Alert! Rossby dan MJO Bikin Jatim Diguyur Hujan Hingga Awal Mei

- BMKG Juanda memprediksi cuaca ekstrem di Jawa Timur akibat kombinasi gelombang Rossby dan aktivitas MJO yang memperkuat pembentukan awan hujan hingga awal Mei 2026.
- Anomali suhu muka laut dan nilai OLR negatif menunjukkan peningkatan tutupan awan serta suplai uap air, terutama di sekitar Selat Madura, yang mendukung hujan intensitas sedang hingga lebat.
- Pola angin timuran mulai dominan menandakan peralihan menuju musim kemarau, namun BMKG tetap mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi hujan petir dan cuaca ekstrem selama masa pancaroba.
Surabaya, IDN Times - Dinamika atmosfer dalam sepekan ke depan diperkirakan memicu cuaca ekstrem di Jawa Timur (Jatim). BMKG Kelas I Juanda mencatat adanya kombinasi sejumlah fenomena atmosfer global dan regional yang memperkuat potensi hujan, terutama pada periode 27 April hingga awal Mei 2026.
Prakirawan BMKG Juanda, Rendi Irawadi, menyebut salah satu faktor dominan adalah keberadaan gelombang atmosfer Equatorial Rossby yang diprediksi bertahan di wilayah Jatim hingga akhir pekan. Fenomena ini berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau aktif pada fase 2 hingga 3. Kondisi ini memperkuat proses pembentukan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan disertai petir dan angin kencang.
“Gelombang Rossby dan MJO yang aktif ini mendukung pembentukan awan hujan di Jawa Timur dalam beberapa hari ke depan,” ujar Rendi, Selasa (28/4/2026).
Dari sisi radiasi, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) menunjukkan nilai negatif di wilayah Jatim. Kondisi ini menandakan adanya peningkatan tutupan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Sementara itu, anomali suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Timur tercatat berkisar antara 1,0 hingga 1,5 derajat Celsius. Peningkatan suhu ini berpengaruh pada bertambahnya suplai uap air, terutama di wilayah Selat Madura, yang semakin mendukung pembentukan awan hujan.
Meski demikian, fenomena global seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau dalam kondisi netral dan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di Jatim.
Di sisi lain, pola angin di lapisan 3.000 kaki didominasi dari arah timur hingga timur laut dengan kecepatan 8-12 knot. Kondisi ini menandakan mulai dominannya monsun timuran yang membawa massa udara relatif lebih kering dari Benua Australia. Namun, pengaruh lokal dan dinamika atmosfer lain tetap membuat potensi hujan masih cukup tinggi.
BMKG memprediksi cuaca sepanjang pekan ini didominasi hujan petir, terutama pada Senin hingga Jumat. Sementara memasuki akhir pekan, intensitas hujan cenderung menurun menjadi hujan ringan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada masa pancaroba seperti saat ini. Selain itu, warga juga diminta mulai mengantisipasi peralihan menuju musim kemarau dengan mengelola cadangan air secara bijak.


















