Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menanam Harapan 2 Dunia: Kisah Ma'am Maya, Guru TK Jadi Pengayom Warga
Guru KB-TK Tarakanita Surabaya, Lusia Dyan Ramayani saat KBM. Dok. Pribadi Maya.
  • Ma'am Maya, guru TK di Surabaya, mengajar dengan pendekatan bermain dan teknologi digital untuk menumbuhkan keberanian serta rasa ingin tahu anak-anak usia dini.
  • Selain menjadi pendidik, ia juga menjabat sebagai Ketua RW di Gresik, menerapkan prinsip mendengarkan dan musyawarah dalam menjaga keharmonisan warga.
  • Maya menghubungkan dunia pendidikan dengan masyarakat melalui kegiatan parenting dan literasi, menanamkan nilai kepedulian serta keyakinan bahwa pendidikan dan kebersamaan saling melengkapi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Pagi itu, Jumat (5/6/2026), suasana kelas KB-TK Tarakanita Surabaya dipenuhi tawa anak-anak. Belasan murid berdiri membentuk lingkaran sambil memperhatikan gurunya yang berdiri di tengah kelas.

Dengan sebuah payung dan kartu-kartu bergambar yang menggantung di sekelilingnya, sang guru mengajak mereka belajar tentang alam melalui permainan sederhana. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada suasana belajar yang membosankan. Yang ada hanya rasa penasaran yang tumbuh dari kegembiraan.

Guru itu adalah Lusia Dyan Ramayani, yang lebih dikenal sebagai Ma'am Maya.

Selama lebih dari sepuluh tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan anak usia dini, Ma'am Maya memahami bahwa belajar bukan sekadar mengenalkan angka, huruf, atau warna. Baginya, belajar adalah proses membangun keberanian, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri yang akan menjadi bekal anak-anak sepanjang hidup mereka.

"Saya selalu percaya bahwa anak-anak belajar paling baik saat mereka merasa bahagia. Ketika mereka tersenyum, tertawa, dan berani mencoba hal baru, di situlah proses belajar yang sesungguhnya terjadi," ujarnya.

Guru KB-TK Tarakanita Surabaya, Lusia Dyan Ramayani saat KBM. Dok. Pribadi Maya.

Di tangan Ma'am Maya, ruang kelas berubah menjadi ruang eksplorasi tanpa batas. Ia memanfaatkan teknologi digital untuk menghidupkan materi pembelajaran. Buku-buku digital interaktif, animasi tiga dimensi, hingga media pembelajaran visual menjadi bagian dari kesehariannya mengajar anak-anak berusia empat hingga lima tahun.

Bagi sebagian orang, teknologi mungkin dianggap terlalu rumit untuk anak usia dini. Namun bagi Ma'am Maya, teknologi hanyalah alat untuk membuka lebih banyak pintu imajinasi.

"Teknologi bukan untuk menggantikan sentuhan guru. Teknologi hanya alat. Yang membuat anak berkembang tetaplah hubungan, perhatian, dan kasih sayang yang diberikan guru kepada mereka," katanya.

Ia masih mengingat banyak momen yang membekas selama menjadi guru. Salah satunya ketika melihat seorang murid yang awalnya selalu bersembunyi di balik orang tuanya perlahan berani berbicara di depan kelas.

Baginya, pencapaian seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar angka dalam rapor. "Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat anak yang awalnya pemalu kemudian berani bercerita di depan teman-temannya. Momen-momen kecil seperti itu sangat berarti bagi saya," tuturnya.

Di mata murid-muridnya, Ma'am Maya mungkin hanya seorang guru. Namun ketika jam pelajaran usai dan ia meninggalkan sekolah, ada peran lain yang menantinya. Di Perumahan De Naila Village, Kabupaten Gresik, ia dikenal sebagai Ketua RW 14.

Jika di sekolah ia bertugas membimbing anak-anak, di lingkungan tempat tinggalnya ia mengemban tanggung jawab untuk menjaga harmoni masyarakat. Berbagai persoalan warga, mulai dari kegiatan sosial, kebersihan lingkungan, hingga kebutuhan administratif sehari-hari, menjadi bagian dari tugas yang dijalaninya.

Menariknya, ia tidak pernah merasa kedua peran tersebut bertolak belakang. "Menjadi guru dan Ketua RW sebenarnya sama. Saya sama-sama belajar mendengarkan. Kalau di sekolah mendengarkan anak-anak, kalau di lingkungan mendengarkan warga," ungkapnya.

Ketua RW 14 Lusia Dyan Ramayani bersama panitia Agustusan De Naila Village. Dok. Pribadi Maya.

Sebagai Ketua RW, Maya membawa pendekatan yang sama seperti saat mengajar. Ia percaya bahwa setiap orang ingin dihargai dan didengar. Karena itu, ia selalu mengedepankan komunikasi dan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan.

"Setiap orang ingin didengar dan dihargai. Ketika warga merasa dilibatkan, mereka akan ikut menjaga lingkungan ini bersama-sama," katanya.

Kesabaran yang ia latih selama bertahun-tahun menghadapi anak-anak ternyata menjadi modal berharga ketika memimpin lingkungan. Ia terbiasa mendengarkan, memahami, lalu mencari solusi yang dapat diterima bersama.

Tidak jarang ia harus membagi waktu antara menyusun materi pembelajaran dan mengurus kebutuhan warga. Pagi hingga siang ia berada di sekolah. Sore hingga malam ia melayani masyarakat.

Tentu ada hari-hari ketika rasa lelah datang menghampiri. Namun ia selalu menemukan alasan untuk kembali melangkah. "Kadang memang lelah. Tapi ketika melihat anak-anak berkembang dan warga bisa hidup rukun, rasa lelah itu seperti terbayar," bebernya.

Bagi Maya, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ia percaya pembentukan karakter anak juga ditentukan oleh keluarga dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Keyakinan itulah yang membuatnya sering menjembatani dunia pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat. Berbagai kegiatan parenting, literasi, dan penguatan karakter tidak hanya melibatkan orang tua murid, tetapi juga warga di sekitarnya.

"Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua, lingkungan, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Karena itu saya berusaha menghubungkan semuanya," katanya.

Di tengah derasnya perubahan zaman, Maya memilih tetap berpegang pada hal-hal sederhana yang menurutnya paling penting. Mendidik dengan hati dan melayani dengan tulus.

Ia tidak mengejar popularitas ataupun penghargaan. Yang membuatnya bertahan selama ini adalah keyakinan bahwa setiap tindakan kecil dapat menghadirkan perubahan besar bagi orang lain.

Ia menanam keberanian pada anak-anak yang sedang belajar mengenal dunia. Ia menanam kepedulian di tengah masyarakat yang berusaha hidup berdampingan. Ia menanam optimisme bahwa pendidikan dan kebersamaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

"Saya tidak pernah berpikir tentang jabatan atau penghargaan. Saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus belajar, mengajar, dan melayani," katanya.

Di setiap langkahnya, Maya menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan di tempat yang besar. Terkadang, pengabdian lahir dari kesediaan untuk mendengarkan, mendampingi, dan menanam kebaikan, sedikit demi sedikit, setiap hari.

"Saya percaya setiap anak adalah harapan masa depan, dan setiap lingkungan yang baik akan melahirkan generasi yang baik pula. Kalau saya bisa berkontribusi sedikit untuk keduanya, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup saya," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article