Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) bergerak cepat mengantisipasi tekanan harga telur ayam ras di tingkat peternak yang sempat terpuruk hingga kisaran Rp20.000-Rp20.500 per kilogram.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, pihaknya berkoordnasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), Bappenas, pemerintah kabupaten/kota, serta organisasi peternak. Pemprov Jatim mendorong penguatan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan skema pembelian langsung dari koperasi peternak.
Emil menambahkan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen yang sebelumnya telah disampaikan Pemprov Jatim kepada BGN terkait perlindungan harga telur di tingkat peternak.
"Kami menyampaikan bahwa jika harga telur berada di kisaran Rp20.000 sampai Rp20.500 per kilogram, maka peternak ayam petelur pasti mengalami kerugian. Karena itu, sesuai arahan Ibu Gubernur dan Kepala BGN, hari ini dilakukan pertemuan bersama asosiasi koperasi peternak ayam petelur, Pinsar, dan berbagai organisasi peternak lainnya untuk mencari solusi bersama," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Emil, persoalan harga telur tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama di setiap daerah. Beberapa wilayah seperti Magetan telah berhasil menjalankan pola penyerapan lokal, sementara daerah sentra produksi seperti Blitar membutuhkan dukungan pasar yang lebih luas.
"Blitar tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyerap kebutuhan daerahnya sendiri karena merupakan sentra produksi telur nasional. Karena itu harus disambungkan dengan daerah lain yang masih membutuhkan pasokan telur," katanya.
Dari hasil pemetaan yang dilakukan, Pemprov Jatim menemukan sejumlah daerah yang kebutuhan telurnya belum mampu dipenuhi peternak lokal. Salah satunya Kabupaten Nganjuk yang masih memerlukan pasokan tambahan dari daerah lain. Skema ini dinilai mampu membuka jalur distribusi baru bagi telur asal Blitar dan sentra produksi lainnya.
"Sudah ada komitmen bersama agar harga di tingkat peternak dapat diupayakan berada pada kisaran Rp24.000 per kilogram sehingga peternak memperoleh harga yang lebih layak," tambahnya.
Emil menjelaskan, salah satu persoalan yang sebelumnya ditemukan adalah telur untuk kebutuhan dapur MBG memang telah dibeli dengan harga yang baik, namun pembelian tidak dilakukan langsung dari peternak. Akibatnya, peternak tetap menerima harga rendah meskipun harga jual ke dapur MBG mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram.
"Karena itu yang kami dorong adalah pembelian dilakukan langsung melalui koperasi peternak. Dengan begitu manfaat ekonomi dari program MBG benar-benar dirasakan oleh peternak rakyat," tegasnya.
Selain optimalisasi MBG, Pemprov Jatim juga membuka peluang penguatan pasar melalui pembelian kolektif oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Model ini sebelumnya telah diterapkan di Kabupaten Magetan dan dinilai mampu membantu memperkuat permintaan sekaligus memangkas rantai distribusi.
"Kami mendorong agar inisiatif seperti di Magetan dapat dicoba di daerah lain. ASN bisa membeli langsung melalui koperasi peternak sehingga manfaatnya langsung kembali kepada para peternak," kata Emil.
Langkah intervensi tersebut dilakukan di tengah tekanan harga telur yang sempat terjadi pasca-Lebaran. Sebelumnya, peternak mengeluhkan melimpahnya stok akibat peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan hari raya dan program MBG yang tidak diikuti peningkatan penyerapan sesuai proyeksi.
Kondisi tersebut menyebabkan harga telur di tingkat peternak sempat turun hingga Rp21.500-Rp22.500 per kilogram, jauh di bawah harga keekonomian produksi. Bahkan sebagian peternak mengaku mengalami kerugian hingga sekitar Rp5.000 per kilogram akibat tingginya biaya pakan dan operasional.
Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per 6 Juni 2026 pukul 08.00 WIB, harga rata-rata telur ayam ras di tingkat konsumen tercatat sebesar Rp26.420 per kilogram. Harga tertinggi berada di Kota Malang sebesar Rp30.000 per kilogram, sedangkan harga terendah tercatat di Kabupaten Magetan sebesar Rp25.333 per kilogram.
