Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ada Bulu dan Ornamen Khas, Ini Alasan Arumi Pilih Busana Dayak
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin beserta tiga anaknya, tampil mengenakan busana adat Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur. Instagram Arumi Bachsin.
  • Emil Dardak, Arumi Bachsin, dan keluarga mengenakan busana adat Dayak Kenyah pada Upacara HUT ke-81 RI di Grahadi, Surabaya, sebagai penghormatan terhadap keragaman budaya Nusantara.
  • Arumi memilih busana Dayak Kenyah setelah sebelumnya mengenakan busana Palembang, tertarik pada detail bulu, payet, dan ornamen yang berbeda dari busana Jawa.
  • Busana didatangkan dari Kalimantan Timur serta disesuaikan dengan pakem adat; modifikasi, termasuk celana panjang, dilakukan atas izin pihak yang memahami aturan tradisional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin beserta tiga anaknya, tampil berbeda saat mengikuti Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (17/8/2026). Keduanya mengenakan busana adat Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur.

Pilihan busana tersebut bukan sekadar untuk tampil beda. Emil dan Arumi ingin menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk mengenalkan sekaligus menghargai kekayaan budaya Nusantara.

Arumi mengaku selama ini lebih sering mengenakan kebaya, terutama busana khas Jawa Timur, dalam berbagai kegiatan. Karena itu, setiap momentum upacara 17 Agustus menjadi kesempatan baginya untuk mengeksplorasi busana tradisional dari daerah lain.

“Di setiap kegiatan aku banyak pakai kebaya, terutama kebaya Jatim. Dari tahun ke tahun kalau upacara 17-an itu salah satu kesempatan untuk bisa eksplor budaya lain,” ujarnya usai upacara.

Tahun lalu, Arumi memilih busana dari Palembang. Sementara tahun ini, ia menjatuhkan pilihan pada busana Dayak Kenyah. Selain ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, Arumi mengaku tertarik dengan karakter busana Dayak yang menurutnya memiliki detail dan ornamen berbeda dibandingkan busana Jawa.

“Sebenarnya simpel sih, saya pengin yang ada bulunya. Tapi beneran bagus. Payetnya beda sama payet Jawa. Jadi buat saya ini pertama kali, ya saya coba,” ungkapnya.

Arumi mengatakan persiapan busana tersebut tidak dilakukan dalam waktu lama. Sebab, sejumlah bagian busana dan aksesori telah tersedia sehingga tinggal disesuaikan dengan kebutuhan.

Pemilihan busana Dayak juga dilakukan dengan perhatian khusus terhadap pakem adat. Arumi mengatakan pihaknya sengaja mendapatkan busana langsung dari Kalimantan Timur agar tidak keliru dalam menerapkan atribut maupun bentuk pakaian adat.

“Kita enggak mau sampai kita pakai ternyata pakemnya salah. Kesan yang tadi mau menghargai malah jadi tersinggung. Jadi untuk amannya memang kita langsung dari Kaltim semua,” jelasnya.

Emil menambahkan, terdapat sejumlah penyesuaian busana, tetapi dilakukan dengan seizin pihak yang memahami pakem adat tersebut. Salah satunya perubahan celana pendek menjadi celana panjang.

“Memang ada beberapa modifikasi yang seizin dari pakem. Contoh ini tadinya harusnya celana pendek. Nah ini panjang,” ujar Emil.

Menurut Emil, keputusan mengenakan busana Dayak Kenyah merupakan bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Baginya, peringatan kemerdekaan menjadi momentum tepat untuk menampilkan kekayaan budaya dari berbagai penjuru Nusantara.

“Indahnya NKRI adalah bagaimana pada hari kemerdekaan, kami yang di Jawa Timur bisa mengenakan keindahan budaya dari berbagai penjuru Indonesia. Nah kali ini kita ingin mengangkat keindahan dari Kalimantan,” kata Emil.

Pilihan tersebut juga berawal dari hubungan Emil dengan Kalimantan Timur. Ia menyebut pernah berkunjung ke daerah tersebut dan bertemu dengan Wakil Gubernur Kaltim dalam sebuah acara keluarga.

Selanjutnya, Arumi berkoordinasi dengan pihak terkait di Kalmantan Timur untuk memastikan busana yang dikenakan sesuai dengan karakter budaya setempat.

Emil berharap penggunaan busana adat tersebut turut mempererat hubungan antara masyarakat Jawa Timur dan Kalimantan Timur. “Ini kesempatan untuk mengeksplor dan mensyukuri khazanah budaya yang ada di Nusantara kita ini,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article