Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Mei, Bulan Pilu Bagi Ayah Aktivis 98 yang Hilang Tak Pernah Kembali

Ayah Petrus Bima Anugerah, Dionysius Utomo Raharjo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Ayah Petrus Bima Anugerah, Dionysius Utomo Raharjo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Malang, IDN Tines - Wajah lelah masih tampak dari raut Dionysius Utomo Raharjo (78) warga Jalan Raden Tumenggung Suryo Gang 2, Nomor 20, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sudah 25 tahun ia mencari anaknya, Petrus Bima Anugerah yang hilang saat usianya 24 tahun.

Petrus Bima adalah salah satu aktivis dari mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang ikut menumbangkan rezim Orde Baru pada Mei 1998. Oleh karena itu, Utomo selalu merasa pilu setiap memasuki Maret dan Mei, karena mengingat Bima hilang tepat pada 31 Maret 1998.

1. Ibu Petrus Bima sempat mencegah anaknya untuk berangkat ke Jakarta 1996 untuk melakukan aksi

Foto Petrus Bima Anugerah yang hilang menjelang runtuhnya rezim Orde Baru. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Foto Petrus Bima Anugerah yang hilang menjelang runtuhnya rezim Orde Baru. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Utomo mengenang kembali ketika Petrus Bima pamit kepada dirinya dan ibunya, Genoneva Misiati, pada 1996 untuk berangkat ke Jakarta. Ia membeberkan jika Bimo berangkat ke Jakarta usai mendapat kabar kalau Budiman Sudjatmiko, yang saat itu masih menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pentolan PRD (Partai Rakyat Demokratik) ditangkap ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) pada 1996.

"Dia pamit sama ibu dan bapak, sempat dicegah sama ibu dengan bilanh 'ojok to le.' Tapi dia bilang 'sudah saatnya bu," terang Utomo saat ditemui di rumahnya pada Minggu (07/05/2023).

Ia kengenang betapa beratnya sang istri menahan kepergian Bima. Sementara dirinya tidak bisa mencegah tekad putranya, ia menghargai keputusan Bima saat itu. Utomo sendiri mengetahui anaknya aktif dalam dunia aktivisme sejak berkuliah di Surabaya.

"Waktu di Surabaya itu dibawakan majalah retorika Unair itu paling senang aku. Bapak juga sejalan dengan pemikiran Bima, jadi tahu persis garis perjuangannya," tegasnya.

Utomo saat itu juga mengatakan pada anaknya kalau jalan yang dia tempuh teramat berat. Pasalnya pria kelahiran 24 September 1973 ini akan menghadapi tembok yang tebal dan tulang baja. "Bima hanya tersenyum dan bilang paling enggak aku yang menabrak (tembok itu)," ucapnya.

2. Bima ternyata juga aktif sebagai anggota PRD yang memang bikin jengah pemerintah Orde Baru

Foto Petrus Bima Anugerah yang hilang menjelang runtuhnya rezim Orde Baru. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Foto Petrus Bima Anugerah yang hilang menjelang runtuhnya rezim Orde Baru. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Kemunculan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang berisikan para aktivis dan mahasiswa memang membuat rezim Soeharto jengah. Mereka dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab mengakomodir sejumlah demontrasi menjelang akhir pemerintahan Orde Baru.

Utomo membeberkan jika Bima memang aktif di PRD. Ia bahkan mengatakan jika putranya tersebut merupakan salah satu ujung tombak. Ia bahkan mengungkap jika Bimo mendukung referendum Timor Timur yabg kini telah menjadi negara Timor Leste.

"Pada 2016 aku diundang di Timor Leste sampai aku menerima sertifikat Bima dari Xanana Gusmao karena PRD mendukung refrendum bagi rakyat Maubere di Timor Leste. Karena PRD ada lima yakni upah buruh, diferensiasi ABRI, UU Politik, refrendum rakyat Maubere," ujarnya.

3. Tangga 31 Maret 1998, awal mimpi buruk Utomo dan keluarga dimulai

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Utomo mengungkapkan awal mula Bima mulai tidak bisa dihubungi pada 31 Maret 2023. Anak kedua dari 4 bersaudara ini tidak bisa dihubungi melalui pager karena orang tuanya ingin merayakan paskah bersama.

"Sebelum 31 Maret 1998, ibunya Bima sempat menghubungi Bima agar pulang sebelum paskah, di abilang janji pulang sebelum paskah. Kemudian mau diberikan uang saku Rp150 ribu, tapi dia tidak mau, katanya mau mandiri," paparnya.

Teman-teman Bima mengabarkan kalau mahasiswa yang juga getol mempelajari filsafat ini menghilang. Ia menghilang usai menyebarkan pamflet PPP dan Mega Bintang.

"Katanya Bima menyebarkan pamflet itu terus ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya. Namun, keberadaannya tidak diketahui setelah itu," ungkapnya.

4. Ibu Bima paling getol mencari keberadaan putranya tersebut

Ayah Petrus Bima Anugerah, Dionysius Utomo Raharjo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Ayah Petrus Bima Anugerah, Dionysius Utomo Raharjo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Utomo mengatakan jika istrinya, Genoneva Misiati, paling khawatir dengan keselamatan anaknya. Ia datang sendiri ke Jakarta setelah kabar anaknya hilang sampai di telinganya. Ibunya memiliki harapan yang sangat besar untuk menemukan di mana Bima berada.

"Sosok Bimo anak yang jujur, berbakti ke orang tua. Kalau ingat, saya enggak pernah marah ke Bimo, saya membebaskan anak itu," ujarnya sambil berkaca-kaca.

Namun, perjuangan Misiati berakhir nihil, ia tidak pernah menemukan di mana keberadaan putranya tersebut. Hingga akhirnya setelah 20 tahun mencari, ia menyerah pada usianya pada 6 Agustus 2018, Misiati meninggal pada usia 76 tahun.

5. Utomo sudah berhenti berharap anaknya akan kembali setelah peristiwa 1998

Foto saat demontrasi pada Mei 1998 di Jakarta. (Dokumen Negara)
Foto saat demontrasi pada Mei 1998 di Jakarta. (Dokumen Negara)

Utomo dengan wajah sedih mengatakan sejak awal menyikapi hilangnya Bima dengan biasa-biasa saja. Ia tidak pernah mengeluh atau menyalahkan orang lain. Pasalnya ia tahu persis risiko dari jalan yang diambil Bima.

"Saya tahu persis garis perjuangan Bimo seperti itu. Resikonya 4B disampaikan kepada bapak yaitu buru, bui, bunuh, buang targetnya," bebernya.

Utomo menyadari sangat tipis sekali anaknya akan pulang, jadi ia tidak ingin berharap terlalu tinggi. Ia menerima jima anaknya kini telah meninggal, sangat kecil kemungkinan ia selamat. Ia mendoakan anaknya berada di surga bersama ibunya.

"Kalau dia dipanggil oleh Tuhan ya sudahlah selamat jalan anakku, keyakinan saya sebagai orang kristen Katolik. Bahwa Bimo sudah dijemput oleh Tuhan Yesus sampai di surganya sana bersama ibunya yang lima tahun lalu meninggal dunia," paparnya.

6. Harapan palsu yang selalu diberikan pemerintah membuat Utomo muak

Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Ia mengatakan kalau mendapatkan kepastian nasib anaknya ada Agum Gumelar pada 2019 lalu. Agum Gumelar mengatakan melakukan video yang beredar bahwa para aktivis 98 sudah tewas. Video tersebut beredar saat menjelang Pemilihan Presiden yang dimenangkan kembali oleh Joko Widodo.

"Justru ada video Agum Gumelar, dia (Bima) sudah dihabiskan, sudah dibantai. Kasar sekali itu, tapi ini yang ngomong jenderal, enggak mungkin jenderal ini ngomong asal-asal, kita percaya," ucapnya.

Pada 2020 ia juga sempat bertemu Agum Gumelar di Kantor Staff Presiden. Tapi ia tidak mengatakan apapun soal nasib anaknya.

Kini ia menegaskan telah lelah orang-orang yang menjanjikan akan mencari keberadaan Bima. Ia mengatakan teman-teman Bima di Surabaya pernah membawa satu bendel surat-surat Bima untuk disusun, tapi nasib surat-surat itu tidak jelas seperti keberadaan Bima juga saat ini.

Namun, sedikit kepedihan Utomo sempat terobati ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengucapkan permintaan maaf terhadap keluarga korban 1998. Jokowi juga mengeluarkan Perpres Nomor 17 tahun 2022 tentang pengadilan non yudisial.

"Dalam hal ini pemerintah dalam berbagai kasus, seperti kasus Semanggi 1 dan 2, Tragedi 65. Korban dan keluarga korban akan diberi jaminan dana pemulihan," bebernya.

Terakhir, Utomo menyampaikan sangat bangga kepada Bima di manapun kini ia berada. Menurutnya Bima telah memberikan kontribusi bagi perjuangan demokrasi di Indonesia.

"Kalau tahu pidatonya di Surabaya luar biasa betul-betul pemicu pergerakan demokrasi. Di PRD dia sebagai penghubung atau kurir, konsisten dia makanya diminta ke Jakarta karena argumentasinya juga kuat," pungkas pensiunan pegawai RSJ Lawang ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us