potret aktivitas Kelana Race di Kampung Kayutangan (dok. Pribadi/Adifa Muhammad Rafli)
Kelana Race tak sekadar menyajikan kompetisi adu cepat memecahkan teka-teki. Event ini juga membuka ruang interaksi sosial yang hangat. Sepanjang rute eksplorasi, peserta diajak melintasi teras rumah warga hingga singgah ke spot industri kreatif di sekitar dan di dalam kampung. Aktivitas ini secara alami meruntuhkan jarak antara wisatawan dan masyarakat lokal yang bermukim di kawasan heritage tersebut.
Kebalatuna juga sengaja merancang pos-pos aktivitas yang melibatkan pegiat ekonomi kreatif lokal. Mereka mencoba menawarkan paket edukasi sejarah dan pemberdayaan ekonomi lokal yang dikemas beriringan lewat kegiatan menyenangkan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa mengenal sejarah dan warisan kota tidak harus terasa kaku atau membosankan. Lewat kolaborasi ini, pegiat ekonomi kreatif di Kota Malang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian utama dari pengalaman berwisata para peserta," cerita Nana lebih dalam.
Kolaborasi paling kental terlihat dari pemilihan pos aktivitas. Tempat-tempat, seperti Toko Meru, Cafe Bougenville, Kios Mera, dan Pengyu Kopitiam yang berada di dalam dan sekitar Kampung Kayutangan sengaja dipilih sebagai pos Kelana Race. Tak sekadar punya lanskap yang pas untuk alur kegiatan, Kelana Race memilih tempat-tempat ini karena masing-masing memiliki keunikan tersendiri untuk ditawarkan ke wisatawan.
Di luar titik pos, Kebalatuna juga berkolaborasi mengajak pelaku industri kreatif lokal untuk terlibat aktif di dalam aktivasi tantangan permainan atau sekadar bekal konsumsi bagi para peserta. Misalnya, ada Daritanah Studio yang menyediakan produk concrete ashtray dan Candle Ann lewat produk air freshener sebagai perangkat permainan. Lalu,, ada Hondje dan Niwa Coffee Garden juga dilibatkan untuk memberi bekal minuman para peserta. Kemudian, kaus kaki lucu yang dipersembahkan La Ollie pun turut hadir sebagai buah tangan peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan.
"Kami juga mengajak teman-teman pelaku industri kreatif di kegiatan ini agar wisatawan juga makin aware kalau ini, lho, Malang juga punya banyak produk lokal yang bisa bersaing," kata Nana.
Bagi para peserta yang terlibat, menyusuri gang-gang sempit Kampoeng Heritage Kayoetangan melalui arena permainan interaktif ini menciptakan perspektif yang sepenuhnya berbeda jika dibandingkan dengan kunjungan wisata konvensional. Rasa lelah setelah berlari dan memecahkan petunjuk seolah terbayar tuntas ketika mereka berhasil menyingkap teka-teki serta keunikan lokal yang selama ini mungkin luput dari perhatian para pelesir biasa.
"Biasanya kalau ke Kayutangan cuma nongkrong di kedai kopi atau foto-foto di depan bangunan tua tanpa benar-benar tahu ceritanya. Tapi, lewat Kelana Race, kami dipaksa membaca tiap rincian petunjuk, bertanya pada warga lokal, dan akhirnya merasa punya keterikatan emosional yang lebih dalam dengan kawasan ini," cerita Marius, salah satu peserta yang menyelesaikan permainan hingga garis finis.