Kesehatan Mental Santri Jadi Atensi Dosen FK Unusa, Ada Apa?

Surabaya, IDN Times - Pondok pesantren (ponpes) menjadi salah satu lembaga pendidikan yang digandrungi di Indonesia khususnya Jawa Timur (Jatim). Jumlahnya di Jatim pun tembus lebih dari 7.000 ponpes. Nah, salah satu ponpes tertua itu ialah Ponpes Zainul Hasan di Genggong, Probolinggo.
Namun di balik itu semua, kini muncul sejumlah persoalan di ponpes. Di balik padatnya kegiatan belajar dan tuntutan hidup berasrama, kesehatan mental menjadi isu yang semakin perlu diperhatikan, khususnya bagi remaja yang sedang melalui masa perkembangan.
Laporan UNICEF dalam The State of World's Children 2021 menyebutkan bahwa satu dari lima remaja mengalami gejala depresi atau kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari. Di lingkungan pesantren, risiko ini meningkat karena padatnya interaksi, kurangnya privasi, dan rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental.
Melalui pendekatan self-awareness atau kesadaran diri, para santri di Ponpes Zainul Hasan mulai diperkenalkan dengan emosi, kekuatan, serta keterbatasan diri mereka. Kesadaran diri membantu mereka untuk lebih tangguh dalam menghadapi tekanan hidup serta mendorong keberanian untuk mencari bantuan saat dibutuhkan.
Dukungan ini diperkuat dengan adanya program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang mengadakan penyuluhan tentang kesehatan mental di pesantren tersebut. Lewat ceramah interaktif dan kuisioner, pretest serta posttest.
"Pogram ini mengukur peningkatan pemahaman santri mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan pengelolaan emosi," ujar Dosen Fakultas Kedokteran Unusa, dr. Paramita Sari, Rabu (30/10/2024).
“Setelah penyuluhan, santi mengaku jadi lebih sadar bahwa mengenali diri sendiri itu penting, terutama saat menghadapi masalah. Mereka jadi tahu pentingnya meminta bantuan jika merasa tidak baik-baik saja," tambah Mita.
Hasil penyuluhan ini, kata Mita, memperlihatkan adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya self-awareness sebagai langkah awal mencegah gangguan mental. Dengan keterampilan ini, para santri diharapkan mampu menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental.
"Sehingga siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan," pungkasnya.


















