Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KH Hasan Sahal, Penjaga Tradisi Gontor hingga 1 Abad

Kab. Ponorogo
4 min read
KH Hasan Sahal, Penjaga Tradisi Gontor hingga 1 Abad
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal saat sambutan dalam perayaan 100 tahun Gontor, Sabtu (19/9/2026). Tangkapan Layar Gontor TV
  • KH Hasan Abdullah Sahal, putra pendiri Gontor KH Ahmad Sahal, menempuh pendidikan di Gontor, Universitas Islam Madinah, dan Al-Azhar sebelum mengabdi sebagai pengajar.
  • Sejak 1985, ia menjadi Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dan pada 2026 memimpin bersama KH Muhammad Akrim Mariyat setelah wafatnya KH Amal Fathullah Zarkasyi.
  • Selain mendirikan pesantren putri dan tahfidz, Kiai Hasan aktif berdakwah internasional serta menyerahkan buku dokumentasi kontribusi alumni Gontor kepada Presiden Prabowo pada peringatan seabad Gontor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ponorogo, IDN Times – Nama KH Hasan Abdullah Sahal telah ramai diperbincangkan. Setelah pidatonya pada peringatan 100 tahun atau 1 abad Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto. Kiai Hasan Sahal diketahui, menjadi bagian panjang dari perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kiai Hasan Sahal ahir di Desa Gontor, Ponorogo, 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga pendiri Gontor yang dikenal sebagai Trimurti bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. Lebih dari tujuh dekade kemudian, Kiai Hasan Sahal tetap berada di jantung kepemimpinan pesantren yang berdiri sejak 1926 tersebut.

Kiai Hasan Sahal pertama kali menempuh pendidikan dasar di Gontor dan menyelesaikannya pada 1959. Bahkan, tiga bulan sebelum menyelesaikan pendidikan dasar, ia telah diterima menjadi santri Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor.

Pendidikan KMI diselesaikannya pada 1965. Setelah itu, Hasan Abdullah Sahal melanjutkan pendidikan di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD), sekaligus mengajar di KMI selama sekitar dua setengah tahun.

Pada 1967, ia mendapat kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah. Ia kemudian mengambil spesialisasi Hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1992.

Jejak pendidikannya kemudian berjalan beriringan dengan pengabdiannya di Gontor. Menurut profil resmi Gontor, Kiai Hasan Sahal mulai menjadi salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1985. Ia ditunjuk bersama KH Shoiman Luqmanul Hakim dan KH Abdullah Syukri Zarkasyi.

Kepemimpinan tersebut merupakan fase penting setelah berakhirnya era kepemimpinan langsung Trimurti pendiri Gontor. Dalam perjalanan berikutnya, komposisi pimpinan Gontor mengalami regenerasi beberapa kali, tetapi KH Hasan Abdullah Sahal tetap menjadi salah satu figur yang berada di dalamnya.

Pada 2026, setelah wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi pada 3 Januari, laman resmi Gontor mencatat periode kepemimpinan kelima pondok tersebut dipimpin Kiai Hasan Sahal bersama Drs. KH Muhammad Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. dan jajaran kepemimpinan pondok sesuai struktur yang berlaku.

Peran Kiai Hasan Sahal juga tidak terbatas pada kampus pusat Gontor. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah, Coper, Jetis, Ponorogo, pada 1989. Tiga tahun kemudian, ia juga mendirikan dan menjadi pengasuh Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah, Nglumpang, Mlarak, Ponorogo. Di bidang akademik, ia tercatat sebagai dosen ISID sejak 1977.

Aktivitas dakwahnya juga membawanya ke berbagai negara. Profil resmi Gontor mencatat sejumlah perjalanan dakwah dan kunjungan luar negeri, antara lain ke Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Yordania, Suriah, Turki, Jerman, Prancis, Belgia, Australia, Arab Saudi, Mesir, Thailand, India, dan Pakistan.

Gaya kepemimpinan dan pesan-pesan yang disampaikannya kepada santri maupun alumni banyak berkisar pada disiplin, perjuangan, pengabdian, dan penjagaan nilai-nilai Gontor. Dalam sebuah pengarahan kepada pengajar di Gontor, misalnya, Kiai Hasan Sahal menekankan disiplin sebagai bagian penting dari kemajuan.

Pesan tersebut disampaikan dalam konteks pembinaan pengajar dan santri yang menjadi bagian dari kehidupan pendidikan pesantren.

Kepada alumni, ia juga berulang kali menekankan pentingnya membawa nilai-nilai Gontor ke tengah masyarakat. Bahkan kembali dikutip dalam kegiatan alumni Gontor sebagai dorongan agar lulusan pondok tidak berhenti pada kehidupan di dalam pesantren, tetapi mengamalkan ilmu dan nilai yang diperoleh di masyarakat.

Di luar aktivitas kelembagaan, Kiai Hasan Sahal juga dikenal melalui sejumlah karya tulis. Profil resmi Gontor mencatat beberapa karyanya, antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori', Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, serta Allamatnil Hayah (Kehidupan Mengajariku I, II, dan III).

Pada September 2026, sosoknya kembali berada dalam salah satu agenda penting Gontor. Dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada 19 September 2026, Kiai Hasan Sahal menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto.

Buku tersebut disebut sebagai dokumentasi perjalanan dan kiprah alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam kesempatan itu, Kiai Hasan Sahal menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan persembahan Gontor yang merekam kontribusi para alumninya dalam membangun dan mengabdi kepada Indonesia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More