Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Muktamar NU, Gus Yahya Soroti Potensi Ricuh: Perbanyak Layar Besar
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat sowan di Tambakberas. Dok. PBNU
  • Gus Yahya menyoroti potensi kericuhan Muktamar ke-35 NU di Jombang dan meminta tiap ruang sidang dilengkapi layar besar untuk memantau jalannya forum.
  • Ia menekankan disiplin penggunaan mikrofon, dengan peserta hanya boleh memegang mic setelah dipersilakan pimpinan sidang, demi menjaga ketertiban persidangan.
  • Muktamar NU berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, membahas agenda strategis organisasi termasuk arah kepemimpinan PBNU.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jombang, IDN Times – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti potensi kericuhan dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sejumlah langkah teknis disiapkan untuk memastikan jalannya persidangan tetap tertib.

Gus Yahya menyampaikan hal itu saat meninjau langsung kesiapan arena Muktamar NU, Rabu (26/8/2026), sehari sebelum pembukaan forum tertinggi organisasi tersebut.

Dalam peninjauan venue, Gus Yahya meminta setiap ruang persidangan dilengkapi layar besar. Menurutnya, keberadaan layar tersebut penting agar jalannya persidangan dapat dipantau secara terbuka, termasuk ketika terjadi kericuhan.

“Saya kira di setiap venue persidangan perlu ada layar besar yang bisa meninjau keberlangsungan persidangan, agar kelihatan baris mana yang ricuh, kelompok mana yang rusuh,” ujarnya.

Sorotan terhadap potensi ricuh ini menjadi perhatian serius mengingat Muktamar NU akan mempertemukan ratusan kepengurusan dari berbagai daerah dalam forum yang diwarnai dinamika organisasi, termasuk pembahasan kepemimpinan PBNU.

Selain pengawasan visual, Gus Yahya menekankan pentingnya pengaturan penggunaan mikrofon selama persidangan. Ia meminta tidak ada peserta yang mengambil alih mikrofon tanpa izin pimpinan sidang.

“Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disepakati Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdullah Rozaq, yang turut mendampingi peninjauan kesiapan arena Muktamar.

Sebelum mengecek sejumlah venue, Gus Yahya terlebih dahulu sowan ke Ndalem Kasepuhan KH A. Wahab Chasbullah yang kini ditempati KH Abdullah Rozaq. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat sekaligus membahas kesiapan teknis pelaksanaan Muktamar.

Gus Yahya juga menyinggung dinamika Muktamar dengan gaya khasnya. Ia bahkan menceritakan pengalamannya saat berziarah ke makam pendiri NU KH A. Wahab Chasbullah.

“Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur ke Mbah Wahab,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengungkap adanya pesan dari seorang peziarah asal Pati yang menitipkan nama KH Abdul Ghaffar Rozin sebagai figur jalan tengah jika terjadi kericuhan dalam dinamika Muktamar.

“Pernah ada orang Pati tiba-tiba berbisik, titip Gus Rozin untuk jalan tengah kalau rusuh. Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh,” kelakar Gus Yahya.

Meski disampaikan dengan nada bercanda, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa potensi ketegangan dalam forum Muktamar menjadi salah satu hal yang diperhitungkan panitia dan pimpinan PBNU.

Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026. Forum tersebut akan menjadi ruang bagi para muktamirin untuk membahas berbagai agenda strategis organisasi, termasuk arah kepemimpinan NU ke depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article