Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hutan Kera Nepa di Sampang, Sejarah Pulau Madura Bermula
Kawanan kera di Hutan Kera Nepa (sampangkab.co.id)
  • Hutan Kera Nepa di Sampang, Madura, dikenal sebagai destinasi wisata alam dengan hutan mangrove rindang, pantai pasir putih bersih, dan habitat ratusan kera ekor panjang yang hidup bebas.
  • Tempat ini menyimpan legenda Raden Segoro dan Dewi Bendoro Gung yang diyakini menjadi asal mula nama “Nepa” serta kisah kerajaan kera penjaga petilasan sang tokoh.
  • Wisatawan dapat menikmati suasana sejuk hutan, berinteraksi dengan kera, hingga melihat pantai tanpa tiket masuk—cukup membayar parkir sekitar Rp5 ribu di area pemukiman sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pulau Madura sebagai kawasan maritim dan agraris di sebelah timur Pulau Jawa memiliki banyak sekali destinasi alam yang menarik. Berbagai wisata alam itu selain menjadi tujuan berlibur sekaligus juga menyimpan cerita-cerita bersejarah. Salah satunya adalah Hutan Kera Nepa, wisata alam hutan mangrove dan pantai pasir putih yang menjadi habitat asli kawanan kera di Sampang, Madura.

Hutan Kera Nepa tepatnya berada di Desa Batioh Kecamatan Banyuates Kabupaten Sampang. Jaraknya sekitar 50 KM dari pusat kota Sampang. Selain memiliki keindahan alam yang menawan dengan adanya hutan mangrove yang sejuk, pantai pasir putih yang bersih, dan juga ratusan ekor kera yang berkeliaran bebas, Hutan Kera Nepa juga menyimpan sisi historis sejarah Pulau Madura.

1. Cerita Kerajaan Kera dan Pembabat Pertama Pulau Madura

Gerbang masuk ke area Hutan Kera Nepa, Kabupaten Sampang, Madura (commons.wikipedia.org)

Keberadaan Hutan Kera Nepa tidak bisa terlepas dari cerita mengenai sosok Raden Segoro yang beredar di masyarakat. Raden Segoro adalah anak dari Dewi Bendoro Gung, anak Prabu Gilingwesi yang memimpin kerajaan Medang Kamulan di Jawa. Namun, hingga suatu hari Prabu Gilingwesi marah karena mendapati putrinya yang belum menikah ternyata sudah hamil tanpa diketahui siapa pelakunya.

Prabu Gilingwesi kemudian menyuruh patih Pragulang untuk membunuh Dewi Bendoro Gung, yang ternyata tidak direstui oleh alam semesta. Dewi Bendoro Gung kemudian dinaikkan perahu rakit oleh Pragulang dan sampai di Gunung Geger di Pulau Madura.

Nama ‘nepa’ sendiri berasal dari tanaman nipah, atau semacam palem, yang digunakan Raden Segoro dan Dewi Bendoro Gung untuk membangun tempat tinggal di pesisir pantai. Setelah cukup besar, Raden Segoro bertemu dengan Prabu Gilingwesi yang merupakan kakeknya, dan dimintai bantuan untuk melawan invasi tentara Cina. Kenyataan bahwa Raden Segoro merupakan anak dari Dewi Bendoro yang hamil secara misterius membuat sang putri prabu memilih moksa di Hutan Nepa, dan dijaga oleh kawanan kera yang konon merupakan para pasukan kerajaan kera Raden Segoro.

2. Hutan Bakau yang Rindang, Pantai Pasir Putih, dan Ratusan Kera Berkeliaran

Kawasan Hutan Kera Nepa (Disbudpar Provinsi Jawa Timur)

Hutan Kera Nepa menjadi destinasi yang menawarkan keindahan alam masih segar. Lokasinya yang merupakan hutan di pesisir pantai utara di Kabupaten Sampang ini memiliki luas sekitar 4 hektar. Nama nepa sendiri, sebagaimana yang telah disebutkan, berasal dari tumbuhan nipah atau sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut air laut.

Pengunjung bisa menikmati suasana hutan mangrove yang rindang dan sangat luas. Sebagai hutan alami, beberapa pokok pohon mangrove yang telah mati seringkali digunakan para wisatawan sebagai tempat bersantai, swafoto, atau sekedar duduk. Selain itu, pengunjung juga akan bertemu kawanan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang ada sekitar 500 ekor di sini. Para pengunjung juga bisa memberi makan kawanan kera, namun disarankan untuk tetap berhati-hati.

Area Hutan Nepa ini juga bersebelahan dengan pantai pasir putih yang bersih. Ketika siang atau sore, semilir angin yang lumayan kencang dan juga deburan ombak yang tidak terlalu besar menambah suasana pesisir yang asik. Meskipun di siang hari, suasana berwisata di Hutan Kera Nepa masih terasa begitu sejuk karena hutannya yang begitu rindang dan juga area pantai yang selalu menerima hembusan angin laut.

3. Liburan di Hutan Kera Nepa

Pantai utara Madura (commons.wikipedia.org)

Bagi yang ingin berlibur ke Madura, Hutan Kera Nepa bisa menjadi destinasi wisata alam yang menarik bersama keluarga. Selain menikmati suasana segar di alam terbuka, pengunjung juga bisa berinteraksi dengan kawanan kera yang ada di hutan mangrove. Lokasinya yang berada di bagian utara Pulau Madura sangat mudah untuk diakses baik dengan mobil maupun roda dua. Kamu bisa belok ke Jalan Batioh yang terletak sebelum Jembatan Nepa untuk menuju lokasi.

Untuk saat ini, area wisata tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya perlu membayar retribusi parkir sekitar Rp5 ribu saja. Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa memarkirkan kendaraan yang disediakan oleh warga di pemukiman sekitar, lalu berjalan sekitar 100 meter ke area hutan. 

Pengunjung bisa memulai perjalanan dengan menyusuri hutan mangrove untuk bertemu kawanan kera yang berkeliaran bebas, mengunjungi petilasan Raden Segoro, lalu ditutup dengan menikmati pemandangan laut di pantai. Meskipun belakangan Hutan Kera Nepa menjadi destinasi wisata yang terabaikan, namun suasana yang tidak ramai oleh pelancong bisa menambah keseruan momen liburanmu di Madura.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team