Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pertamax Meroket, Warga Malang Serbu Pertalite
Antrian kendaraan yang akan mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Pagelaran, Kabupaten Malang. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Kenaikan signifikan harga BBM non-subsidi bikin warga Malang berbondong-bondong antre isi Pertalite karena khawatir harga ikut naik.
  • Pertamina menjelaskan penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan sesuai regulasi untuk menjaga keseimbangan bisnis, layanan, dan pasokan energi nasional.
  • Pertamina menegaskan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap stabil di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter meski BBM non-subsidi naik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Malang, IDN Times - Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi membuat masyarakat terkejut, pasalnya kenaikan harga yang terjadi cukup signifikan. Hal ini menyebabkan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Malang dipadati kendaraan yang berebut mengisi Pertalite.

1. BBM non-subsidi naik signifikan, warga takut Pertalite ikut naik

Antrian kendaraan yang akan mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Pagelaran, Kabupaten Malang. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Salah satu SPBU yang dipadati kendaraan ada di SPBU Pertamina 54.651.42 Desa Banjerejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Kepadatan kendaraan yang akan mengisi BBM jenis Pertalite masih terlihat hingga Rabu (10/6/2026) pukul 18.31 WIB. Antrian terpantau mengular hingga lebih dari 50 meter, setidaknya butuh lebih dari 15 menit untuk bisa dilayani oleh petugas.

Salah seorang warga bernama Nanda mengungkapkan jika biasanya ia mengisi BBM jenis Pertamax untuk sepeda motornya. Tapi ia mengaku kenaikan dari Rp12.300,- menjadi Rp16.250,- cukup memberatkan dirinya.

"Naiknya itu langsung naik banget, biasanya kan naiknya cuma seribu atau kurang, sekarang ya mikir-mikir lagi kalau mau isi Pertamax. Gak taunya sekarang malah antre yang mau isi Pertalite, jadi ya mau gimana lagi," terangnya.

Nanda mengaku jika ia mengisi Pertalite hari ini karena takut sewaktu-waktu BBM non-subsidi ini naik tanpa adanya pemberitahuan. "Saya langsung isi hari ini karena takutnya naiknya tiba-tiba juga, Pertamax kan naiknya kemarin malam tiba-tiba gak ada pemberitahuan sebelumnya, baru tahu tadi pagi banget pas mau berangkat kerja," ujarnya.

2. Ini alasan Pertamina naikkan harga BBM non-subsidi

Ilustrasi SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina Patra Niaga)

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menjelaskan kalau penyesuaian harga BBM non-subsidi ini mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat. Harga jual ini diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal.

"Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina," jelasnya.

3. Pertamina pastikan Pertalite dan Biosolar tidak naik

Ilustrasi SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina Patra Niaga)

Lebih lanjut, Roberth juga memastikan jika BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Ia mengungkapkan kalau BBM jenis gasoline yaitu Pertalite masih dipatok Rp10 ribu per liter dan BBM jenis gasoil yaitu Biosolar senilai Rp6.800,- per liter.

"Kenaikan hanya terjadi pada BBM non-subsidi diantaranya Pertamax (RON 92) dari Rp12.300,- per liter menjadi Rp16.250,- per liter. Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900,- per liter menjadi Rp17.000,- per liter. Pertamax Turbo (RON 98) Rp20.750,- per liter atau tetap. Kemudian Dexlite (CN 51) dan Permina Dex (CN 53) juga tetap yaitu Rp23 ribu per liter dan Rp24.800,- per liter," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article