Surabaya, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengungkap penyebab utama kerusakan armada pengangkut sampah bukan semata karena usia kendaraan, melainkan kelalaian pengemudi dalam melakukan pengecekan rutin. Akibatnya, sejumlah truk mengalami kerusakan berat hingga harus menjalani overhaul.
Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup DLH Surabaya, Wasis Sutikno, mengatakan saat ini Surabaya memiliki sekitar 170 armada pengangkut sampah dengan kondisi yang bervariasi, mulai dari kendaraan baru hingga unit lama. Secara umum, mayoritas armada masih layak dioperasikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 104 unit terdiri atas truk compactor dan arm roll difokuskan untuk mengangkut sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) menuju tempat pemrosesan akhir. Sementara sekitar 60-70 unit dump truck digunakan untuk kegiatan kerja bakti, penanganan sampah liar, hingga pengangkutan sampah hayati.
"Sebagian besar armada masih beroperasi dengan baik. Yang menjadi perhatian kami adalah menjaga agar kondisinya tetap prima melalui perawatan rutin," ujar Wasis, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, kerusakan berat umumnya dipicu faktor human error. Beberapa pengemudi dinilai kurang disiplin melakukan pemeriksaan dasar kendaraan, seperti mengecek oli mesin maupun air radiator sebelum beroperasi.
"Kerusakan parah biasanya terjadi karena kelalaian sopir yang tidak mengecek oli atau radiator. Jika sudah sampai overhaul, proses perbaikannya tentu memakan waktu lebih lama," katanya.
Selain itu, tingginya intensitas pelayanan membuat jadwal servis berkala kerap tertunda. Pengemudi lebih memilih tetap mengoperasikan kendaraan untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan sampah maupun merespons aduan masyarakat melalui layanan hotline.
Akibatnya, armada yang seharusnya menjalani perawatan tetap dipaksakan beroperasi hingga akhirnya mengalami kerusakan lebih serius.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DLH Surabaya mulai melakukan peremajaan sarana pendukung secara bertahap setelah anggaran perawatan sempat terdampak refocusing saat pandemik COVID-19.
Tahun ini, DLH telah menambah enam unit kontainer baru untuk mengganti kontainer TPS yang mengalami kerusakan berat atau berlubang. Selain itu, tim teknis internal juga rutin memperbaiki sekitar 10 kontainer rusak setiap hari dengan mengganti pelat besi yang keropos.
Ke depan, Wasis menegaskan pihaknya akan memperketat kedisiplinan pengemudi dalam menjalankan jadwal perawatan berkala sesuai standar Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Menurutnya, armada yang telah memasuki jadwal servis harus dihentikan sementara agar kerusakan tidak semakin parah.
"Harapan kami, kalau sudah waktunya servis ya harus off sementara untuk perbaikan. Lebih baik berhenti sebentar agar kondisi kendaraan tetap fit daripada dipaksakan hingga rusak berat dan waktu perbaikannya jauh lebih lama," pungkasnya.
