Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Merawat Nostalgia Tamiya 90-an Lewat Balapan Ketahanan di Surabaya
Penghobi Tamiya klasik mengikuti balapan Mini 4WD dalam ajang Classic Endurance di Pos Bloc Surabaya, Minggu (31/5/2026). (IDN Times/Putri Nailah)
  • Classic Endurance di Pos Bloc Surabaya mempertemukan komunitas Tamiya klasik dari berbagai kota Jawa Timur lewat balapan ketahanan yang menonjolkan stabilitas dan konsistensi mobil Mini 4WD.
  • Acara ini menjaga budaya Tamiya era 1990-an dengan aturan penggunaan komponen keluaran sebelum tahun 2000, namun tetap fleksibel agar pemain baru mudah bergabung.
  • Komunitas Tamiya klasik Surabaya dan Malang aktif menggelar balapan hampir setiap bulan, menjadi wadah nostalgia sekaligus menarik generasi baru untuk ikut meramaikan hobi ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Suara motor mini yang meraung di lintasan, deretan mobil Mini 4WD bergaya klasik, hingga para penghobi lintas generasi memenuhi Pos Bloc Surabaya dalam gelaran Classic Endurance, Minggu (31/5/2026). Acara ini menjadi ajang berkumpulnya komunitas Tamiya klasik dari berbagai daerah di Jawa Timur, terutama Surabaya dan Malang.

Lebih dari sekadar kompetisi, Classic Endurance menjadi ruang bagi para penghobi untuk menjaga budaya Mini 4WD klasik yang populer pada era 1990-an. Melalui format balapan ketahanan atau endurance, peserta tidak hanya dituntut mengejar kecepatan, tetapi juga kestabilan dan konsistensi mobil di lintasan.

1. Menggabungkan komunitas Tamiya klasik Surabaya dan Malang

Komunitas Tamiya klasik dari Surabaya dan Malang berkumpul dalam ajang Classic Endurance. (IDN Times/Putri Nailah)

Classic Endurance digagas oleh sejumlah pegiat komunitas Mini 4WD klasik Jawa Timur, di antaranya Superezin Workshop, Carcaged Classic Cultured, Zerocan92, AVN Mini 4WD, Dope Dash, dan Bonor Horor dari Malang.

Penyelenggara, Rezin dari Superezin Workshop, mengatakan bahwa konsep endurance dipilih karena lintasan yang digunakan lebih panjang dibandingkan lintasan balap Mini 4WD pada umumnya.

"Sebenarnya kelasnya kan kelas klasik. Di sini track-nya lumayan panjang dibandingkan track race biasa. Makanya kita nyebutnya Classic Endurance karena menggunakan kelas klasik dan track layout-nya panjang, jadi endurance-nya dari situ," ujar Rezin.

Selain kelas utama Classic Mini 4WD, acara ini juga menghadirkan Wild Series atau balapan Big Foot Mini 4WD serta RC Fun Race yang melibatkan komunitas kendaraan radio control (RC).

2. Menjaga budaya Tamiya klasik era 1990-an

Persiapan balapan Mini 4WD dalam ajang Classic Endurance. (IDN Times/Putri Nailah)

Dalam dunia Mini 4WD, kelas klasik memiliki karakter berbeda dibandingkan kelas modern yang lebih mengutamakan kecepatan dan penggunaan komponen terbaru.

Menurut Rezin, regulasi yang digunakan di Jawa Timur mengharuskan peserta menggunakan komponen yang merujuk pada produk Tamiya keluaran sebelum tahun 2000. Namun, aturan tersebut dibuat lebih fleksibel agar pemain baru lebih mudah bergabung.

"Klasik sendiri itu semua part yang digunakan keluaran Tamiya di bawah tahun 2000. Kalau di atas tahun 2000 tidak bisa dipakai. Tapi khusus di Jatim kami lebih fleksibel karena masih memperbolehkan beberapa part replika supaya pemain baru lebih mudah ikut," jelasnya.

Konsep tersebut membuat peserta tetap bisa menghadirkan model-model legendaris seperti Bigwig, Dash Emperor, Liberty Emperor, Winning Bird, hingga Avante yang populer pada masa kejayaan Tamiya di Indonesia.

3. Komunitas aktif menggelar balapan hampir setiap bulan

Peserta mengikuti balapan Bigfoot dalam ajang Classic Endurance. (IDN Times/Putri Nailah)

Meski tergolong hobi yang sudah lama hadir di Indonesia, komunitas Tamiya klasik di Jawa Timur masih aktif berkembang. Rezin memperkirakan jumlah penghobi aktif di Surabaya mencapai sekitar 20 orang, sementara di Malang lebih dari 30 orang.

"Kalau digabung mungkin ada sekitar 50-an pemain aktif di Jawa Timur yang saya tahu," katanya.

Menariknya, kegiatan balapan tidak hanya berlangsung pada event besar. Komunitas di Surabaya dan Malang rutin mengadakan pertemuan dan balapan secara bergantian hampir setiap bulan.

"Hampir sebulan sekali. Kadang di Surabaya, kadang di Malang. Jadi gantian yang mengadakan race," tambahnya.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat komunitas tetap hidup dan terus menarik anggota baru.

4. Biaya dan tantangan membangun mobil klasik

Sejumlah mobil Tamiya klasik dipamerkan dalam ajang Classic Endurance di Pos Bloc Surabaya. (IDN Times/Putri Nailah)

Di balik keseruan balapan, para peserta juga menghadapi tantangan tersendiri dalam mempersiapkan mobil. Salah satunya adalah biaya perakitan dan pencarian komponen.

Alvin, anggota komunitas Mini 4WD klasik Surabaya yang juga terlibat dalam kepanitiaan acara, mengaku baru aktif mengikuti balapan sejak awal 2026 meski telah lama mengoleksi Mini 4WD.

"Awalnya koleksi saja. Baru ikut balap mulai Januari kemarin," ujarnya.

Menurut Alvin, biaya satu unit Mini 4WD klasik dengan komponen orisinal dapat mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Nilainya bahkan bisa lebih tinggi jika menggunakan bodi langka yang menjadi incaran kolektor.

"Satu Tamiya bisa sekitar Rp700 ribu sampai Rp800 ribu kalau full ori. Bodi tertentu ada yang harganya sampai jutaan rupiah," katanya.

Selain biaya, peserta juga harus melakukan berbagai penyesuaian teknis, mulai dari pemilihan rasio gear hingga proses membubut ban agar mobil dapat melaju stabil saat melewati lintasan.

5. Membuka ruang bagi pemain baru

Pengunjung dan komunitas radio control (RC) turut meramaikan rangkaian acara Classic Endurance. (IDN Times/Putri Nailah)

Meski identik dengan nostalgia masa kecil, komunitas Tamiya klasik Jawa Timur tidak hanya diisi pemain lama. Penyelenggara menilai aturan yang lebih fleksibel berhasil menarik anggota baru untuk bergabung.

Rezin mengaku dalam beberapa bulan terakhir mulai banyak wajah baru yang ikut meramaikan kegiatan komunitas.

"Harapannya bisa memunculkan pemain-pemain baru. Dengan regulasi yang lebih mudah ini kami berharap komunitas semakin ramai dan terus berkembang," ujarnya.

Hal senada disampaikan Alvin. Menurutnya, daya tarik utama komunitas bukan hanya soal kompetisi, melainkan suasana pertemanan yang terbangun di dalamnya.

"Kalau saya tetap datang karena event-nya seru, orang-orangnya juga seru. Regulasi yang lebih fleksibel juga mempermudah orang untuk ikut main," katanya.

Di tengah maraknya hobi digital dan permainan modern, komunitas Tamiya klasik di Jawa Timur menunjukkan bahwa mobil mini yang pernah menjadi bagian masa kecil generasi 1990-an masih memiliki tempat tersendiri. Bukan hanya sebagai ajang balapan, tetapi juga sebagai ruang berbagi nostalgia dan mempererat hubungan antar komunitas lintas kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article