Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
H-2 Masuk Sekolah, Penjahit Seragam di Ngawi Lembur Kejar 700 Pesanan
Suasana usaha jahit seragam sekolah di Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi jelang masuk sekolah. IDN Times/Riyanto.
  • Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, usaha jahit Delima di Ngawi kebanjiran pesanan hingga 700 stel seragam dari berbagai jenjang sekolah.

  • Karena sulit mencari penjahit tambahan, Solikin dan tujuh karyawannya memilih lembur setiap hari untuk menuntaskan pesanan sebelum sekolah dimulai.

  • Musim masuk sekolah juga membuat toko perlengkapan belajar di Ngawi ramai pembeli, dengan omzet usaha jahit dan toko alat tulis naik hingga tiga kali lipat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ngawi, IDN Times – Dua hari menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, suasana di sebuah usaha jahit seragam sekolah di Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi, tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Tumpukan seragam memenuhi ruang kerja, sementara suara mesin jahit terus berdengung sejak pagi hingga malam.

Pemilik usaha jahit Delima, Solikin (54), bersama tujuh karyawannya harus bekerja lembur demi menuntaskan ratusan pesanan yang harus selesai sebelum siswa kembali masuk sekolah pada Senin (13/7/2026). Total pesanan yang diterima musim ini mencapai sekitar 700 stel seragam, mulai tingkat SD, SMP hingga SMA.

"Jelang tahun ajaran baru ini lumayan ramai. Rata-rata pelanggan membawa empat sampai lima stel seragam, mulai SD, SMP hingga SMA," ujar Solikin, Sabtu (11/7/2026).

1. Kebanjiran pesanan hingga 700 stel seragam

Suasana usaha jahit seragam sekolah di Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi jelang masuk sekolah. IDN Times/Riyanto.

Momentum tahun ajaran baru menjadi musim panen bagi para penjahit. Solikin mengaku menerima sekitar 700 stel pesanan dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian besar pelanggan datang untuk menjahit seragam baru sekaligus dalam jumlah banyak. Setiap pelanggan rata-rata membawa empat hingga lima stel seragam dengan berbagai model sesuai jenjang pendidikan anak.

2. Pilih lembur karena sulit mencari penjahit tambahan

Suasana usaha jahit seragam sekolah di Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi jelang masuk sekolah. IDN Times/Riyanto.

Meski pesanan membludak, Solikin tidak menambah tenaga kerja. Menurutnya, mencari penjahit yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan saat ini bukan perkara mudah.

Sebagai solusi, tujuh karyawan yang ada harus menambah jam kerja setiap hari. Dalam kondisi normal mereka mampu menyelesaikan sekitar 30 stel seragam per hari, dengan ongkos jahit berkisar Rp160 ribu hingga Rp180 ribu per stel, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.

3. Omzet naik tiga kali lipat jelang masuk sekolah

Toko perlengkapan sekolah di Kelurahan Ketanggi juga dipadati pembeli buku dan alat tulips. IDN Times/Riyanto.

Ramainya musim belanja sekolah tak hanya dirasakan penjahit. Toko perlemgkapan sekolah di Kelurahan Ketanggi juga dipadati warga yang membeli buku, alat tulis, hingga perlengkapan sekolah lainnya. Menurut karyawan toko, Deni Septiana, jumlah pembeli mencapai sekitar 200 orang sejak pagi hingga sore.

"Ramai sejak pagi sampai sore. Sekitar 200 orang datang membeli buku dan alat tulis," katanya.

Lonjakan permintaan tersebut membuat omzet usaha jahit maupun toko alat tulis meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Bagi para pelaku usaha, musim masuk sekolah selalu menjadi momen paling dinanti karena mampu mendongkrak pendapatan dalam waktu singkat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article