Surabaya, IDN Times - Ancaman kekeringan membayangi lahan pertanian Jawa Timur (Jatim) di tengah prediksi fenomena Godzilla El Nino pada 2026. Hingga 10 September, tercatat 3.856 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan di berbagai wilayah Jatim.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena puncak musim kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus-September. “Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya. Karena komoditas pertanian kita itu sumber utama untuk kehidupannya memang air,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Heru menjelaskan, kekurangan air berpotensi langsung memengaruhi produktivitas pertanian. Karena itu, pihaknya berharap hujan mulai turun pada Oktober meski belum merata di seluruh wilayah Jatim.
“Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus. Kalau kita bicara kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September. Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata,” jelasnya.
Meski lahan terdampak mencapai ribuan hektare, Heru menegaskan angka tersebut tidak otomatis berarti mengalami gagal panen atau puso. “Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso. Puso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan,” katanya.
Dari total lahan terdampak tersebut, sekitar 597,11 hektare merupakan lahan tanaman padi. Sementara lahan padi yang telah dinyatakan puso mencapai 149,95 hektare. “Pusonya ini ya sudah karena kekeringan, kemudian sudah berhenti, tidak bisa diselamatkan lagi. Ada 149,95 hektare lahan padi yang puso,” ungkap Heru.
Menurut Heru, pemerintah telah melakukan langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan. Upaya tersebut dilakukan sejak 2025 hingga awal 2026, termasuk melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di Jatim.
Jatim menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu lumbung pangan nasional, terutama untuk komoditas padi. “Kemudian barusan kira-kira bulan Agustus 2026 kemarin Pak Menteri Pertanian juga hadir di Jawa Timur dengan hal-hal yang sama. Karena Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan terutama untuk padi,” katanya.
Untuk mengantisipasi bertambahnya lahan puso, Pemprov Jatim juga menyiapkan dukungan benih melalui P-APBD 2026 yang disiapkan untuk lahan hingga 1.000 hektare. “Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare,” tutur Heru.
Ia berharap datangnya hujan pada Oktober dapat menahan laju kerusakan lahan pertanian sehingga luas tanaman padi yang mengalami puso tidak melonjak signifikan. “Kalau sampai September ini baru 149,95 hektare, maka Oktober sudah ada air, kira-kira naiknya tidak terlalu banyak,” pungkasnya.
