Magetan, IDN Times – Kesabaran warga di Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, akhirnya habis. Ratusan warga dari tiga wilayah terdampak menyegel Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah di lingkungan Wadung, Kelurahan Parang, Sabtu (6/6/2026).
Aksi penutupan paksa tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap dampak lingkungan yang selama ini mereka rasakan. Mulai dari bau busuk menyengat, serbuan lalat, hingga asap pembakaran sampah yang disebut mengganggu kesehatan warga.
Warga menilai TPS tersebut sudah tidak lagi layak beroperasi karena kapasitasnya jauh di bawah volume sampah yang masuk setiap hari. Bahkan, lokasi itu disebut menampung sampah dari sejumlah wilayah di luar Kelurahan Parang.
Tak Tahan Bau dan Asap, Ratusan Warga Magetan Segel TPS Parang

1. Warga sesak napas diduga akibat sap pembakaran
Puncak kemarahan warga terjadi setelah seorang warga dilaporkan harus menjalani perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) akibat sesak napas yang diduga dipicu asap pembakaran sampah.
Perwakilan warga, Suprapto, mengatakan pembakaran sampah selama ini dilakukan untuk mengurangi tumpukan yang semakin menggunung. Namun cara tersebut justru memunculkan persoalan baru bagi masyarakat sekitar. "Beberapa hari lalu sudah ada korban sesak napas karena asap. Baru kemarin pembakaran itu dihentikan oleh warga," kata Suprapto.
Menurutnya, warga khawatir dampak kesehatan yang lebih serius akan muncul apabila aktivitas pembakaran kembali dilakukan.
2. Tiga kampung terdampak bau menyengat dan serbuan lalat
Selain asap, keluhan terbesar warga adalah bau busuk yang terus tercium dari lokasi TPS. Kondisi tersebut dirasakan masyarakat di wilayah Wadung, Ngaglik, dan Ngunut yang berada di sekitar lokasi penampungan sampah.
Tak hanya itu, tumpukan sampah yang semakin tinggi juga memicu meningkatnya populasi lalat. Warga mengaku serangga tersebut kerap masuk ke rumah-rumah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. "Yang terdampak itu Wadung, Ngaglik, dan Ngunut. Selain menimbulkan bau, asap pembakaran juga sangat mengganggu warga," ujarnya.
Warga menilai keberadaan TPS di dekat kawasan permukiman sudah tidak sesuai lagi karena menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan masyarakat.
3. Diduga tampung sampah dari luar desa hingga limbah medis
Dalam aksi penyegelan tersebut, warga juga menyoroti kapasitas lahan TPS yang dinilai tidak memadai. Tempat yang semestinya hanya berfungsi sebagai lokasi penampungan sementara kini dipenuhi tumpukan sampah dalam jumlah besar hingga menyerupai Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Masyarakat menduga sampah yang masuk ke TPS tidak hanya berasal dari Kelurahan Parang, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain. Bahkan beredar informasi adanya limbah medis yang ikut dibuang ke lokasi tersebut.
"Yang diangkut bukan hanya dari sini, informasinya juga ada sampah medis yang masuk," ungkap Suprapto.
Selain menimbulkan bau dan asap, sampah ringan seperti plastik juga disebut sering terbawa angin hingga masuk ke aliran sungai yang berada di sekitar lokasi, sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Karena itu, warga mendesak pemerintah segera mencari lokasi pengganti yang lebih layak serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Parang.
4. Penolakan sudah muncul sejak TPS dipindah
Sementara itu, Lurah Parang, Agustin Ambarwati, membenarkan bahwa penolakan warga sebenarnya sudah muncul sejak TPS dipindahkan dari area Sirkuit Parang ke lokasi yang saat ini digunakan. Menurutnya, saat itu pemerintah belum memiliki alternatif lokasi lain sehingga TPS tetap beroperasi di tempat sekarang.
"Betul, pasca dipindah dari sirkuit ke lokasi sekarang sebenarnya sudah ada penolakan. Namun karena tidak ada lokasi lain maka bertahan di situ. Untuk selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan menunggu petunjuk terkait tuntutan warga terdampak," ujarnya.
Hingga kini, aktivitas di TPS tersebut masih dihentikan menyusul aksi penyegelan warga. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar persoalan sampah tidak terus menimbulkan ancaman bagi kesehatan dan lingkungan sekitar.