Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[Wansus] Blak-blakan Wawali Surabaya Armuji Bicara Konten hingga Hubungan dengan Eri
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji saat wawancara khusus (Wansus) dengan IDN Times. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Wakil Wali Kota Surabaya Armuji memanfaatkan media sosial dan Rumah Aspirasi untuk menerima, menindaklanjuti, serta mempublikasikan penyelesaian aduan warga.

  • Armuji menyebut kontennya dikelola tanpa konsultan politik, dimonetisasi untuk membiayai mahasiswa magang, dan kerap melibatkan kreator muda tanpa bayaran.

  • Ia menilai relasi kepala daerah dan wakil di Indonesia umumnya tidak sinkron, serta mendorong DPRD lebih berani mengkritisi pemerintah secara konstruktif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji atau yang akrab disapa Cak Ji dikenal sebagai sosok yang aktif turun langsung ke masyarakat untuk hadir dan membantu menyelesaikan masalah. Lewat kekuatan media sosialnya, ia mengadvokasi warga.

Setiap hari Selasa, ia membuka layanan pengaduan masyarakat bernama Rumah Aspirasi yang berada di rumah dinas Jalan Walikota Mustajab, Surabaya. Puluhan hingga ratusan orang datang ke rumah tersebut untuk meminta bantuan.

Saat ini, jumlah pengikut konten media sosialnya mencapai jutaan orang. Di TikTok saja, ia memiliki pengikut hingga 1,9 juta akun, belum lagi di Instagram, YouTube bahkan Threads. Jumlah penontonnya pernah tembus hingga 44 juta untuk satu konten video.

IDN Times secara khusus mewawancarai Armuji pada Senin (5/10/2026) untuk mengulik caranya bekerja mengadvokasi warga menggunakan kekuatan media sosial.

Anda kan sering blusukan ke beberapa wilayah di Surabaya. Apa yang melandasi Anda untuk selalu melakukan sidak dan filosofi kepemimpinan seperti apa yang dilakukan dalam pendekatan-pendekatan langsung kepada masyarakat ?

Saya ini cuma wakil wali kota tidak punya kepentingan. Kalau wong Jawa ngomong Wakil iku awak karo sikil, ndase nang ya wali kota (Wakil itu badan dan kaki. kepalanya ya wali kota). Kita tidak bisa memutuskan suatu kebijakan. Makanya saya mempunyai inovasi gagasan tersendiri. Wis aku tak membantu warga daripada saya makan gaji buta.

Kayak dulu-dulu, sebelum ada zamannya media sosial, kita kalau gak baik dengan media-media konvensional, kan enggak mungkin dimuat. (Adanya media soaial) Kita enggak akan terbuang. Tapi dengan adanya media sosial, ini sangat terbantukan.

Karena ini (media sosial) adalah laporan kinerja kita kepada warga, kepada masyarakat. Bahwa kerjanya wakil walikota itu adalah membantu masyarakat, laporan apa saja yang datang ke sini selalu saya tindak lanjut. Tindak lanjutnya apa laporannya, Ya kita muat di media sosial. Sekarang tergantung masyarakat. Terbantu enggak dengan saya melakukan seperti itu.

Kalau masyarakat ini merasa terbantu, berarti tiap hari Selasa tamu kita tambah lama tambah banyak. Orang yang ingin melapor, apa saja laporannya, kita terima dengan baik. Itu saja.

Anda cukup aktif di media sosial, kontennya viral ke mana-mana. Dalam memanfaatkan konten di media sosial dan menyerap aspirasi warga ini seberapa efektif media sosial ini membantu kinerja birokrasi?

Sangat efektif. Sangat efektif. Kalau saya, saya jujur ya. Anggaran adventorial itu anggaran siapa ? Anggaran kepala daerah. Kepala daerah bupati walikota. Bupati, wakil, walikota, kan, seperti itu. Apa aku tahu dikei ?, Enggak tahu. Dan saya tidak pernah protes. Saya cukup dengan media sosial saya. Begitu viral, akeh sing upload, akeh sing repost, akeh sing seneng.

Itu bukti bahwa kita itu benar-benar organik dan tidak dalam pencitraan diri.

Aku sidak gak didamping lurah ya gak papa. Gak didamping camat gak papa. Untung aku duwe media sosial. gak duwe lak tambah jembuk (terpuruk).

Apakah advokasi yang anda lakukan melalui media sosial cukup efektif, mengingat anda tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan karena anda adalah seorang wakil bukan wali kota ?

(Media sosial) ngefek, karena membantu masyarakat langsung, tak selesaino. Lewat media sosial.

Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. (IDN Times/Khusnul Hasana)

Apakah anda memiliki konsultan politik sehingga bisa memanfaatkan media sosial dengan sangat baik ?

Gak ada (konsultan) Awak dewe iku wong arsitek. Jadi tahu. Oh, misale ono laporan warga. Aku pasti tahu, tak sidak mesti viral. Benar saya feeling, oh ini kalau seperti ini, berarti nanti ini yang disukai warga. Sebelum (konten) di-upload, diasistensi ke saya. "Oh, iki hapus ojo, iki sara enggak boleh." Aku sing ngoreksi dewe. Tak koreksi-koreksi dewe. Dan aku disomasi wong ping piro ae, suruh take down enggak mau. Ada tiga kali disomasi.

kalau klaririfikasi, ayok tak muat datang ke sini, fair, kalau take down saya gak mau

Lalu bagaimana anda kemudian bisa berkolaborasi dengan konten kreator anak-anak muda ?

Mereka senang dengan konten saya. Mau diajak kolaborasi, gak bayar.

Apakah akun media sosial anda di-monetesasi? Lalu dipergunakan untuk apa uang tersebut ?

Iya (di-monetasasi). Uangnya saya gunakan untuk membiayai kuliah anak-anak magang di sini. Dari saya dilantik ada sekitar 50 anak yang sudah magang di sini.

20 tahun anda berpengalam duduk di kursi parlemen DPRD Surabaya dan satu tahun di DPRD Jatim, seperti apa keseimbangan antara legislatif dan eksekutif, bagaimana pengalaman legislatif membantu warga ini dalam mengeksekusi kebijakan di jajaran eksekutif saat ini ?

Iya, jadi ya mohon maaf ya, DPRD sekarang ini kan kurang, gak kayak zaman-zaman saya dulu. Kurang ada suatu keberanian, keberanian untuk mengkritisi. Dia itu kan lembaga kontrol. Ya kontrol lah pemerintah. Saya dikontrol boleh senang saya. Jangan anti kritik.

Nah, seolah-olah DPRD sekarang ini gak seperti itu. Kalau hal semacam itu tidak dilakukan tidak ada keseimbangan. Pemerintah akan terjadi hal yang kurang, yang penting konstruktif dalam melakukan suatu kritikan nan begitu.

Karena saya merasa bahwa menolong masyarakat itu adalah orang yang benar-benar tertinggal, orang yang tidak punya kemampuan, orang yang tidak punya uang. Kita mumpung punya suatu kesempatan duduk di lembaga eksekutif maupun di lembaga legislatif. Ya itu yang harus kita pergunakan sebagai amanah sesuai dengan sumpah janji kita.

Eri-Armuji usai pelantikan di Jakarta. (Dok. Diskominfo Kota Surabaya)

Seperti apa sinergi kepemimpinan anda dengan Wali Kota Eri Cahyadi dalam memimpin Kota Surabaya ?

Sinerginya kalau saya ngomong jujur. Sak Indonesia. Namanya kepala daerah. Baik, Bupati, Walikota. Wis gak ono sing sinkron, gak ada yang sinkron. Sak Indonesia gak ono sing sinkron.

Karena apalagi kalau mereka baru satu periode. Ya terus-terang aja kalau baru satu periode. Khawatir wakilnya itu nyalip mereka, kan begitu. Ya kita ngomong blak-blakan kalau saya ngomong blak-blakan aja ya. Kan karena saya sebagai ketua ASWAKADA, Ketua asosiasi wakil kepala daerah seluruh Indonesia. Baik wakil bupati maupun wakil walikota. Sambatane sama semua seperti itu.

Anda kan bilang di pemerintahan sebagai wakil, sementara di partai politik yakni DPC PDIP, Anda adalah ketua, tadi disinggung bahwa DPRD sekarang tidak sama seperti dulu yang sering melakukan sidak, Anda bisa menginstruksikan fraksi, apa sudah melakukan hal itu ?

Yo anggotaku tak wara tak instruksino, kon iku harus tanggap. Saiki kan akeh pemberitaan, ada kesulitan Desil misalnya, iki kan sebenarnya DPRD tanggap, tapi gak ono sing action arek-arek. Karena gak ada DPRD yang tanggap yo wes aku turun dewe ae.

Politik banteng di Pemerintahan Surabaya mendominasi, duet anda dan Eri Cahyadi juga demikian bahkan sampai dua periode, mungkinkah wali kota selanjutnya adalah kader sendiri ?

Yo mboh, yo ndelok ae engkok. Kari lihat aja.

Boleh dibocorkan, kenapa pada akhirnya anda dipilih partai mendampingi Eri Cahyadi ?

Ya karena saya memiliki loyalitas yang sangat tinggi. Gak ono ceritane kepala daerah wani nyambangi pak Sekjen (Hasto Kristiyanto) waktu dipenjara, ping pitu aku setiap sidang, tak gawe konten, itu lah bentuk loyalitas kader yang benar-benar. Keloyalan itu di situ, begitu ada temannya di pesakitan, mereka mau hadir mereka mau suport, itu loyalitas.

Anda kan senior di partai, tetapi kenapa anda mau dipasangkan dengan Eri Cahyadi dan menjadi wakil, apa pertimbangannya ?

Karena suaraku paling akeh, karena sudah perintah partai, yo’opo meneng. Gak iso nolak, kita jalani saja. Kalau buat saya di manapun, gak ada masalah, yang penting, kita punya inovasi, punya keberanian, niatnya untuk masyarakat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article