Hardiknas: Potret SMPK Garuda Magetan, Belajar di Tengah Keterbatasan

Magetan, IDN Times - Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia setiap tahunnya. Pada momentum Hardiknas tahun 2024 ini IDN Times mengajak untuk mengenal sekolah swasta pinggiran di Kabupaten Magetan Jawa Timur yang pernah berjaya di tahun 80-an. Sekolah itu adalah Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Garuda yang berada di Kelurahan Parang, Kecamatan Parang. Berdiri sejak tahun 1957 atau 67 tahun silam, sekolah itu kini masih eksis dan turut serta mencerdaskan anak bangsa.
1. SMPK Garuda pernah berjaya di tahun 80 hingga 90-an

Gunarti (54), Kepala Sekolah SMPK Garuda yang telah mengabdi selama 26 tahun mengatakan jika SMPK Garuda pernah jadi rujukan para siswa yang tidak tertampung di sekolah-sekolah negeri. Jumlah siswanya pun kala itu luar biasa.
"Dulu saya juga bersekolah di sini sebelum akhirnya menjadi guru dan kepala sekolah SMPK Garuda ini. Muridnya dulu banyak karena jumlah sekolah baru sedikit ya," kata Gunarti saat ditemui IDN Time di sekolah. Namun, seiring dengan menjamurnya sekolah sekolah negeri maupun swasta lainnya, sekolah ini mulai ditinggalkan. Bahkan, pernah tercatat tidak mendapatkan murid sama sekali.
Apalagi sekolah berbasis Katolik ini berdiri di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. "Padahal sekolah ini tidak begitu, SMPK bebas siswa yang bergam apa saja boleh sekolah. Bagi yang agamannya Islam akan memperoleh pendidikan agama Islam sesuai haknya," ungkap Gunarti.
2. Siswa-siswi sekolah ini didatangkan dari NTT

Tidak ingin sekolah ini tutup, Gunarti bersama delapan guru dan pengurus lainnya pun memutar otak. Apalagi, mereka melihat belum meratanya pendidikan di Indonesia Timur, terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka pun kemudian mendatangkan siswa dari NTT.
"Banyak anak-anak kita di Indonesia Timur yang putus sekolah, hanya sampai tingkat SD kemudian tidak melanjutkan sekolah. Berkat bantuan semua pihak mereka kita ajak agar terus bisa bersekolah di sini," terangnya.
Tahun ini, kata dia, ada tiga kelas dengan jumlah murid sebanyak 21 yang semuanya berasal dari NTT. Meraka diberikan asrama, peralatan belajar, hingga makan minum.
"Untuk operasional kita andalkan BOS dan donatur ya. Meski jumlahnya tidak cukup, tetapi tidak apalah. Yang penting ketulusan kami dalam ikut serta mencerdaskan anak bangsa," ucapnya.
Ditanya lebih lanjut, seberapa peran serta pemerintah daerah dalam mengakomodir kepentingan sekolah dalam proses belajar mengajar ia engan membeberkannya. Gunarti hanya menjawab minim bahkan tidak ada sama sekali.
"Kami berharap pada moment Hardiknas ini mendapat perhatian dari pemerintah. Kepentingan anak-anak agar proses belajar mengajar lancar saja. Kami berharap difasilitasi anak-anak di Indonesia Timur bisa tetep terus bisa bersekolah," pungkasnya.
3. Pengakuan siswa SMPK Garuda

Meski dengan segala keterbatasan, siswa yang bersekolah di sana mengaku bersyukur. Andai tak mendapat kesempatan bersekolah di Magetan, mereka kemungkinan hanya akan membantu orangtua di kebun dan peternakan di kampungya.
"Kami senang bisa kembali bersekolah. Bila tidak ada SMPK ini yang mau menampung kami bersekolah kami hanya lulus SD saja. Paling membantu orang tua di ladang dan peternakan kuda di kampung. Setalah itu menikah," kata Alda yang bercita-cita menjadi guru.
Meski jauh dari orang tua, mereka mengaku tidak apa-apa. Keinginan belajar membuatnya bertahan hingga nanti lulus dan dapat melanjutkan pendidikan hingga kuliah.
"Kangen pasti dengan orangtua, saya sudah dua tahun tidak pulang. Nanti setalah kami selesaikan sekolah kami baru akan pulang," pungkasnya.
Terakhir para siswa siswi di hari Pendidikan Nasional berharap pemerataan pendidikan di Indonesia Timur diperhatikan dan menjadi prioritas.


















