Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kluster Stunting di Jatim, 3 Daerah Disorot
Peta klaster stunting di Jawa Timur 2022. (Dok. enciety)

Surabaya, IDN Times - Lembaga konsultan bisnis di Surabaya, enciety Business Consult (eBC) menerbitkan hasil risetnya bahwa ada tiga daerah di Jawa Timur (Jatim) yang angka stuntingnya tinggi.

Tiga daerah itu Kabupaten Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Temuan tiga daerah dengan angka stunting sangat tinggi itu diketahui dari hasil pengelompokan dengan menggunakan pendekatan hierarchical clustering atau klaster hirarki.

"Basis data pengelompokan ini diolah dari Hasil Survei Status Gizi Indonesia 2022 dari Kementerian Kesehatan," ujar Data Mining Manager eBC, Unung Istopo Hartanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/11/2023).

1. Dikelompokkan 5 klaster, angka stunting sangat tinggi ada 3 kabupaten

Kader poslit juga mengukur panjang tubuh salah satu bayi menggunakan peralatan timbangan tidur. (IDN Times/Fariz Fardianto)

eBC, kata Unung, mengelompokkan 38 kabupaten/kota di Jatim dalam lima klaster dengan rata-rata angka stunting yang bervariasi. Kategori satu dengan angka stunting sangat tinggi, dua tinggi, tiga sedang, empat rendah dan lima sangat rendah.

"Klaster Satu, untuk daerah yang angka rata-rata stuntingnya sangat tinggi, yakni 32,6 persen. Daerah yang masuk di klaster ini adalah Kabupaten Jember 34,9 persen, Kabupaten Bondowoso 32 persen dan Kabupaten Situbondo 30,9 persen," terang Unung.

2. Klaster dengan stunting tinggi mayoritas daerah di Pantura

Ilustrasi anak. (Stunting.brecorder.com)

Klaster Kedua, untuk daerah yang angka rata-rata stuntingnya tinggi 25,19 persen. Ada sembilan daerah yang masuk klaster ini, yaitu Ngawi 28,5 persen, Lamongan 27,5 persen, Bangkalan 26,2 persen, Kota Batu 25,2 persen, Tuban 24,9 persen, Bojonegoto 24,3 persen, Lumajang 23,8 persen, Kota Probolinggo 23,3 persen, dan Malang 23 persen.

"Kalau dilihat dari letak geografis, maka kelompok klaster dua ini terdapat pada bagian wilayah Pantura dan sebagian selatan Jatim," papar Unung.

3. Angka stunting sedang ada di 18 daerah

canva.com/devina

Klaster Ketiga, untuk daerah angka rata-rata stuntingnya sedang, yakni 18,28 persen. Di kelompok ini ada 18 daerah, yaitu Jombang 22,1 persen, Kediri 21,6 persen, Sumenep 21,6, Kota Pasuruan 21,1 persen, Pacitan 20,6 persen, Pasuruan 20,5 persen, Nganjuk 20 persen, Trenggalek 19,5 persen dan Banyuwangi 18,1 persen.

Kemudian ada Kota Malang 18 persen, Madiun 17,6 persen, Tulungagung 17,3 persen, Probolinggo 17,3 persen, Sidoarjo 16,1 persen, Magetan 14,9 persen, Blitar, 14,3 persen, Kota Kediri 14,3 persen, dan Ponorogo 14,2 persen.

4. Stunting rendah di kawasan Surabaya Raya

Gemerlap Kota Surabaya tampak dari udara. (Dok. Diskominfo Surabaya)

Lebih lanjut, klaster Empat, untuk daerah yang tergolong rendah dengan rata-rata angka stunting 11, 2 persen. Yakni, Kota Madiun 9,7 persen, Gresik 10,7 persen, Mojokerto 11,6 dan Kota Blitar 12,8 persen.

Klaster lima, tergolong sangat rendah dengan rata-rata angka stunting 7,05 persen. Ada Kota Surabaya 4,8 persen, Sampang 6,9 persen, Pamekasan 8,1 persen, Kota Mojokerto 8,4 persen.

"Hasil pengelompokan ini ada kecenderungan masing-masing daerah, secara spasial berdekatan," katanya.

Namun yang menarik ada di klaster lima, dimana secara spasial ada dua kelompok, yakni Sampang dan Pamekasan, serta Kota Surabaya dan Kota Mojokerto.

"Data menunjukkan Sampang dan Pamekasan mampu menekan angka stunting di atas Kota Mojokerto, bahkan hampir menyamai Kota Surabaya," pungkas Unung. 

Editorial Team

Related Article