Anies Baswedan saat tiba Malang untuk menonton pagelaran wayang kulit di Singosari. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Dalam kesempatan tersebut, pria 52 tahun ini mengatakan bahwa wayang kulit dan pagelaran wayang kulit adalah ekspresi budaya yang amat luhur, punya akar yang amat dalam, ini adalah tontonan yang penuh dengan tuntunan. Ia menjelaskan bahwa di Indonesia banyak tontonan mengasikkan tapi tuntutan yang tidak mengasyikkan. Tapi kita juga sering melihat hal-hal yang menyenangkan tapi tidak memberi tuntunan.
"Oleh karena itu wayang kulit itu harus dihidup-hidupkan dan dijaga. Ini adalah sebuah pelajaran dalak bentuk hiburan. Kita akhir-akhir ini melihat dalang dan tim karawitan yang menanggap makin sedikit. Apalagi saat panedmik, pasti paceklik, sepi," bebernya.
Ia mengatakan bahwa menghidupkan wayang kulit adalah PR semua pihak. Seluruh masyarakat Indonesia maupun instansi pemerintahan harus menghidupkan pagelaran wayang kulit di Indonesia. Akan fatal jika di masa depan pagelaran wayang kulit ini punah.
"Saya waktu masih menjadi Gubernur DKI Jakarta mengundang Ki Manteb Sudarsono untuk melaksanakan pagelaran wayang kulit di balai kota. Pertama kali balai kota jadi tuan rumah wayang kulit. Tapi kita kaget karena yang hadir melampaui dugaan, penuh dari mana-mana yang datang, padahal tidak ada iklan," bebernya.
Pagelaran wayang kulit tersebut menurut Anies menjadi pembuka jalan pagelaran wayang kulit di DKI Jakarta. Pasalnya setelah itu kantor-kantor wali kota seluruh Jakarta menyelenggarakan pagelaran wayang kulit.