kenegaraan. Runtuhnya etika berbangsa akan membawa akibat pada runtuhnya bangsa tersebut," tutur dosen Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang ini.