Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Petani Madiun Menjerit, Pupuk Bersubsidi Tak Ada
Ilustrasi pupuk bersubsidi. (IDN Times/Riyanto)

Madiun, IDN Times - Memasuki awal musim tanam, para petani di Kabupaten Madiun Jawa Timur mengaku kelimpungan akibat jatah pupuk bersubsidi dari negara belum terdistribusikan. Akibatkan para petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk membeli pupuk non subsidi di pasaran.

1. Pupuk bersubsidi , petani terpaksa membeli pupuk non subsidi

Ilustrasi petani dengan pupuk bersubsidi . IDN Times/ Riyanto

Menurut Ketua Kelompok Tani Kelurahan Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Yudiono, sejak 2 pekan terakhir, para petani terpaksa merogoh kocek, hanya untuk membeli pupuk non subsidi dengan harga lebih dari Rp 300 ribu per sak.

"Kami terpaksa membeli non subsidi karena pupuk subsidi kosong sedang padi saatnya mupuk mas. Jadwal kedatangan pupuk bersubsidi tidak jelas, kami hingga hari ini belum dapat jatah alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah," ujar Yudiono, Rabu (10/01/2024).

Dalam hal ini negara gagal menyediakan pupuk bersubsidi bagi petani tepat waktu. 

2. Distribusi pupuk tidak tepat waktu akan berdampak pada menurunnya hasil padi

Ilustrasi pupuk bersubsidi. (IDN Times/Riyanto)

Padahal usia tanaman padi milik petani rata-rata sudah 25 hari lebih, yang seharusnya dilakukan pemupukan. Bila terlambat maka hasilnya tidak bagus. Pupuk subsidi yang dijanjikan pemerintah belum juga muncul.

"Terpaksa daripada gagal kami membeli pupuk non subsidi yang harganya 3 kali lipat lebih tinggi. Bila telat memupuk ya ngak panen kami. Pupuk bersubsidi seharusnya sudah didistribusikan sejak awal tahun 2024 ini dan dapat langsung pemupukan tepat waktu," terangnya.

"Jangan sampai kondisi ini  terus berkepanjangan selama beberapa waktu. Jika dibiarkan, maka dapat berimbas terhadap produksi padi petani," pungkas Yudho.

3. Dinas Pertanian Madiun berdalih uji coba aplikasi digital

Pupuk bersubsidi langka, petani di Kabupaten Madiun terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya mahal. IDN Times/ Riyanto

Terpisah Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Disperta Kabupaten Madiun beralih jika telatnya penyaluran pupuk akibat Pupuk Indonesia masih melakukan uji coba penggunaan sistem aplikasi digital.

"Penyaluran pupuk belum dapat didistribusikan karena terkendala peralihan aplikasi, dari T Pubers ke I Pubers," ujar Parna.

Menurutnya, peralihan aplikasi untuk mempermudah proses penebusan pupuk bersubsidi oleh petani. Sehingga menjadi lebih tepat sasaran.

"Upaya kami adalah terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur hingga ke Kementerian, supaya penyaluran pupuk bersubsidi segera dirasakan manfaatnya oleh petani,” tuturnya.

Ditambahkan Parna, jika tahun ini alokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Madiun mendapatkan pupuk jenis urea sebanyak 25.134 ton, pupuk NPK, 11.259 ton.

Editorial Team

EditorRiyanto

Related Article