Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Beras Mahal, Warga Ngawi Terpaksa Konsumsi Nasi Campur Tiwul
Demi berhemat, keluarga Sulastri (55) warga Desa Gandong, Kecamatan Bringin Ngawi konsumsi nasi campur tiwul. IDN Times/ Riyanto

Ngawi, IDN Times - Mahalnya harga beras membuat sebagian warga di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menyiasatinya dengan makan nasi yang dicampur dengan tiwul. Salah satunya seperti yang dilakukan Sulastri (55) warga Desa Gandong, Kecamatan Bringin ini. Keluarga ini mengaku sudah satu bulan terakhir mengkonsumsi nasi beras yang dicampur dengan nasi tiwul atau olahan dari singkong kering.

1. Nasi dicampur tiwul lebih bisa menghemat pengeluaran

Demi berhemat, keluarga Sulastri (55) warga Desa Gandong, Kecamatan Bringin Ngawi konsumsi nasi campur tiwul. IDN Times/ Riyanto

Langkah ini diambil Sulastri untuk menyiasati harga beras yang terus meroket mencapai 70 ribu rupiah per kilogram di pasaran. Dengan mencampur tiwul, Sulastri bisa menghemat penggunaan beras untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu kilogram beras yang biasanya hanya cukup dalam dua hari, kini bisa sampai empat hari setelah dicampur tiwul. Setiap pagi, Sulastri menumbuk singkong kering atau gaplek untuk bahan baku tiwul. 

Singkong tersebut ia dapatnya dari kebun sendiri yang telah dikeringkan sebelumnya menjadi gaplek.

2. Satu kilo beras dicampur tiwul bisa untuk 4 hari

Demi berhemat, keluarga Sulastri (55) warga Desa Gandong, Kecamatan Bringin Ngawi konsumsi nasi campur tiwul. IDN Times/ Riyanto

Setelah ditumbuk halus, lanjutnya, ketela dicampur sedikit air dan dikukus hingga matang. Cara mengkonsumsinya tinggal mencampur tiwul dengan nasi dengan sayur berkuah agar mudah ditelan.

"Setiap harinya kita pakai beras sedikit-sedikit, nanti dicampur dengan gaplek. Perbandingannya satu kilogram beras lebih yang biasanya hanya cukup untuk dua hari, sekarang bisa sampai empat hari," kata Sulastri.

Makan nasi campur tiwul tampak tak mengurangi kenikmatan makan keluarga Sulastri. Bahkan menurut Sulastri, kini banyak keluarga lain di desanya yang melakukan hal serupa. Meniru cara berhemat beras dari keluarganya.

3. Antrean beli beras masih berdesakan

Potret antrian beli beras masih terjadi di pasar Besar Ngawi. IDN Times/ Riyanto

Sementara itu, antrean warga untuk bisa membeli beras Bulog masih terus berlangsung di sejumlah kios milik pedagang beras di Ngawi. 

Warga harus rela berdesakan antri sejak subuh di depan kios pedagang beras agar bisa membeli beras SPHP isi 5 kilogram seharga Rp55 ribu rupiah.

"Ya Allah, saya datang sejak subuh dapat antrian nomor 26. Susah pokoknya mau beli beras untuk makan saja," kata Nurisnaini, salah seorang warga.

Warga mengaku pasrah dan hanya bisa berharap harga beras bisa kembali stabil. Agar warga kurang mampu bisa mendapatkan bahan makanan yang layak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article