Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) menggelontorkan 341 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk memperkuat mekanisasi pertanian sekaligus mendongkrak produksi pangan.
Bantuan yang terdiri atas 231 unit alsintan prapanen dan 110 unit alsintan pascapanen itu diarahkan untuk mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi produksi, hingga menekan kehilangan hasil panen. Penyaluran ini menjadi bagian dari memperkuat ketahanan pangan dan mendukung target swasembada pangan nasional.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, mekanisasi pertanian menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional petani. Pemanfaatan teknologi modern diharapkan membuat pengolahan lahan hingga proses pascapanen berlangsung lebih cepat dan efisien.
"Upaya ini merupakan komitmen berkelanjutan Pemprov Jatim dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Mekanisasi modern bukan hanya mempercepat proses tanam dan panen, melainkan juga mendongkrak produktivitas serta efisiensi biaya operasional petani," ujarnya.
Khofifah menargetkan dukungan mekanisasi dan ketersediaan air tersebut mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP). Dari yang semula rata-rata dua kali tanam dalam setahun, diharapkan meningkat menjadi tiga kali tanam.
"Melalui intervensi teknologi ini, kami menargetkan indeks pertanaman di Kabupaten Blitar meningkat dari rata-rata dua kali tanam setahun menjadi tiga kali tanam," katanya.
Menurut Khofifah, bantuan pompa air juga menjadi instrumen penting untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama menjelang musim kemarau. Optimalisasi sumber air dan pemanfaatan pompa diharapkan membantu petani menjaga keberlanjutan masa tanam di tengah tantangan perubahan cuaca.
Selain itu, Pemprov Jatim bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak September. Upaya tersebut akan terus dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan air dan menjaga produktivitas pertanian.
"Selain langkah teknis, sejak September kami sudah lakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bekerja sama dengan BMKG. Dan bulan ini, OMC akan terus dimaksimalkan," terangnya.
Penguatan mekanisasi menjadi relevan di tengah besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap produksi pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Oktober 2026, potensi produksi padi Jatim selama Januari-November 2026 mencapai 10.240.964 ton gabah kering giling (GKG).
Angka tersebut meningkat 2,84 persen atau 283.131 ton dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat sebesar 9.957.833 ton GKG. Capaian itu menempatkan Jatim sebagai provinsi produsen padi terbesar di Indonesia, mengungguli Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sejalan dengan peningkatan produksi padi, produksi beras Jatim juga tumbuh 2,84 persen menjadi 5.913.339 ton. Khofifah menegaskan, peningkatan produksi pangan membutuhkan dukungan yang terintegrasi, mulai dari teknologi pertanian, ketersediaan air, mekanisasi, hingga akses pasar bagi petani.
"Penguatan ekosistem pertanian harus dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan produksi tidak cukup bertumpu pada perluasan lahan semata, tetapi menuntut dukungan teknologi, ketersediaan air, mekanisasi, hingga jaminan akses pasar," pungkasnya.
