Jombang, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar mendorong pesantren kembali memperkuat peran ekonominya di tengah persoalan kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Cak Imin--sapaan karib Muhaimin-, mengatakan pesantren tidak hanya memiliki fungsi pendidikan dan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Majelis Pemberdayaan Indonesia di Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu MAN 4 Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Cak Imin bilang, penguatan ekonomi pesantren penting karena sejumlah pesantren masih berada di tengah kantong-kantong kemiskinan. Di sisi lain, pesantren memiliki ekosistem sosial yang memungkinkan program pemberdayaan dijalankan secara langsung kepada masyarakat.
"Pesantren, termasuk sebagai mitra pemerintah yang efektif, karena di sana ada kantong-kantong kemiskinan sekaligus ekosistem pemberdayaan yang kuat," ujanya.
Ia mengatakan tradisi kemandirian ekonomi di lingkungan pesantren sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, sejumlah pesantren telah memanfaatkan lahan produktif untuk menopang kebutuhan pendidikan dan kegiatan pesantren.
Cak Imin mencontohkan praktik yang dilakukan para pendiri pesantren seperti Mbah Hasyim dan Mbah Bisri. Menurutnya, selain menyediakan lahan untuk pendidikan dan masjid, terdapat pula lahan produktif yang hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan belajar mengajar.
Ia pun menilai potensi tersebut perlu dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern, terutama melalui penguatan manajemen dan perencanaan usaha. "Pesantren harus didukung dalam penguatan manajemen serta penyusunan prospek ekonomi," katanya.
Cak Imin juga menyoroti perubahan ekosistem ekonomi di sekitar pesantren. Menurut dia, keberadaan gerai ritel modern dan jaringan usaha berskala besar ikut mengubah pola perputaran ekonomi yang sebelumnya banyak berlangsung di lingkungan pesantren.
Padahal, kata dia, pesantren memiliki ekosistem pendidikan, sosial, dan ekonomi yang relatif lengkap. Penguatan kembali ekosistem tersebut dinilai penting agar aktivitas ekonomi di sekitar pesantren tidak hanya menjadi pasar bagi usaha dari luar.
"Untuk mengembalikan kekuatan tersebut, kita perlu memperkuat lembaga keuangan dan sistem keuangan yang sehat, termasuk pengembangan sistem keuangan syariah di lingkungan pesantren," terangnya.
Di sisi lain, Cak Imin menilai, pemberdayaan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari persoalan kemiskinan. Ia menyebut sekitar delapan persen penduduk Indonesia masih berada dalam kategori miskin, sementara sekitar 1,6 juta orang masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem.
Kondisi tersebut, menurut dia, membutuhkan langkah pemberdayaan yang mampu menciptakan pekerjaan secara cepat dan efektif. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan, tetapi juga perlu memperkuat kapasitas masyarakat agar memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.
"Kita membutuhkan peta jalan baru yang mampu menghasilkan pekerjaan efektif dan cepat sebelum dampaknya meluas," katanya.
Cak Imin juga menekankan pentingnya sistem jaminan sosial untuk melindungi masyarakat ketika menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, kecelakaan, maupun persoalan kesehatan. Menurutnya, pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial harus berjalan beriringan.
Dalam konteks kemandirian ekonomi nasional, ia mengatakan pemerintah juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Tekad Presiden Prabowo Subianto untuk membangun kemandirian Indonesia, kata Muhaimin, tidak hanya berkaitan dengan pemerintah, tetapi juga kemampuan masyarakat memperkuat ekonomi dari tingkat bawah.
"Presiden Prabowo bertekad bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri, berdiri mandiri kokoh di bidang pangan, energi, dan ekonomi," katanya.
Cak Imin menegaskan pemberdayaan masyarakat membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Pesantren, menurutnya, dapat menjadi salah satu mitra dalam menjalankan agenda tersebut karena memiliki jaringan sosial hingga ke tingkat akar rumput.
"Tidak ada jalan lain kecuali kolaborasi, bekerja sama secara nyata, bahu-membahu," pungkasnya.
