Penjualan Hewan Kurban di Madiun Masih Sepi Pembeli

Madiun, IDN Times – Menjelang Hari Raya Idul Adha yang tinggal menghitung hari, geliat penjualan hewan kurban di Kabupaten Madiun, Jawa Timur masih sepi. Para pedagang hewan kurban mengaku masih sepi pembeli, padahal biasanya di waktu seperti ini permintaan sudah mulai naik.
1. Permintaan hewan kurban menurun

Wardi, peternak sapi asal Kecamatan Kare, mengungkapkan bahwa stok sapi di kandangnya masih menumpuk. Dari 40 ekor sapi yang ia siapkan, belum satu pun laku terjual dalam jumlah signifikan.
"Biasanya tahun lalu separuh sudah laku di waktu seperti ini. Sekarang masih sepi, belum tahu nanti bagaimana," ujarnya saat ditemui di Pasar Hewan Bajulan, Kecamatan Saradan, Selasa pagi (3/6/2025).
Menurut Wardi, harga sapi kurban tahun ini memang tidak naik banyak, hanya sekitar Rp 25 juta per ekor. Bahkan, harga tersebut masih bisa ditawar jika pembeli datang langsung ke kandang. Hal ini berbeda dengan tahun lalu, di mana harga sempat melonjak dari Rp 17,5 juta hingga Rp 25 juta karena tingginya permintaan.
2. Harga kambing justru turun

Nasib serupa juga dialami Agung, penjual kambing dari wilayah yang sama. Ia mengatakan bahwa penjualan kambing tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
"Dulu bisa jual sampai 50 ekor, sekarang baru 20 ekor yang laku. Harga juga turun, dari Rp 3,7 juta jadi di bawah Rp 3,5 juta," keluhnya.
Agung berharap, seperti tahun-tahun sebelumnya, minat pembeli akan meningkat mendekati hari H. Namun, hingga kini, pasar masih terasa lesu.
3. Pemeriksaan Kesehatan Hewan Diperketat

Di tengah kondisi penjualan yang belum menggembirakan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun terus memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban. Salah satu upaya dilakukan melalui pemeriksaan langsung di Pasar Hewan Bajulan.
Tim dokter hewan turun ke lapangan untuk mengecek kondisi fisik hewan secara menyeluruh dari mata, mulut, hingga gigi guna memastikan bahwa sapi dan kambing yang dijual dalam keadaan sehat dan layak untuk dikurbankan.
Kepala DKPP Kabupaten Madiun, Paryoto, menegaskan bahwa langkah ini penting untuk memberi rasa aman kepada masyarakat. "Kami ingin memastikan semua hewan kurban yang dijual bebas dari penyakit. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir," ujarnya.
Paryoto juga menambahkan bahwa pengawasan ini merupakan bentuk pencegahan menyusul kejadian tahun lalu, di mana sempat terjadi peningkatan kasus penyakit pada hewan, seperti PMK dan LSD.
"Kalau ada laporan hewan sakit, tim kami langsung turun tangan. Sejauh ini belum ditemukan gejala serius, tapi kami tetap lakukan vaksinasi dan pemantauan ketat,” jelasnya.
Meski belum ada temuan kasus penyakit menular tahun ini, DKPP akan terus melakukan vaksinasi dan pengawasan di sejumlah titik sebagai langkah antisipasi.