Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

2,9 Juta Ton Sampah di Jatim Belum Tertangani Optimal

tumpukan sampah rumah tangga yang kurang terurus (pexels.com/Kelly)
tumpukan sampah rumah tangga yang kurang terurus (pexels.com/Kelly)
Intinya sih...
  • Jumlah sampah di Jatim mencapai 6,5 juta ton per tahun, namun baru 899 ribu ton yang berhasil dikurangi dan 2,7 juta ton yang ditangani.
  • Minimnya kesadaran masyarakat, terbatasnya infrastruktur dan teknologi, serta koordinasi antar lembaga menjadi hambatan utama dalam penanganan sampah.
  • Pemprov Jatim melaksanakan Kesepakatan Bersama dengan beberapa pemerintah daerah untuk kerja sama pengelolaan sampah regional di kawasan Gerbangkertosusilo.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Persoalan sampah masih menjadi momok yang dihadapi Jawa Timur (Jatim). Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak mengungkap bahwa pengelolaan sampah di Jatim selama 2024 menunjukkan bahwa timbulan sampah mencapai 6,5 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, pengurangan sampah baru mencapai 899 ribu ton per tahun. Sedangkan penanganan sampah mencapai 2,7 juta ton per tahun. "Artinya, hanya sekitar 3,6 juta ton per tahun sampah yang terkelola, dan sisanya 2,9 juta ton per tahun belum tertangani secara optimal,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Emil menyadari bahwa masih terdapat minimnya kesadaran masyarakat, terbatasnya infrastruktur dan teknologi, pendanaan serta investasi yang belum optimal. Hingga koordinasi antar lembaga yang belum efektif.

"Persoalan sampah ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga menyangkut perilaku, kebijakan, dan kemitraan lintas sektor. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Maka, lanjut Emil, Pemprov Jatim telah melaksanakan Kesepakatan Bersama tentang kerja sama pengelolaan sampah regional di kawasan Gerbangkertosusilo. Pemprov Jatim melibatkan pemerintah di Gresik, Mojokerto, Lamongan, Sidoarjo dan Kota Mojokerto.

Saat ini, kata Emil, Pemkab Gresik siap menjadi pilot project penanganan dan pengolahan sampah B3 Limbah Rumah tangga. Tahap awal, masyarakat harus diedukasi tentang pengolahan sampah rumah tangga yang bercampur dengan limbah B3.

Emil mencontohkan, raket nyamuk elektrik yang ketika tidak terpakai dan akan di buang terdapat potensi limbah B3 domestik yang berasal baterai. "Kita berharap masyarakat bisa aware terhadap penanganan sampah rumah tangga sehingga dapat memilah antara sampah atau limbah B3," harapnya.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengaku siap kalau ditunjuk sebagai pilot project pengelolaan sampah limbah B3 rumah tangga. Akan tetapi, pihaknya menginginkan adanya pendampingan terhadap pengelolaan limbah B3. Terlebih,Gresik banyak berdiri pabrik dan termasuk kawasan industri.

"Kami contohkan Pulau Bawean di buatkan incinerator pembakaran agar sampah tidak dibuang ke laut dan tidak mengandung Co2. Kami ingin di dampingi penanganan B3 baik rumah tangga maupun industri karena tempat kami banyak berdiri kawasan pabrik industri," tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us