Surabaya, IDN Times - Ratusan massa yang tergabung dalam aksi "Warga Surabaya Turun ke Jalan" di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6/2026) membawa 11 poin tuntutan soal turunkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga BBM. mereka juga membawa banner dengan gambar karikatur mirip Presiden Prabowo itu bertuliskan "Prabowo Kowarso Kowarso", "Gendarseng", "Lemes", "Longor."
Bener berukuran 1,5 meter kali 4 meter itu tersebut dipasang di jembatan penyebrangan Jalan Gubernur Suryo.
Massa yang didominasi kalangan muda itu tiba di lokasi sekitar pukul 16.20 WIB setelah melakukan long march dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel), Jalan Pemuda. Mereka mengenakan pakaian kasual dan sebagian besar menggunakan penutup wajah.
Massa kemudian melingkar dan satu persatu melakukan orasi. Mereka juga nampak membakar baju bekas yang dibawa dari rumah.
Jubir Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma mengatakan, aksi hari ini merupakan lanjutan dari aksi-aksi yang sebelumnya digelar di Surabaya. Massa aksi berasal dari elemen masyarakat, buruh dan mahasiswa.
Septia juga menjelaskan tentang banner besar bergambar mirip Prabowo tu terinsipirasi dari apa yang sedang trend hari ini. Sementara kata "Lemes, Longor" merupakan sindiran bagi pemerintah hari ini.
"Kalau lemas longor itu kan berasal dari tren-tren yang tren-tren yang perhari ini sering terjadi ya di sosial media dan kami itu pakai kata-kata lemas longor karena pemerintahannya yang lemas yang selalu pakai kebijakan-kebijakan yang tidak pernah menyentuh akar rumputnya," ujarnya.
Selain itu, banner tersebut juga bentuk kekecewaan massa aksi terhadap kebijakan Pemerintah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang tidak pernah berpihak pada masyarakat. Apalagi, negara dianggap menggunakan alat-alatnya untuk merepresentasikan masyarakat sipil. Belum lagi, program prioritas seperti makan bergizi gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) disebut tak pernah menyentuh masyarakat.
"Karena yang kita pahami adalah seharusnya soal pendidikan, soal fasilitas umum itu jauh lebih penting. penting," jelasnya.
Bukan cuma itu, pemerintah bahkan lebih fokus pada kebijakan yang tidak penting. Ditambah lagi rupiah yang semakin melemah.
"Mereka (pemerintah) malah fokus pada kebijakan-kebijakan yang lemas longor. Begitu dan kita pakai bahasa ini karena ini dianggap lebih melokal, lebih dekat dengan warga Surabaya dan lebih bisa terus-menerus untuk diingat bahwa pemerintah kita itu per hari ini cuman bisa lemes dan longor," pungkas dia.
Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan 11 tuntutan kepada pemerintah, yakni:
1. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
2. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
3. Mencabut UU Polri dan UU TNI.
4. Menciptakan lapangan kerja yang layak.
5. Membubarkan Komando Teritorial serta menghentikan keterlibatan TNI dalam ranah sipil.
6. Menghentikan proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land.
7. Membebaskan seluruh tahanan politik serta memulihkan nama baik mereka.
8. Memprioritaskan anggaran pendidikan dan kesehatan.
9. Mewujudkan transportasi umum yang layak, inklusif, dan gratis.
10. Membubarkan parlemen dan membangun kuasa rakyat.
11. Mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.
Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian. Hingga berita ini ditulis, massa masih bergantian menyampaikan orasi di depan Gedung Negara Grahadi.
