Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMGR 2027:  Konten Media Dipaksa Tunduk Logika Algoritma
ilustrasi konten media sosial (unsplash.com/Obi - @pixel8propix)
  • Laporan Indonesia Milenial dan Gen Z Report 2027 menyoroti tekanan bagi media untuk menyesuaikan diri dengan logika algoritma di tengah dominasi video pendek dan penurunan belanja iklan.
  • Survei Vero ASEAN 2025 menunjukkan 44,1% jurnalis dan editor menganggap disrupsi digital serta perubahan perilaku audiens sebagai tantangan terbesar dalam menjaga relevansi media.
  • Setiap platform digital membentuk pola kepercayaan berbeda: TikTok dan Reels berbasis emosi cepat, YouTube fokus pada verifikasi, X reaktif terhadap opini publik, sementara Threads menawarkan ruang diskusi lebih tenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Di tengah meningkatnya konsumsi video berdurasi pendek, tantangan aktor ekosistem informasi saat ini bukan hanya pada memproduksi konten, tetapi juga dipaksa selaras dan tunduk pada logika algoritma. Di sisi lain, penurunan pengeluaran iklan akibat pemotongan anggaran program Program Makan Bergizi (MBG) menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan media untuk pandai-pandai memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Hal tersebut tertuang dalam Indonesia Milenial dan Gen Z Report 2027 yang dirilis oleh IDN Research Institute. Laporan turut membahas bagaimana industri media, merek dan pemerintah perlu beradaptasi dan mengubah cara mereka berkomunikasi agar tidak tenggelam dalam algoritma digital.

Laporan tersebut mencantumkan Survei Vero ASEAN pada tahun 2025, yang menyebut lebih dari 100 jurnalis dan editor di Indonesia, menunjukkan bahwa 44,1 persen disrupsi digital dan perubahan perilaku audiens sebagai tantangan terbesar. Sementara beralihnya pengguna internet ke video berdurasi pendek, platform berbasis algoritma, dan berita dalam format media sosial yang ringkas, memaksa media tradisional untuk berevolusi.

Industri media, pemerintah dan sektor swasta harus memahami bahwa ini merupakan masalah ekosistem. Ketika ruang informasi terverifikasi menyempit, apa yang tumbuh mengisi kekosongan kepercayaan publik tidak selalu terbaik, tetapi yang tercepat, paling emosional, dan paling viral.

Laporan ini menjelaskan, perubahan dalam cara masyarakat mengonsumsi media tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga menggeser cara kepercayaan terbentuk. Platform digital kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai saluran distribusi informasi, platform tersebut berfungsi sebagai infrastruktur yang membentuk bagaimana kepercayaan muncul, diuji, dan dipertahankan.

Di ekosistem digital, setiap platform memainkan peran yang berbeda dalam proses membangun kepercayaan. TikTok dan Instagram Reels yang menyajikan video pendek, membuat perilaku penggunanya cenderung impulsif, cepat menggeser video, dan menonton secara pasif melalui kurasi algoritma. Karakter kepercayaan pengguna dua plafrorm tersebut berada pada tahap awal, berbasis kesan emosional, minim konteks dan verifikasi.

Pengguna TikTok dan Instagram Reals tentunya berbeda dengan dengan YouTube. Pengguna datang untuk mencari informasi dengan penjelasan yang lebih detail dan terverifikasi.

Kemudian plaform X (Twitter), perilaku pengguna di platform ini cenderung reaktif, didorong oleh opini, dan sangat responsif terhadap isu-isu yang sedang berlangsung. Di platform tersebut, kepercayaan pengguna di platform tersebut tidak hanya bergantung dari isi pesan, tetapi juga pada ketahanan narasi ketika dihadapkan pada keritikndan dinamika percakapan publik.

Berukutnya ada platform Threads, pengguna platform ini tidak hanya bereaksi terhadap isu-isu, tetapi juga mencoba merumuskan pandangan mereka dalam bentuk yang lebih panjang, lebih kontekstual, dan kurang terpolarisasi. Munculnya Threads menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang diskusi yang "lebih tenang", yang tidak sepenuhnya didorong oleh kecepatan atau konflik, tetap relevan dalam ekosistem yang semakin terfragmentasi.

Editorial Team

Related Article