Magetan, IDN Times - Harga kedelai yang mencapai Rp14 ribu per kilogram membuat puluhan perajin tahu di Kabupaten Ngawi Jawa Timur gulung tikar. Kondisi itu berbeda dengan di kabupaten tetangga, Magetan. Mereka memilih tetap bertahan dengan cara menaikkan harga dan memperkecil ukurannya meski diprotes konsumen.
Seperti para perajin tahu di Desa Suratmajan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan yang juga turut terimbas mahalnya harga bahan baku, yaitu kedelai. Harga kedelai Rp14 ribu membuat produksi tahu mereka turun.
"Biasanya 7 kwintal kedelai sehari kami, karena mahal ya kami kurangi, tinggal 6 kwintal saja ya. Modalnya terlalu besar jadinya," kata pemilik usaha tahu Purwanto kepada IDN Times, Selasa (14/11/2023).
Kemudian untuk bisa mendapatkan untung mereka terpaksa menaikkan harga jual Rp1000 per papan. "Selain kami naikkan harga kami juga terpaksa memperkecil ukurannya. Satu papan tahu sebelumnya 40 biji kini menjadi 48 potong ya," terangnya.
Sementara itu pengakuan pedagang tahu keliling kerap diprotes oleh pembeli akibat harganya naik dan ukurannya menjadi kecil. "Kami pasrah, diprotes ditolak hingga tak dibeli akibat naik dan menjadi kecil ukuran tahu yang kami jual. Habis gimana lagi dari pabrik naik akibat kedelai mahal," ungkap Muhammad Ali pedagang tahu keliling.
Ali pun memilih tidak menaikkan harga ke konsumen meski dari pabrik naik. Ia tidak ingin pelanggannya kabur. "Untung sedikit tidak masalah yang penting pelanggan tidak lari," kata dia.
Para perajin pun mengaku pasrah dan tak tahu apa penyebab naiknya harga kedelai. "Tidak tahu ya kenapa kedelai naik terus sampai Rp14 ribu perkilogramnya. Sebelumnya hanya kisaran Rp9 ribu hingga Rp10 ribu ya. Harapan kami pemerintah dapat menurunkan harga kedelai dan kami bisa produksi tahu normal," pungkasnya.
