Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serunya Susur Kampung Kayutangan Lebih Interaktif ala Kelana Race

Kota Malang
Serunya Susur Kampung Kayutangan Lebih Interaktif ala Kelana Race
potret wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan (dok. Pribadi/Valentino Nathaniel)
Intinya Sih
  • Komunitas Kebalatuna menggelar Kelana Race di Kampoeng Heritage Kayoetangan, Malang, berupa wisata jalan kaki interaktif dengan teka-teki, petunjuk tersembunyi, dan interaksi bersama warga.
  • Kegiatan ini menggabungkan eksplorasi sejarah kawasan dengan permainan serta kolaborasi pelaku ekonomi kreatif lokal, melalui pos seperti Toko Meru, Cafe Bougenville, Kios Mera, dan Pengyu Kopitiam.
  • Peserta mendapat pengalaman berbeda dari wisata konvensional karena menelusuri detail kampung dan memahami cerita lokal; Kebalatuna berencana memperluas area serta keterlibatan peserta dan pegiat kreatif di Malang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Malang, IDN Times - Dua peserta tampak terengah-engah di depan sebuah rumah berarsitektur kolonial di area gang sempit Kampoeng Heritage Kayoetangan, Jumat (31/8/2026) sore. Kertas petunjuk mulai lecek di genggaman tangan. Mata mereka gesit menyisir tiap detail petunjuk mencari kode tersembunyi. Suasana riuh seketika pecah saat salah satu dari mereka berteriak, "Ketemu!", lalu melesat menuju lorong berikutnya.

Keseruan itu adalah bagian dari Kelana Race, event walking tourism yang diinisiasi oleh komunitas Kebalatuna asal Kota Batu. Di tengah meningkatnya minat masyarakat urban terhadap pelesiran kota yang terjangkau dan tak menyita banyak waktu, Kebalatuna mencoba menyulap sudut-sudut bersejarah Kota Malang menjadi lanskap petualangan yang interaktif.

Cara segar bikin wisata kota jadi lebih seru

potret wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan
potret wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan (dok. Pribadi/Adifa Muhammad Rafli)

Sore itu, Kampung Kayutangan tak sekadar menjadi tempat lalu lalang warga atau spot foto santai turis-turis. Para peserta Kelana Race menyebar ke berbagai sudut kawasan. Mereka berlomba memecahkan teka-teki dari petunjuk yang diberikan. Untuk bisa lolos ke pos berikutnya, kecepatan kaki saja tidak cukup karena peserta dituntut mengamati detail petunjuk, spot favorit di Kayutangan, hingga tak jarang berinteraksi langsung dengan penduduk setempat untuk mendapatkan kunci jawaban.

Keseruan ini adalah upaya komunitas Kebalatuna memoles potensi wisata di Kampung Kayutangan menjadi lebih fun dan imersif. Mereka mengaku idenya terinspirasi dari salah satu program televisi lawas. Konsep yang dihadirkan oleh program tersebut mereka adaptasi untuk menyuguhkan konsep baru walking tourism.

"Idenya dari salah satu teman yang sempat menonton program reality show di televisi. Lalu, kami melihat lanskap Kampung Kayutangan sangat cocok untuk meluncurkan aktivasi kegiatan serupa," cerita Nana, anggota komunitas Kebalatuna.

Aktivitas ini memang terbilang segar. Sambil menyelesaikan misi dan tantangan, peserta yang terlibat juga berinteraksi langsung dengan titik-titik pos aktivitas. Selain itu, sambil berkeliling mencari petunjuk mereka juga mengamati lebih detail tiap lekuk yang ditawarkan Kampung Kayutangan.

Bermain, berwisata, dan berkolaborasi

potret aktivitas Kelana Race di Kampung Kayutangan.jpg
potret aktivitas Kelana Race di Kampung Kayutangan (dok. Pribadi/Adifa Muhammad Rafli)

Kelana Race tak sekadar menyajikan kompetisi adu cepat memecahkan teka-teki. Event ini juga membuka ruang interaksi sosial yang hangat. Sepanjang rute eksplorasi, peserta diajak melintasi teras rumah warga hingga singgah ke spot industri kreatif di sekitar dan di dalam kampung. Aktivitas ini secara alami meruntuhkan jarak antara wisatawan dan masyarakat lokal yang bermukim di kawasan heritage tersebut.

Kebalatuna juga sengaja merancang pos-pos aktivitas yang melibatkan pegiat ekonomi kreatif lokal. Mereka mencoba menawarkan paket edukasi sejarah dan pemberdayaan ekonomi lokal yang dikemas beriringan lewat kegiatan menyenangkan.

"Kami ingin menunjukkan bahwa mengenal sejarah dan warisan kota tidak harus terasa kaku atau membosankan. Lewat kolaborasi ini, pegiat ekonomi kreatif di Kota Malang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian utama dari pengalaman berwisata para peserta," cerita Nana lebih dalam.

Kolaborasi paling kental terlihat dari pemilihan pos aktivitas. Tempat-tempat, seperti Toko Meru, Cafe Bougenville, Kios Mera, dan Pengyu Kopitiam yang berada di dalam dan sekitar Kampung Kayutangan sengaja dipilih sebagai pos Kelana Race. Tak sekadar punya lanskap yang pas untuk alur kegiatan, Kelana Race memilih tempat-tempat ini karena masing-masing memiliki keunikan tersendiri untuk ditawarkan ke wisatawan.

Di luar titik pos, Kebalatuna juga berkolaborasi mengajak pelaku industri kreatif lokal untuk terlibat aktif di dalam aktivasi tantangan permainan atau sekadar bekal konsumsi bagi para peserta. Misalnya, ada Daritanah Studio yang menyediakan produk concrete ashtray dan Candle Ann lewat produk air freshener sebagai perangkat permainan. Lalu,, ada Hondje dan Niwa Coffee Garden juga dilibatkan untuk memberi bekal minuman para peserta. Kemudian, kaus kaki lucu yang dipersembahkan La Ollie pun turut hadir sebagai buah tangan peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan.

"Kami juga mengajak teman-teman pelaku industri kreatif di kegiatan ini agar wisatawan juga makin aware kalau ini, lho, Malang juga punya banyak produk lokal yang bisa bersaing," kata Nana.

Bagi para peserta yang terlibat, menyusuri gang-gang sempit Kampoeng Heritage Kayoetangan melalui arena permainan interaktif ini menciptakan perspektif yang sepenuhnya berbeda jika dibandingkan dengan kunjungan wisata konvensional. Rasa lelah setelah berlari dan memecahkan petunjuk seolah terbayar tuntas ketika mereka berhasil menyingkap teka-teki serta keunikan lokal yang selama ini mungkin luput dari perhatian para pelesir biasa.

"Biasanya kalau ke Kayutangan cuma nongkrong di kedai kopi atau foto-foto di depan bangunan tua tanpa benar-benar tahu ceritanya. Tapi, lewat Kelana Race, kami dipaksa membaca tiap rincian petunjuk, bertanya pada warga lokal, dan akhirnya merasa punya keterikatan emosional yang lebih dalam dengan kawasan ini," cerita Marius, salah satu peserta yang menyelesaikan permainan hingga garis finis.

Ingin melibatkan lebih banyak titik pos dan pegiat kreatif Malang untuk mendorong potensi wisata urban

potret wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan
potret wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan (dok. Pribadi/Valentino Nathaniel)

Aktivitas walking tourism yang diusung Kebalatuna ini menjadi penawar bahwa rekreasi masyarakat perkotaan tidak harus selalu identik dengan kunjungan ke pusat perbelanjaan atau destinasi alam yang jauh dan mahal. Cara mereka mengemas ruang publik menjadi arena petualangan interaktif adalah upaya menggeser peran wisatawan dari sekadar konsumen pasif menjadi penjelajah aktif. Pendekatan semacam ini punya potensi lebih efektif untuk menjembatani generasi muda dengan narasi sejarah yang kerap dianggap kaku jika hanya disampaikan melalui buku teks atau kisah heroik.

Ke depannya, Kebalatuna berencana untuk terus menjaga konsistensi gerakan ini dengan mengeksplorasi titik-titik kawasan wisata lainnya di Malang Raya sekaligus memperluas jaringan kolaborasi dengan berbagai elemen industri kreatif lokal. Model pariwisata berbasis komunitas yang mengintegrasikan aspek edukasi, permainan, dan pemberdayaan pegiat kreatif ini harapannya turut memberikan kontribusi bagi pengembangan potensi wisata urban yang berkelanjutan di kota-kota lain.

"Tentu kami ingin memiliki lebih banyak peserta dan pegiat kreatif untuk terlibat. Berikutnya kami juga sangat ingin memperluas area aktivitas tidak hanya di Kampung Kayutangan, tapi ke titik-titik seru lainnya di Malang," pungkas Nana.

Kelana Race bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat menyentuh garis finis atau membawa pulang buah tangan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sebuah kota selalu menyimpan ribuan cerita tersembunyi yang menanti ditelusuri. Cara terbaik untuk menemukan cerita-cerita tersebut adalah dengan memperlambat tempo, melangkahkan kaki, serta menyapa langsung ruang dan manusia yang ada di dalamnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More