Gaya Soekarno berpidato kian lama melampaui gurunya. Gerak tangan dan tubuhnya saat Soekarno berpidato adalah cerminan Tjokro. Tapi, ia memberikan permainan intonasi nada. Tidak seperti Tjokro yang cenderung datar kendati tegas dan garang.
Satu malam, Tjokto meminta Sukarno untuk hadir di suatu pertemuan. Soekarno memanfaatkan momen tersebut untuk mengasah bakat pidatonya. Ia memulainya dengan suara pelan, "Negeri kita, saudara, adalah tanah yang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat ke dalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan menjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakyat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban yang harus dipikul sehari‐hari.”
Semuanya terhipnotis. Ketika Soekarno bertanya, mereka pasti menjawab. Kala Soekarno meninggikan suaranya, para hadirin kian terbakar api nasionalisme. “Mereka memandang kepadaku seperti memuja, mata terbuka lebar, muka terangkat ke atas, meneguk semua kata‐kataku dengan penuh kepercayan dan harapan. Nampak jelas, bahwa aku menjadi pembicara yang ulung. Ia berada dalam urat nadiku,” papar Soekarno.
Soekarno juga menulis artikel untuk majalah "Oetoesan Hindia", surat kabar yang dipimpin oleh Tjokro. Dia menggunakan nama samaran Bima yang berarti prajurit besar. Ia menghitung lebih dari 500 karangan yang ia torehkan.
Pada 22 Februari 1921, Tjokro dirundung duka akibat kehilangan istrinya. Tjokro terpukul. Dia kehilangan sosok yang selama ini selalu mendukungnya dalam suka maupun duka. Atas saran dari adik Tjokro, Poerwadi Tjokrosoedirdjo, Soekarno akhirnya mau menikahi Netty Oetari. Alangkah senangnya Tjokro mendengar kabar tersebut.
"Tjokro tentu sangat senang. Bukan karena Soekarno yang pintar dan menjadi anak didiknya. Tapi karena dia percaya kelak Sukarno akan menjadi orang yang selama ini diramalkan," sambung Adrian.
Setelah lulus dari HBS, Soekarno bersama Oetari bertolak ke Bandung. Baru tiga bulan di sana, Soekarno mendengar kabar bila mertuanya ditangkap Belanda karena dianggap melanggar Undang-Undang Larangan Pemogokan.
Dia segera kembali ke Surabaya seorang diri. Oetari dititipkan kepada Inggit Garnasih, ibu kos yang kelak menjadi istri Sukarno. Di Surabaya, ia bekerja sebagai klerk di stasiun kereta api dengan penghasilan Rp165 per bulan. Uang hasil keringatnya ia gunakan untuk mengurus anak-anak Tjokro yang terlantar. Soekarno bahkan mengurus sunat adik iparnya.
Hubungan Soekarno dengan Oetari tidak berlangsung lama. Sukarno menceraikan Oetari karena dia lebih melihatnya sebagai seorang adik, alih-alih istri. Sowkarno bahkan mengaku belum pernah menyentuhnya. Dia kemudian mengembalikan sang putri kepada ayahnya.