Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dolar Tembus Rp18 Ribu, Lion Malah Tambah Penerbangan Umrah
Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Lion Group menambah frekuensi penerbangan umrah dari Surabaya ke Jeddah menjadi 8–10 kali per minggu meski nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.145 per dolar AS.
  • Permintaan perjalanan umrah dari Jawa Timur tetap tinggi, termasuk tren baru dari kalangan muda yang memilih transit dan wisata sebelum melanjutkan ke Arab Saudi.
  • Untuk meredam kekhawatiran kenaikan harga tiket, Lion Group menggelar BookCabin Travel Fair 2026 di Surabaya dengan promo tiket, paket umrah, cashback, dan hadiah menarik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat tak menyurutkan optimisme bisnis perjalanan udara dan umrah. Di tengah kurs dolar yang telah menembus kisaran Rp18.145 per dolar AS, Lion Group justru menambah frekuensi penerbangan umrah dari Surabaya menuju Jeddah serta menggelar program promosi besar-besaran untuk meredam kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan biaya perjalanan.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan permintaan perjalanan umrah dari Jawa Timur (Jatim) masih sangat tinggi usai musim haji. Kondisi tersebut mendorong Lion Air menambah frekuensi penerbangan dari sebelumnya rata-rata enam hingga tujuh kali per pekan menjadi delapan hingga sepuluh kali per pekan.

"Ada yang ingin langsung rata-rata 8 sampai 10 kali penerbangan per minggu, sebelumnya rata-rata 6 sampai 7 kali. Artinya proyeksi dan tingkat minat orang umrah masih tinggi," ujarnya saat ditemui di Hotel Harris Surabaya, Senin (8/6/2026).

Penambahan frekuensi ini menarik perhatian karena dilakukan saat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya perjalanan internasional. Industri penerbangan dan umrah selama ini sangat sensitif terhadap pergerakan dolar karena sebagian besar komponen biaya, mulai dari avtur, sewa pesawat, perawatan, hingga layanan di luar negeri menggunakan mata uang dolar AS.

Meski demikian, Lion Group melihat minat masyarakat untuk bepergian, termasuk beribadah umrah, tetap kuat. Bahkan tren baru mulai terlihat, terutama dari kalangan usia muda hingga dewasa yang memilih skema perjalanan transit sambil berwisata sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi.

"Masyarakat sekarang bisa menentukan polanya sendiri secara grup. Banyak yang memilih transit dan wisata terlebih dahulu, misalnya ke Kuala Lumpur, sebelum lanjut ke Jeddah," katanya.

Di sisi lain, melonjaknya kurs dolar turut memicu kekhawatiran masyarakat terhadap harga tiket pesawat yang berpotensi semakin mahal. Menjawab kondisi tersebut, Lion Group menggelar BookCabin Travel Fair 2026 yang akan berlangsung di Surabaya pada 12-14 Juni mendatang.

Menurut Danang, pameran perjalanan itu sengaja dihadirkan sebagai upaya memberikan alternatif harga dan berbagai insentif kepada calon penumpang di tengah tingginya biaya perjalanan. "Saat ini harga tiket yang cenderung naik, solusinya apa dari Lion Group? Maka kami hadirkan BookCabin Travel Fair. Kami optimistis bisa menjadi solusi di saat keluhan mengenai harga tiket cukup tinggi," katanya.

Melalui program tersebut, Lion Group menawarkan berbagai promo tiket domestik dan internasional, paket umrah, cashback Cabin Points hingga Rp1 juta per hari, tiket gratis melalui kuis, serta sejumlah keuntungan tambahan lainnya.

Editorial Team

Related Article