Kekeringan Meluas, Khofifah Serukan Salat Istisqa ke Dewan Masjid

Gubernur Jatim Khofifah mengajak DMI menggelar Salat Istisqa setelah Salat Jumat pekan depan, melengkapi upaya teknis pemerintah menghadapi kekeringan.
Hingga 19 September 2026, 24 wilayah Jatim berstatus darurat kekeringan dan krisis air bersih; dropping air telah menjangkau 23 kabupaten, termasuk Ponorogo.
Pemprov Jatim menjalankan modifikasi cuaca sejak 3 September, serta mendorong pipanisasi, pemetaan sumber air, dan pengeboran sumur sebagai solusi jangka panjang.
Surabaya, IDN Times - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar menghadapi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Jatim. Selain mengandalkan langkah saintifik seperti dropping air bersih, pengeboran sumur, pipanisasi hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Khofifah meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jatim menggerakkan Salat Istisqa di masjid-masjid.
Khofifah secara khusus meminta Salat Istisqa dilaksanakan setelah Salat Jumat pada pekan depan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual menghadapi kekeringan. “Jumat depan di masjid-masjid setelah Salat Jumat dilaksanakan Salat Istisqa, salat mohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Pemerintah terus melakukan berbagai intervensi teknis, tetapi upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan gotong royong masyarakat dan ikhtiar spiritual. “Semua pihak harus bersama-sama mengikhtiari. Secara saintifik kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat. Secara spiritual kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” katanya.
Khofifah mengatakan hingga 19 September 2026, sebanyak 24 wilayah di Jatim telah menetapkan status darurat akibat kekeringan dan krisis air bersih. Pemprov Jatim pun terus memperluas dropping air bersih ke daerah terdampak.
Di Ponorogo, kekeringan tercatat terjadi di lima kecamatan dan berdampak pada 241 keluarga atau 612 jiwa. Di Kecamatan Pulung, kekeringan berdampak terhadap 56 keluarga atau 189 jiwa. Kecamatan Bungkal 111 keluarga atau 193 jiwa, Sampung 10 keluarga atau 35 jiwa, Jambon 120 jiwa, serta Slahung 36 keluarga atau 75 jiwa.
Khusus Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Pemprov Jatim menyalurkan 15.000 liter air bersih menggunakan tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Bantuan juga berupa tiga tandon, dua tandon lipat, 60 jeriken, serta paket sembako untuk warga. Untuk penanganan kekeringan di seluruh Kabupaten Ponorogo, Pemprov Jatim menyiapkan 200 jeriken berkapasitas 15 liter dan 50 tandon berkapasitas 1.200 liter.
Dropping air bersih oleh Pemprov Jatim sendiri telah dilakukan di 23 kabupaten yang terdampak kekeringan, mulai dari wilayah tapal kuda, Madura, hingga kawasan Mataraman dan pantura.
Selain bantuan air bersih yang bersifat darurat, Khofifah mendorong solusi jangka panjang melalui pencarian sumber air, pipanisasi dan pengeboran sumur. Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air tengah memetakan sumber-sumber mata air yang potensial untuk dialirkan ke desa terdampak. Skema tersebut sebelumnya telah diterapkan di sejumlah daerah.
Di Singosari, Kabupaten Malang, misalnya, air dari kawasan Gunung Arjuno ditarik melalui jaringan pipa hingga sekitar 15 kilometer. Di lokasi lain, jaraknya bahkan mencapai 17 kilometer. “Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” katanya.
Namun, Khofifah mengakui pembangunan pipanisasi tidak selalu mudah. Salah satu kendalanya adalah kekhawatiran masyarakat di sekitar sumber air bahwa kebutuhan air di wilayah mereka tidak akan tercukupi apabila air dialirkan ke daerah lain.
Alternatif lainnya adalah pengeboran sumur. Namun, tingkat kesulitan pengeboran berbeda di setiap wilayah. “Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” ungkapnya.
Sementara untuk mempercepat datangnya hujan, Pemprov Jatim telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca sejak 3 September 2026. Khofifah mengatakan setiap kali BMKG mendeteksi pertumbuhan awan yang berpotensi masuk ke wilayah Jatim, penyemaian dilakukan untuk mendorong terbentuknya hujan.
“Kita melakukan sangat banyak ikhtiar sejak tanggal 3 September lalu. Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” jelasnya.
Di tengah berbagai upaya tersebut, Khofifah menegaskan penanganan kekeringan membutuhkan gotong royong. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, terutama untuk memastikan sumber air tetap terjaga dan solusi jangka panjang dapat dibangun bersama masyarakat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















