Infografis Koperasi Srikandi Kapirel. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Renovasi rumah bukan satu-satunya manfaat yang dirasakan anggota Koperasi Srikandi Kapirel. Bagi sebagian anggota, koperasi justru menjadi tempat mencari tambahan modal untuk menjaga usaha kecil mereka tetap berputar. Pinjaman anggota tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian memanfaatkannya untuk usaha, mulai dari berjualan jajanan hingga menjalankan bisnis secara daring.
“Jadi pinjaman itu mereka pakai buat nambahin modal, buat muter modal,” kata bendahara koperasi, Ika Sofi Widiyanti (37).
Kebutuhannya pun bermacam-macam. Ada anggota yang meminjam uang untuk kulakan barang dagangan. Kemudian membutuhkan tambahan modal agar usaha kecilnya (UMKM) tetap berjalan. Serta ada yang memanfaatkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak ketika memasuki tahun ajaran baru.
Pada Juni-Juli, misalnya, ada anggota yang datang kepadanya untuk meminjam uang demi membayar kebutuhan pendaftaran sekolah anak. “Mbak, aku pinjam, ya, buat daftarin anakku sekolah,” tutur Ika menirukan permintaan salah satu anggota.
Tak selalu tentang modal usaha dalam jumlah besar. Tak mesti soal ekspansi bisnis. Kadang uang pinjaman hanya dibutuhkan agar seorang pedagang bisa kembali kulakan. Atau agar sebuah keluarga bisa melewati satu kebutuhan penting tanpa harus mencari pinjaman ke tempat lain. Uang koperasi masuk ke kebutuhan yang nyata dan sehari-hari.
Kemudian, ketika usaha kembali menghasilkan atau kebutuhan telah terlewati, pinjaman dikembalikan dan dana dapat diputar lagi untuk anggota lainnya. Dengan cara seperti itu, koperasi menjadi semacam bantalan ekonomi kecil bagi warga. Tidak besar. Tetapi tersedia ketika dibutuhkan.
Bagi Wiwik Sukarsi (43), Wakil Ketua Koperasi Srikandi Kapirel, hubungan antara rumah dan usaha bahkan terlihat langsung dari bangunan tempat tinggalnya. Rumah Wiwik termasuk salah satu yang mendapatkan program renovasi.
Setelah direnovasi, manfaatnya tidak berhenti pada kenyamanan keluarga. Rumah itu juga menjadi ruang produksi. Bagian bawah rumah kini digunakan sepenuhnya untuk membuat dandang, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal keluarga. Pembagian ruang tersebut sangat penting bagi Wiwik dan suaminya.
Dandang bukan sekadar benda yang dibuat di rumah. Ia adalah sumber penghasilan. Aktivitas produksi yang sebelumnya harus berbagi ruang dengan kebutuhan rumah tangga kini memiliki tempat yang lebih jelas. Bagian bawah menjadi ruang kerja, sedangkan bagian atas menjadi ruang keluarga.
Di lantai atas, keluarga bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Sementara di bawah, suaminya dapat mengerjakan dandang. Rumah akhirnya menjalankan dua fungsi sekaligus. Sebagai tempat tinggal dan tempat mencari penghidupan. Renovasi membuat kedua fungsi tersebut dapat berjalan lebih baik.
Di tengah keterbatasan lahan Dupak Magersari, pemisahan ruang semacam itu menjadi sangat berarti. Sebab bagi banyak warga, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah juga merupakan tempat usaha. Tempat menyimpan barang dagangan. Membuat produk. Serta menerima pesanan.
Dan dalam kasus Wiwik, tempat suaminya mempertahankan pekerjaan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya. Dari lantai atas rumah itu, kehidupan keluarga berjalan. Di bawahnya, suara pekerjaan terus terdengar. Aluminium dipotong. Ditempa. Dibentuk. Kemudian dirakit menjadi dandang.
Aktivitas tersebut membawa cerita Dupak Magersari kepada sesuatu yang lebih tua daripada koperasi itu sendiri. Sebuah kerajinan yang membuat kampung yang berada di tepi rel ini dikenal sebagai Kampung Dandang.
Di kawasan ini, setidaknya masih ada tujuh rumah yang aktif memproduksi dandang hingga kini. Salah satunya Mulyadi. Dia merupakan generasi kedua perajin dandang. Ia besar di Dupak Magersari. Kini, usianya hampir 50 tahun dan telah memiliki cucu.
Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Matari, telah membuat dandang jauh sebelum Mulyadi lahir. Ketika berbicara tentang Kampung Dandang, Mulyadi tidak pernah benar-benar tahu kapan nama tersebut mulai digunakan. “Saya juga tidak tahu sejak kapan kampung ini disebut Kampung Dandang. Pastinya sejak saya belum lahir sudah disebut seperti itu,” tuturnya.
Namun, ia tahu satu hal. Dandang sudah menjadi bagian dari kehidupan kampung sejak puluhan tahun lalu. Matari bahkan telah membuat dandang sejak kakak Mulyadi yang kedua lahir. “Bapak saya, Bapak Matari, cerita kalau sudah dari lama membuat dandang. Sekarang saja umur saya sudah hampir 50 tahun dan sudah punya cucu,” kata Mulyadi.
Dahulu, pesanan dandang dari rumah Matari datang tanpa henti. Dalam sehari, ia pernah menerima pesanan hingga sekitar 30 buah. Ketika Pasar Turi masih menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Surabaya, jumlahnya bahkan bisa mencapai sekitar 50 dandang sehari.
Saat itu, dandang masih menjadi bagian penting dari dapur masyarakat. Penanak nasi elektrik belum menjadi barang yang umum digunakan. “Dulu kan belum ada mejikom, jadi semua masih pakai dandang,” kata Mulyadi.
Pesanan yang begitu banyak membuat Matari tidak mungkin bekerja sendirian. Ia mengajak sejumlah tetangga membantu proses produksi. Para tetangga kemudian belajar membuat dandang. Sebagian akhirnya membuka usaha sendiri.
Dari satu perajin, muncul perajin lainnya. Dari satu rumah produksi, tumbuh beberapa rumah produksi. Lama-kelamaan, aktivitas membuat dandang menjadi bagian dari identitas kampung. Itulah sebabnya nama Kampung Dandang bertahan hingga hari ini.
Puluhan tahun berlalu. Peralatan rumah tangga berubah. Cara orang memasak berubah. Penanak nasi elektrik semakin mudah ditemui. Tetapi di sudut Dupak Magersari, proses membuat dandang masih berlangsung dengan cara yang sebagian besar tetap manual.
Mulyadi bersama para perajin lainnya mengukur lembaran aluminium, memotongnya, menempa, membentuk, lalu merakitnya. Bagian badan dandang dibuat. Alas dipasang. Aksesoris ditambahkan. Saringan dibuat. Kemudian tutup dikerjakan sebagai bagian akhir.
Tidak semuanya dikerjakan secara berurutan. Di rumah produksi Mulyadi, ada beberapa orang yang mengerjakan bagian berbeda. “Ada empat orang, jadi mengerjakan apa saja yang belum,” jelasnya.
Di situlah pekerjaan yang tampak sederhana sebenarnya membutuhkan keterampilan. Setiap lembar aluminium harus diperlakukan dengan tepat. Salah mengukur bisa membuat ukuran tidak sesuai. Salah membentuk dapat memengaruhi hasil akhir. Dan karena dandang dibuat berdasarkan pesanan, ukuran serta kebutuhannya pun bermacam-macam. Ada dandang berkapasitas sekitar 8 kilogram. Ada yang jauh lebih besar, mencapai 30 - 50 kilogram.
Tidak hanya untuk nasi. Mereka juga membuat dandang untuk kebutuhan memasak soto, bakso, hingga mi pangsit. Yang menarik, alat-alat produksi yang digunakan juga merupakan bagian dari sejarah panjang usaha di kampung ini. Mulyadi menunjukkan sejumlah peralatan yang usianya bahkan lebih tua darinya. “Ini sama saya lebih tua alatnya,” katanya sambil tertawa.
Dahulu, ungkap Mulyadi, ayahnya memanfaatkan apa saja yang tersedia di sekitar untuk membantu proses produksi. Cara berpikir itu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Peralatan sederhana dikembangkan. Fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan.
Salah satunya adalah alat untuk membuat lubang pada saringan dandang. Dulu, proses itu dilakukan satu per satu menggunakan paku. Bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat lubang pada satu saringan, apalagi ketika pesanan mencapai puluhan dandang.
Melihat kondisi yang ada, para perajin kemudian membuat mesin pelubang sendiri. Ada pula mesin pres yang dipesan khusus sesuai kebutuhan. Bukan mesin produksi massal. Bukan juga peralatan yang tinggal dibeli di toko. Mesin dibuat agar presisi dengan ukuran dan bentuk dandang yang mereka kerjakan. “Dulu, bapak kita ini mikir, bagaimana caranya. Bisa dibayangkan dulu melubangi saringan satu per satu pakai paku,” ungkapnya.
Mereka kemudian berkonsultasi dengan Bengkel Cokro dan membuat alat sesuai kebutuhan. Berulang kali mencoba. Berulang kali memperbaiki. Sampai akhirnya menemukan bentuk yang bisa digunakan. Bagi para perajin, kemampuan bertahan bukan hanya soal mempertahankan cara lama. Mereka juga harus menemukan cara agar pekerjaan lama tetap bisa dilakukan di zaman yang berubah.
Dandang yang dibuat di Kampung Dupak Magersari ternyata tidak hanya beredar di Surabaya. Pesanannya datang dari berbagai daerah. Mulyadi bahkan baru-baru ini mengirim 100 buah dandang ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Pesanan juga datang dari Maumere.
Saat ini, ia mengerjakan puluhan dandang untuk Pasar Grosir Surabaya dan ratusan buah untuk dikirim ke luar pulau. Artinya, meskipun dandang tradisional mulai berhadapan dengan berbagai peralatan dapur modern, kebutuhan terhadap produk buatan tangan yang satu ini belum sepenuhnya hilang.
Ada pasar yang tetap bertahan. Pelanggan yang masih kembali. Dan ada daerah-daerah yang masih membutuhkan dandang untuk tradisi memasak dalam jumlah besar. Kualitas menjadi salah satu alasan yang membuat pelanggan tetap datang.
Dandang buatan Kampung Dupak Magersari ini dibuat dengan aluminium yang relatif tebal. Paling tipis sekitar 0,8 milimeter dan bisa mencapai 1 milimeter, tergantung ukuran dan permintaan. Dandang di sini diklaim dapat bertahan hingga sekitar lima tahun dengan perawatan yang baik.
Daya tahan produk, kata Mulyadi, merupakan bagian dari alasan mengapa usaha keluarganya masih memiliki pelanggan. Bukan sekadar menjual dandang. Mereka menjual barang yang dibuat dengan tangan, dengan ukuran dan ketebalan yang dapat disesuaikan.
Keberadaan perajin dandang membuat koperasi dan UMKM di Dupak Magersari memiliki cerita yang saling berkelindan. Koperasi membantu warga memiliki akses terhadap modal. Rumah menjadi tempat tinggal sekaligus ruang ekonomi. Harmonis.
Dan di antara gang-gang sempit, pekerjaan lama tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mulyadi sendiri telah menjalani pekerjaan tersebut sekitar satu dekade, meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan ayahnya. Ia bahkan memiliki alasan yang sangat sederhana untuk terus melakukannya. “Ini rumah kita,” katanya.
Kalimat itu ia lanjutkan dengan keyakinan bahwa meski rumah dan kampung mereka mungkin sederhana, masih ada sesuatu yang dapat diandalkan untuk menghidupi keluarga. Di Dupak Magersari, koperasi tumbuh dari uang yang kecil. UMKM tumbuh dari modal yang diputar. Rumah menjadi ruang usaha. Dan dandang tetap dibuat dengan tangan. Semuanya bertemu pada satu hal. Kemampuan warga untuk menghidupi diri sendiri dari apa yang mereka miliki.