Malang, IDN Times - Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menginformasikan bahwa fenomena embun upas atau embun beku memang mulai muncul di sejumlah lokasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Fenomena seiring mulai berlangsungnya musim kemarau dan periode yang dikenal masyarakat sebagai musim bediding. Tapi masyarakat diimbau untuk melakukan berbagai persiapan jika ingin melihat embun upas di kawasan Bromo-Tengger-Semeru.
Di Balik Keindahan Embun Upas di Gunung Bromo

1. Saat ini di kawasan Bromo-Tengger-Semeru suhu udara bisa mencapai 0 derajat celcius
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan jika embun upas memang biasa muncul ketika memasuki bediding. Ia menjelaskan kalau menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim bediding merupakan fenomena yang umum terjadi pada musim kemarau ketika tutupan awan berkurang sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga dini hari, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya.
"Di kawasan pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, penurunan suhu udara dapat berlangsung lebih ekstrem. Pada kondisi tertentu, suhu udara dapat mendekati 0 derajat Celsius, bahkan suhu permukaan tanah dapat lebih rendah sehingga memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis yang dikenal sebagai embun upas," terangnya pada Rabu (10/6/2026).
Ia menyebut kalau fenomena embun upas umumnya dapat dijumpai pada area-area terbuka yang mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari. Di kawasan Bromo, embun upas berpotensi muncul di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sementara di kawasan Semeru, fenomena ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo.
2. Fenomena embun upas berbeda dari salju
Rudijanta juga menjelaskan jika embun upas terbentuk ketika uap air yang berada di permukaan rumput, daun, pasir, maupun tanah membeku akibat suhu yang sangat rendah. Lapisan kristal es yang terbentuk sering kali membuat permukaan kawasan tampak berwarna putih sehingga kerap disalahartikan sebagai salju. Padahal, embun upas berbeda dengan salju karena terbentuk langsung di permukaan tanah dan bukan berasal dari presipitasi di atmosfer.
"Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika alam yang lazim terjadi di kawasan pegunungan tropis Indonesia pada musim kemarau. Ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang dinantikan pengunjung," jelasnya.
3. Meskipun indah, embun upas bisa berbahaya bagi wisatawan
Meskipun indah, ia mengimbau seluruh wisatawan dan pendaki untuk mempersiapkan perlengkapan yang memadai. Pasalnya suhu udara yang rendah bisa menyebabkan berbagai masalah pada tubuh manusia jika tidak melakukan persiapan yang matang.
"Wisatawan diimbau membawa jaket hangat, sarung tangan, penutup kepala, sleeping bag yang sesuai standar, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menghadapi suhu dingin ekstrem di kawasan pegunungan. Kami juga mengajak seluruh pengunjung untuk menikmati fenomena alam ini secara bijak dengan tetap menjaga kelestarian kawasan dan mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku," pungkasnya.