Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Nama Menguat di Bursa Ketum PBNU Jelang Muktamar NU ke-35 Jombang
Persiapan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang. Dok. Panlok Muktamar.
  • Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Insantara memetakan tiga kandidat terkuat Ketua Umum PBNU: KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, dan KH Abdul Hakim Mahfudz.
  • Imam Jazuli menguat sebagai kandidat independen berbekal basis pesantren, pengalaman pendidikan dan akademik internasional, serta jejaring NU dan politik nasional.
  • Gus Yahya mengandalkan status petahana dan jaringan organisasi, sementara Gus Kikin membawa kekuatan jaringan pesantren; pemilihan Ketua Umum PBNU dijadwalkan 29 Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jombang, IDN Times - Sehari menjelang pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), peta persaingan calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengerucut. Ada tiga nama menguat. Yakni KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, petahana KH Yahya Cholil Staquf dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Pemetaan tersebut disampaikan Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari basis dukungan suara, rekam jejak dan pergerakan kandidat hingga wawancara dengan pengurus PWNU dan PCNU di berbagai daerah.

Peneliti Insantara Wildan Efendy mengatakan, munculnya Imam Jazuli dalam tiga besar menjadi salah satu perkembangan menarik dalam bursa Ketum PBNU menjelang forum pemilihan.

“Dari tujuh nama yang sebelumnya banyak disebut, kami melihat ada tiga nama yang paling kuat, yakni Gus Yahya, Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin,” ujarnya dalam keterangannya di Jombang, Rabu (26/8/2026).

Wildan membeberkan, Imam Jazuli memiliki karakter berbeda dibandingkan dua kandidat lainnya. Ia dinilai membawa positioning sebagai kandidat independen yang merepresentasikan kekuatan NU dan pesantren, sekaligus menawarkan gagasan persatuan dan transformasi organisasi.

“Kiai Imjaz menjadi salah satu figur pemimpin muda di abad kedua NU yang dalam beberapa hari terakhir semakin menguat dalam bursa utama Ketum PBNU,” katanya.

Wildan menyebut setidaknya terdapat tiga modal yang membuat nama Imam Jazuli terus menguat. Pertama, basis pesantren dengan jumlah santri yang besar. Kedua, pengalaman pendidikan Islam tradisional yang dipadukan dengan latar akademik internasional. Ketiga, jejaring dengan pesantren dan tokoh-tokoh NU serta kedekatan dengan berbagai kalangan politik nasional.

Posisi tersebut membuat Imam Jazuli dinilai memiliki peluang untuk menjadi figur yang menjembatani berbagai kelompok dalam Muktamar ke-35 NU. Terlebih, dinamika pencalonan tidak hanya ditentukan oleh popularitas kandidat, tetapi juga kemampuan membangun konsolidasi dan mengamankan dukungan muktamirin.

“Pada titik inilah nama KH Imam Jazuli kini berada di tengah tiga pusaran kekuatan. Ia menjadi penentu kekuatan NU dan pesantren, pemersatu kandidat yang gagal melaju ke pemilihan dan membawa komitmen untuk mengembalikan marwah organisasi serta otoritas ulama,” kata Wildan.

Sementara itu, Gus Yahya masih memiliki modal sebagai petahana. Pengalaman satu periode memimpin PBNU, penguasaan terhadap struktur organisasi serta jaringan yang terbentuk selama kepemimpinannya menjadi kekuatan tersendiri.

Namun, menurut Wildan, evaluasi terhadap kepemimpinan Gus Yahya membuat basis dukungannya menghadapi tantangan. Di internal NU terdapat kelompok yang menilai kepemimpinannya membawa modernisasi dan memperluas peran NU di tingkat global, sementara kelompok lain menyoroti persoalan tata kelola dan konflik struktural.

Adapun Gus Kikin dinilai membawa narasi penguatan kembali fondasi dan identitas NU. Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu disebut memiliki modal jaringan pesantren dan pengalaman organisasi yang kuat.

Di luar tiga nama tersebut, sejumlah figur sebelumnya juga sempat muncul dalam bursa, di antaranya KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori dan KH Abdul Ghaffar Rozin.

Wildan menilai dinamika tersebut membuat fase menjelang pembukaan Muktamar menjadi sangat menentukan. Dukungan yang telah terbentuk masih dapat berubah seiring konsolidasi terakhir para kandidat dan muktamirin.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pemilihan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article