Surabaya, IDN Times - Dengan pakaian serba hitam, Ninik tak bisa menyembunyikan dukanya. Meski wajahnya tertutup masker dan face shield, ratapan matanya tak bisa berbohong. Ia hanya bisa mengangguk-angguk saat Chief Pilot NAM Air, Kapten Ibran menyampaikan belasungkawa. Sesekali, Ninik menyeka matanya dengan tisu yang sudah ia remas-remas.
"Astaghfirullah," tuturnya lirih.
Ninik tengah bersiap melihat sebuah peti kayu, Jumat (15/1/2021). Di dalamnya, berbaring jenazah anak bungsunya, Fadly Satrianto yang menjadi korban tragedi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Ia tak pernah membayangkan akan kehilangan anaknya dengan cara seperti itu.
