Madiun, IDN Times - Tidak hanya di Kabupaten Magetan, para pedagang beras di Pasar Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur juga mengeluhkan pasokan beras subsidi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang terganggu. Pedagang menyebut kiriman beras SPHP dari Bulog terakhir sebelum Pemilu 2024. Hingga hari ini, Selasa (20/02/2024) pasokan beras subsidi belum juga datang.
Pasokan Beras SPHP di Madiun Mandek Tiga Pekan

1. Tiga pekan tidak ada kiriman beras SPHP ke- pasar
Salah satu pedagang, Tariyah, mengatakan bahwa ia terakhir kali menerima kiriman beras SPHP dari Bulog sebelum Pemilu 2024. Sejak saat itu, pasokan beras subsidi tersebut terhenti. "Sudah tiga pekan ini tidak ada kiriman lagi. Terpaksa kami ambil beras di penggilingan yang harganya jauh lebih tinggi," kata Tariyah saat ditemui di kiosnya.
Tariyah menambahkan, pasokan beras SPHP sebelumnya juga mengalami pengurangan. Jika sebelumnya ia menerima 750 kuintal per minggu, kini hanya 250 kuintal. "Harga di penggilingan Rp14 ribu sampai Rp14.000 ribu per kilogram. Kami jual Rp15 ribu per kilogram untuk beras medium. Sementara beras SPHP harganya Rp11 ribu per kilogram," tuturnya.
"Jika mengambil dari penggilingan, kami tidak dapat untung dan cenderung rugi banyak. Kami tidak masalah langsung ambil 50 kilogram asalkan bisa mendapat beras subsidi," imbuh Tariyah.
2. Di toko grosir beras SPHP telah lama kosong
Keluhan serupa juga disampaikan oleh pedagang grosir Dolopo, Niken Budi. Ia mengaku mengalami kesulitan mendapatkan beras SPHP sejak hampir dua bulan belakangan.
"Kami dapat sedikit hanya beberapa karung yang kemasan lima kilogram. Bahkan sudah hampir dua bulan ini kami tidak dapat kiriman sama sekali untuk SPHP," kata Niken. Niken menilai, banyak masyarakat yang mencari beras SPHP karena harganya lebih murah.
"Para pembeli kecewa karena barangnya tidak ada. Kasihan mereka harus mengonsumsi beras mahal," pungkasnya.
3. Bulog Madiun berdalih distribusinya sedang diatur
Terpisah, Pincab Bulog Madiun Rizal Prasija Sukma saat dikonfirmasi membantah kelangkaan beras di pasaran. Ia memastikan stok beras yang tersimpan di gudang wilayah Madiun, lebih dari cukup hingga Hari Raya Idul Fitri.
"Stok beras kami ada 4.200 ton untuk melayani bantuan pangan dan Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) untuk bulan Februari dan Maret. Saat ini kami sedang melakukan pembongkaran masuk sekitar 3.000 ton, sehingga totalnya sekitar 7.200 ton," katanya
Dirinya juga membantah, jika ada kelangkaan beras pasca Pemilu 2024. Pihaknya juga bersama dinas terkait, menata mekanisme pendistribusian. "Saat ini kami evaluasi volume, kemudian kami tingkatkan jumlah outlet dan pengambilan dalam satu minggu. Jadi mereka punya kuota, maksimal 2 ton, nanti diambil secara bertahap," terangnya.
Ia berdalih mekanisme di atas untuk menjaga ketersediaan stok yang ada di lapangan dalam 1 minggu tetap rutin, serta mencegah spekulan pembelian dalam jumlah besar. "Pedagang hanya boleh mengambil 750 kilogram setiap minggu. Sehingga, dalam 1 atau 2 hari sudah habis terjual," imbuhnya.
Untuk diketahui, harga beras Bulog dari gudang dipatok Rp9.950 per kilogram, dijual pengecer atau retail dengan HET Rp10.900 per kilogram. "Yang jelas kami hanya mengatur distribusinya, agar tidak kosong dalam 1-2 hari. Dari 7.200 ton, kebutuhan Kabupaten Madiun bahan pangan 670 ton per alokasi, yang akan kami salurkan 670 ton di bulan Februari Outlet di Kabupaten Madiun ada 110, toko toko di pasar, retail modern, Bumdes di masing-masing kecamatan," pungkasnya.