Kondisi Jembatan Tunjung di momen Kemerdekaan. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Dari Jalan Perdana Kusuma, gaung KBSB kemudian melebar menjadi cerita tentang pembangunan di berbagai wilayah Madura. Di Tunjung, program tersebut mempertemukan dua kekuatan yang sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat: prajurit dan warga.
Mereka bertemu dalam pekerjaan yang sama. Warga membantu sesuai kemampuan. Prajurit bekerja dengan perlengkapan yang tersedia. Di sela pekerjaan, percakapan mengalir tanpa sekat. Gotong royong kembali menemukan ruang hidupnya. Ia tidak lagi sekadar kata yang terdengar dalam pidato atau tulisan di spanduk. Ia hadir dalam tangan yang mengangkat material, langkah yang keluar-masuk lokasi pekerjaan, dan kesediaan warga untuk ikut menjaga pembangunan yang kelak mereka gunakan bersama.
Bagi Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Brigjen TNI Kohir, kebersamaan tersebut memang menjadi bagian penting dari semangat KBSB. Menurut dia, pemilihan lokasi sasaran tidak dilakukan secara sembarangan. Penentuan wilayah mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kami memilih wilayah terluar dan tertinggal dengan pertimbangan konkret, yakni mendorong kemandirian masyarakat. Ketika akses jalan terbuka dan fasilitas dasar seperti air serta hunian layak terpenuhi, roda ekonomi lokal diharapkan dapat berputar secara mandiri,” kata Kohir.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah jembatan tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian kebutuhan yang saling berhubungan. Jalan yang baik membuat mobilitas lebih mudah. Mobilitas yang lebih mudah membuka akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Akses yang terbuka memberi ruang bagi aktivitas ekonomi untuk tumbuh. Pada akhirnya, pembangunan fisik dapat menjadi pintu menuju kemandirian masyarakat.
Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin mengatakan seluruh rangkaian KBSB dirancang untuk menjawab persoalan mendasar masyarakat. “Kehadiran TNI di tengah masyarakat Madura bertujuan untuk menjawab kesulitan warga, mengakselerasi pembangunan daerah, serta memperkuat ketahanan wilayah. Kami ingin kehadiran TNI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Cakupan program tersebut jauh lebih luas daripada pembangunan sebuah jembatan di Kelurahan Tunjung. Karya Bakti Skala Besar TNI di wilayah Madura Tahun 2026 mencakup pembangunan 33 jembatan, 52 sumur bor, 20 rumah ibadah, serta renovasi 400 Rumah Tidak Layak Huni beserta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Program tersebut juga mencakup pembangunan atau rehabilitasi fasilitas pendidikan serta pembangunan dan perbaikan fasilitas sosial.
Di bidang kemanusiaan, terdapat operasi katarak bagi 313 orang, operasi bibir sumbing dan khitanan massal bagi 300 orang, donor darah sebanyak 1.000 kantong, serta bakti kesehatan bagi 400 warga. Tidak berhenti di sana. Program tersebut mencakup bakti lingkungan di 200 titik, bantuan tujuh unit mesin irigasi pompa air, penanaman 2.000 pohon trembesi, serta pemberian 23 kaki palsu dan 124 kursi roda.
Namun, di balik setiap angka terdapat manusia. Di balik 33 jembatan, ada warga yang membutuhkan jalan untuk menyeberang. Di balik 52 sumur bor, ada keluarga yang membutuhkan air. Di balik renovasi rumah, ada keluarga yang ingin tinggal dengan lebih layak. Di balik layanan kesehatan, ada orang-orang yang ingin kembali melihat, tersenyum, bergerak, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Karena itu, pembangunan tidak seharusnya berhenti pada jumlah proyek yang selesai. Ia harus sampai pada kehidupan yang berubah. Jembatan Menuju Masa Depan. Di Jalan Perdana Kusuma, perubahan itu pada akhirnya akan kembali kepada hal-hal sederhana. Anak-anak yang melintas menuju sekolah. Pedagang yang membawa barang dagangan. Pekerja yang berangkat mencari nafkah. Orang tua yang mengantar anak. Warga yang hendak beribadah atau menyambangi tetangga.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat KBSB sebagai contoh bagaimana pembangunan dapat dikerjakan melalui sinergi lintas sektor. “Ada program fisik, ada program sosial dan kemanusiaan. Semuanya dibutuhkan oleh masyarakat dan diharapkan memberikan dampak langsung bagi mereka,” kata dia.
Menurut Khofifah, kolaborasi menjadi kunci agar pembangunan dapat menjangkau wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap anggaran pembangunan reguler. “Program ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga merawat kembali budaya gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat. Pemerataan infrastruktur di Madura akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi regional yang lebih kuat,” tuturnya.
Di Tunjung, gagasan besar tersebut diterjemahkan menjadi sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah jembatan yang aman untuk dilewati. Namun, kesederhanaan itu justru menyimpan arti yang besar.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIB Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, melihat pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat memiliki dimensi sosial yang tidak kalah penting dibandingkan dimensi fisiknya.
“Jembatan memiliki fungsi yang sangat konkret, tetapi makna sosialnya juga besar. Infrastruktur yang menyentuh kebutuhan sehari-hari akan membuat masyarakat merasa diperhatikan. Di situlah kepercayaan publik dapat tumbuh, terutama ketika pembangunan dilakukan dengan melibatkan masyarakat,” katanya.
Menurut Surokim, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari seberapa banyak bangunan yang berdiri. “Ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada jumlah proyek yang selesai. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat merasakan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak sekolah lebih aman, pedagang lebih mudah bergerak, dan warga lebih leluasa beraktivitas, di situlah pembangunan memiliki makna,” katanya.
Pandangan itu terasa nyata di Tunjung. Pembangunan sebuah jembatan mungkin tampak sederhana jika dilihat dari jauh. Hanya beton, besi, jalan, dan sebuah bentang yang menghubungkan dua sisi. Tetapi bagi warga, jembatan adalah bagian dari kehidupan.
Ia menghubungkan rumah dengan sekolah. Menghubungkan tempat tinggal dengan tempat kerja. Menghubungkan pedagang dengan pembeli. Menghubungkan keluarga dengan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Lebih dari itu, jembatan juga menghubungkan kecemasan dengan rasa aman. Dulu, beberapa detik ketika melintas mungkin dipenuhi kewaspadaan. Kini, harapan sedang dibangun agar perjalanan itu kelak menjadi sesuatu yang biasa saja, melintas tanpa takut.
Mungkin tidak banyak orang akan mengingat berapa banyak material yang digunakan dalam pembangunannya. Tidak semua orang akan mengetahui berapa lama pekerjaan berlangsung. Tetapi seorang ibu akan mengingat rasa lega ketika anaknya bisa berangkat dan pulang sekolah dengan aman. Seorang pedagang akan mengingat jalan yang lebih mudah dilalui. Seorang pekerja akan merasakan perjalanan menuju tempat kerja yang lebih tenang.
Dan warga Tunjung akan mengingat bahwa pernah ada masa ketika banyak tangan bekerja bersama untuk memperbaiki sesuatu yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Pada akhirnya, jembatan bukan hanya tentang menyeberangkan manusia dan kendaraan. Ia menyeberangkan kesempatan. Menyeberangkan pendidikan. Menyeberangkan aktivitas ekonomi. Menyeberangkan rasa aman. Dan yang paling penting, menyeberangkan harapan dari hari ini menuju hari esok.