Tebu Ditambah Gede-gedean, Serapan Gula Masih Jadi PR

- Pemprov Jatim memperluas lahan tebu hingga 54.897 hektare dari total nasional 97.970 hektare untuk mengejar target swasembada gula konsumsi 2026 dan industri 2027.
- Gubernur Khofifah menyoroti masalah serapan gula petani yang terganggu akibat banjirnya gula rafinasi di pasar konsumsi, membuat harga dan distribusi gula lokal tersendat.
- Pemerintah berupaya mengurangi impor gula rafinasi serta memperkuat ekosistem pergulaan dari tanam hingga pemasaran agar produksi petani terlindungi dan target swasembada tercapai.
Kediri, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mulai tancap gas mengejar target swasembada gula nasional 2026 dengan memperluas lahan tebu hingga puluhan ribu hektare. Namun di balik ambisi besar tersebut, persoalan klasik serapan gula pascagiling masih menjadi ancaman serius bagi petani.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan peningkatan produksi tebu tidak akan berarti jika hasil gula petani tetap kesulitan terserap pasar akibat terganggunya sistem distribusi dan membanjirnya gula rafinasi. Hal itu disampaikan saat memimpin tanam tebu perdana program bongkar ratoon serentak di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5/2026).
“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten di 15 titik tanam,” ujar Khofifah.
Secara nasional, program pengembangan tebu 2026 ditargetkan mencapai 97.970 hektare. Dari jumlah tersebut, Jatim mendapat target terbesar yakni 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
Khofifah mengatakan target besar itu menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar swasembada gula konsumsi tahun ini dan swasembada gula industri pada 2027 mendatang.
Namun menurutnya, persoalan terbesar petani selama ini justru muncul setelah proses penggilingan selesai. Banyak hasil gula petani kesulitan terserap pasar karena pelelangan sepi pembeli.
“Bagaimana pasca penggilingan, petani tebu itu berkepastian bahwa hasil panen gulanya terserap pasar dengan harga komersial,” katanya.
Khofifah mengungkapkan salah satu penyebab terganggunya serapan gula petani adalah membanjirnya gula rafinasi yang diduga masuk ke pasar konsumsi. Kondisi itu membuat gula produksi petani Jatim sulit bersaing.
“Rupanya kebanjiran gula rafinasi sehingga gula dari Jatim tidak bisa keluar Jatim,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, persoalan tersebut menjadi ancaman serius terhadap target swasembada gula nasional. Sebab produksi petani bisa terganggu jika harga dan pasar gula tidak terlindungi.
Karena itu, pemerintah mulai mengurangi impor gula rafinasi dan menyerahkan pengelolaannya kepada BUMN agar pengawasan lebih mudah dilakukan. “Ini untuk memastikan gula rafinasi untuk industri jangan sampai merembes ke pasar. Kalau gula rafinasi merembes ke pasar sangat mengganggu gula petani tebu,” tegasnya.
Khofifah menilai program swasembada gula harus dibangun sebagai satu ekosistem utuh, mulai dari tanam, penggilingan hingga kepastian pasar bagi hasil produksi petani. Sebagai provinsi penghasil gula terbesar di Indonesia, Jatim saat ini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pada 2025 lalu, produksi gula kristal putih Jatim mencapai 1,34 juta ton atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan sektor pergulaan masih menghadapi tantangan berat mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan hingga persaingan pasar global. “Kita menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu kunci keberhasilan kita adalah inovasi dan kolaborasi,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil menyebut Jatim menjadi daerah paling strategis dalam mendukung target swasembada gula nasional. “Kediri ini punya prestasi besar, mari kita dorong supaya bisa mewujudkan swasembada gula,” katanya.
Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi menambahkan program bongkar ratoon dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas gula nasional agar target swasembada 2026 bisa tercapai. “Ini adalah ikhtiar kita semua supaya target swasembada gula bisa tercapai,” pungkasnya.


















