Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3.856 Hektare Lahan Jatim Terdampak Kekeringan, 149 Hektare Puso
ilustrasi kekeringan (magnific.com/wirestock)
  • Hingga 10 September 2026, kekeringan melanda 3.856 hektare lahan pertanian di Jawa Timur, saat puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus-September.
  • Dari lahan terdampak, 597,11 hektare merupakan tanaman padi dan 149,95 hektare telah puso atau gagal panen karena tidak dapat diselamatkan akibat kekurangan air.
  • Pemprov Jatim berkoordinasi dengan daerah dan menyiapkan bantuan benih melalui P-APBD 2026 untuk hingga 1.000 hektare lahan, sembari berharap hujan mulai turun pada Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025 hingga awal 2026

Pemerintah melakukan langkah antisipasi kekeringan, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di Jatim.

Agustus-September

BMKG memperkirakan puncak musim kekeringan terjadi pada periode ini.

Agustus 2026

Menteri Pertanian hadir di Jawa Timur membahas antisipasi kekeringan dan peran Jatim sebagai lumbung pangan padi.

10 September

Sebanyak 3.856 hektare lahan pertanian di Jatim tercatat terdampak kekeringan.

16 September 2026

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim menyatakan kekurangan air berpotensi menurunkan produktivitas. Lahan padi yang puso akibat kekeringan mencapai 149,95 hektare.

Oktober 2026

Pemerintah berharap hujan mulai turun meski belum merata untuk menahan peningkatan luas lahan padi yang puso.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sebanyak 3.856 hektare lahan pertanian di Jawa Timur terdampak kekeringan hingga 10 September, dengan 149,95 hektare lahan padi mengalami puso atau gagal panen.
  • Who?
    Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur yang dipimpin Heru Suseno, pemerintah kabupaten/kota, serta petani di wilayah terdampak terlibat dalam penanganan kondisi ini.
  • Where?
    Lahan pertanian di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk lahan tanaman padi yang terdampak kekurangan air.
  • When?
    Data dampak kekeringan tercatat hingga 10 September 2026. Heru Suseno menyampaikan kondisi tersebut pada Rabu, 16 September 2026.
  • Why?
    Kekeringan terjadi saat puncak musim kering pada Agustus–September dan kekurangan air memengaruhi produktivitas tanaman. Ancaman El Nino ekstrem pada 2026 menjadi perhatian pemerintah.
  • How?
    Pemprov Jatim berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota sejak 2025, menyiapkan dukungan benih melalui P-APBD 2026 untuk hingga 1.000 hektare, serta menunggu hujan mulai Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Timur, banyak sawah kekurangan air. Sampai 10 September, 3.856 hektare lahan terdampak kering. Ada 149,95 hektare sawah padi yang sudah gagal panen. Pak Heru dari dinas pertanian bilang air penting untuk tanaman. Pemerintah menyiapkan benih dan berharap hujan turun pada Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan kekeringan, Jawa Timur telah membangun ruang mitigasi melalui koordinasi lintas pemerintah sejak 2025 dan dukungan benih untuk hingga 1.000 hektare. Fakta bahwa tidak seluruh lahan terdampak berakhir puso juga menunjukkan masih ada peluang penyelamatan tanaman, terutama bila ketersediaan air mulai membaik pada Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Ancaman kekeringan membayangi lahan pertanian Jawa Timur (Jatim) di tengah prediksi fenomena Godzilla El Nino pada 2026. Hingga 10 September, tercatat 3.856 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan di berbagai wilayah Jatim.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena puncak musim kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus-September. “Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya. Karena komoditas pertanian kita itu sumber utama untuk kehidupannya memang air,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Heru menjelaskan, kekurangan air berpotensi langsung memengaruhi produktivitas pertanian. Karena itu, pihaknya berharap hujan mulai turun pada Oktober meski belum merata di seluruh wilayah Jatim.

“Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus. Kalau kita bicara kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September. Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata,” jelasnya.

Meski lahan terdampak mencapai ribuan hektare, Heru menegaskan angka tersebut tidak otomatis berarti mengalami gagal panen atau puso. “Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso. Puso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan,” katanya.

Dari total lahan terdampak tersebut, sekitar 597,11 hektare merupakan lahan tanaman padi. Sementara lahan padi yang telah dinyatakan puso mencapai 149,95 hektare. “Pusonya ini ya sudah karena kekeringan, kemudian sudah berhenti, tidak bisa diselamatkan lagi. Ada 149,95 hektare lahan padi yang puso,” ungkap Heru.

Menurut Heru, pemerintah telah melakukan langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan. Upaya tersebut dilakukan sejak 2025 hingga awal 2026, termasuk melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di Jatim.

Jatim menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu lumbung pangan nasional, terutama untuk komoditas padi. “Kemudian barusan kira-kira bulan Agustus 2026 kemarin Pak Menteri Pertanian juga hadir di Jawa Timur dengan hal-hal yang sama. Karena Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan terutama untuk padi,” katanya.

Untuk mengantisipasi bertambahnya lahan puso, Pemprov Jatim juga menyiapkan dukungan benih melalui P-APBD 2026 yang disiapkan untuk lahan hingga 1.000 hektare. “Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare,” tutur Heru.

Ia berharap datangnya hujan pada Oktober dapat menahan laju kerusakan lahan pertanian sehingga luas tanaman padi yang mengalami puso tidak melonjak signifikan. “Kalau sampai September ini baru 149,95 hektare, maka Oktober sudah ada air, kira-kira naiknya tidak terlalu banyak,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article