Harga Cabai Kian Pedas, Gegara Cuaca Ekstrem

Surabaya, IDN Times - Harga cabai di Jawa Timur (Jatim) kian pedas. Baik itu cabai rawit maupun cabai merah besar mengalami kenaikan harga. Pemerintah Provinsi (Pemprov) buka suara mengungkap penyebabnya.
Berdasarkan data yang dihimpun IDN Times dari Siskaperbapo, harga cabai rawit tembus Rp80.000 per kilogram di Bojonegoro pada Kamis (26/12/2024). Ini menjadi harga tertinggi. Sementara harga terendah di Bangkalan Rp24.000 per kg.
Begitu pula harga cabai merah besar di Bojonegoro, harganya tembus Rp60.000 per kg. Sementara harga terendah di Bangkalan yaitu Rp13.000 per kg. Artinya, harga komoditas ini sudah melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) di beberapa daerah.
"Kondisi saat ini karena faktor cuaca," ujar Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Jatim, Yudi Arianto.
Lebih lanjut, Diseprindag mengklaim kalau harga saat ini masih terbilang normal. Menurutnya belum melebihi HET. Karena berdasarkan data Siskaperbapo Jatim, harga rata-rata provinsi untuk cabai rawit Rp52.393 per kg. Sedangkan cabai merah besar Rp39.058 per kg.
"Kenaikannya masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas),” tegas Yudi.
“Kalau saya rasa harga gak sampai 60.000 masyarakat tidak mempermasalahkan. Artinya tidak sampai membuat warga bergejolak,” tambah Yudi.
Sementara itu Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan lonjakan harga cabai cukup drastis. Bahkan menurutnya lonjakan harga ini bisa berlangsung hingga dua bulan kedepan.
“Saat ini harga cabai rawit di tingkat petani Rp48.000 per kilogram. Bukan tidak mungkin kalau di pasaran harganya mencapai Rp50.000 hingga Rp55.000 per kilogram,: katanya.
"Sedangkan harga cabai merah besar harga di tingkat petani mencapai Rp28.000 per kilogram. Naiknya harga ini karena permintaan tinggi sedangkan pasokan mulai berkurang. Ini kan cuaca hujan, petani malas merawat tanaman cabainya karena hujan apalagi harga kemarin jatuh, sehingga banyak tanaman yang rusak meskipun tidak mati, begitu harga naik drastis, pasokan yang sulit,” pungkas dia.



















