Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)
Kondisi itu, lanjut Khofifah, terus dibenahi oleh Pemprov Jatim melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19. Hasilnya, dia menyebut sekarang telah ada 43 laboratorium dan mobil PCR yang siap mengetes spesimen swab. Berdasarkan data pemprov, rinciannya ada 43 mesin PCR dan 22 TCM yang mampu menguji 2.500-3.000 spesimen tiap harinya.
"Ini sangat membantu tracing diikuti testing, testing diikuti tracing. Ini terus kami lakukan secara masif sampai hari ini," ucapnya.
Tes masif itu perlahan mengungkap jumlah rata-rata kasus positif atau positivity rate di Jatim. Khofifah mengatakan mencapai 18 persen. Angka ini masih jauh dari standar organisasi kesehatan dunia (WHO) yang mematok batas ambang ideal 5 persen. Namun, Khofifah menjelaskan kalau tingginya positivity rate dipengaruhi tes massal.
"Jadi begini, positivity rate ini dari berapa yang di-swab. Bahwa, akan berbeda swab di Jatim dengan provinsi lain. Maka tingkat rapid test Jatim tinggi sekali. Tingkat rapid test di Jawa Timur 700 (ribu) lebih. Saya ingin menyampaikan kalau mereka di-rapid reaktif, mereka di-swab. Atau mereka yang sudah PDP, mereka di-swab," jelasnya.
Dia menambahkan, 1 dari 52 penduduk di Jatim telah dites COVID-19 dengan rapid test. Sedangkan yang telah dites swab ialah 1 dari 341 penduduk di Jatim. "Jadi kalau di-rapid nonreaktif, ya sudah tidak di-swab," tambahnya.